Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Sesuatu yang Estetik


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE, RATING LIMA SAMA ULASAN BAGUS YA. SAMA AJAK TEMAN YANG LAIN BUAT BACA INI YA🌹


🌹FOLLOW IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹


Sebastian sangat antusias karena dirinya akan bertemu lagi dengan istrinya. Dengan Hans yang menyetir, Sebastian terus menatap foto foto istrinya yang terlihat begitu cantik.


"Ada informasi baru tentang Tuan Luke, Tuan."


"Apa? Dia benar benar akan menikah kali ini?"


"Katanya tidak, mereka akan melakukan pertunangan dulu. Dan itu tiga bulan lagi."


"Ah, biarkan saja. Itu masih lama. Sekarang kita pergi ke mall."


"Ada sesuatu yang ingin anda beli?" tanya Hans hendak menawarkan diri untuk membiarkan dirinya yang pergi. "Biar saya saja yang menggantikan anda."


"Kau berani menggantikanku menemui istriku?"


"Astaga, bukan itu maksud saya, Tuan. Maaf, saya tidak tahu anda akan bertemu dengan istri anda."


Sebastian tidak mempedulikan ucapan Hans lagi. Begitu dia sampai di mall, Sebastian turun dari mobil dan menuju Gramedia tempat istrinya sedang membeli buku.


Saat sampai di sana, Sebastian melihat istrinya sedang berbincang bincang dengan seseorang yang Sebastian kenali wajahnya, itu orang yang menyukai istrinya.


Namun, melihat Nana menjawabnya dengan seadaanya dan wajah jutek. Itu membuat Sebastian bangga, karena dirinya yang hanya bisa dekat dengan istrinya.


"Mas?" tanya Nana kaget melihat Sebastian yang ada di luar toko. "Udah lama jadi SPG? Berdiri terus di sini."


Sebastian terkekeh, dia merangkul istrinya dan memberi isyarat pada Eve untuk kembali lebih dulu dengan Hans.

__ADS_1


"Mau belanja?" tanya Sebastian.


"Masih banyak kan di rumah."


"Oh iya, tadi beli buku apa aja?"


Nana mulai mengatakan judul judul buku yang dibelinya.


"Wow," gumam Sebastian kagum.


Tangannya terus merangkul istrinya sambil berjalan. "Kenapa?" tanya Nana.


"Untuk pemula itu sangat hebat, Sayang. Isinya tulisan semua, kau tau bukan?"


Nana mengangguk. "Memangnya ssharusnya seperti apa?"


"Tidak, hanya saja tulisan yang banyak akan membuatmu mengantuk lebih cepat."


"Awas aja kalau enggak."


🌹🌹🌹


Pada akhirnya, mereka memilih makan malam diluar karena Sebastian ingin menikmati suasana di luar.


Sebenarnya Nana agak malas makan di luar, dia lebih senang menghabiskan waktunya di rumahnya yang megah dan bersenang senang bersama sang suami.


Saat menunggu pesanan datang, Nana bertanya, "Mas suka makan di luar?"


"Gimana suasana sih. Kenapa emangnya?"


Nana memikirkan kalimatnya lebih dulu sebelum berkata, "Aku mau masakin makanan buat kamu di rumah."

__ADS_1


Sebastian tersenyum. "Ini cuma kebetulan lagi di luar. Kalau nanti ya mau di rumah aja sama kamu," ucap Sebastian memegang tangan istrinya.


"Kata Eve ada bioskop di rumah kita?"


"Iya, kamu udah nonton?"


"Gak paham, gak tau juha letaknya di mana."


"Mau tour rumah? Sekalian ajak ayah kamu, Yank. Biar dia liat kalau anaknya udah kayak putri raja di hati aku."


"Aku males kalau ketemu sama Ibu sama Lia."


"Gak usah ajak mereka."


"Terus?"


"Aku nyewa perawata lah."


"Tapi ayah gak tegaan, pasti ajak mereka."


"Ya gak papa, nanti aku temenin kalau ayah kamu mau diajak ke rumah kita."


Saat Nana hendak menjawab, perutnya berbunyu kencang hingga menarik perhatian beberapa pengunjung. Yang mana membuat Nana melepaskan genggaman tangannya pada Sebastian dan memegang perutnya. "Malu gak, Mas?"


"Enggak kok. Bunyinya estetik."


Nana menggeleng tidak percaya, dengan wajahnya yang datar dia bergumam, "Cinta bikin gak waras."


🌹🌹🌹🌹


To be Continue

__ADS_1


__ADS_2