Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Menanti Kelahiran


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. I LOVE YOU.🌹


“Nyonya, ada kiriman lainnya datang,” ucap Eve saat Nana sedang berbenah di rumah barunya yang ditinggali bersama dengan Sebastian.


“Dari siapa?”


“Tuan Luke.”


“Tolong masukan saja ke kamarku, Eve,” ucap Nana yang sedang sibuk memajang foto foto di nakas.


“Tapi itu adalah mobil, Nyonya.”


“Astaga, apa sahabat Sebastian memang sekaya itu?” gumam Nana mengingat sebelumnya David juga mengirimkan mobil untuk hadiah kelahiran bayi pertama mereka. Ini adalah bulan kelahirannya. “Kenapa mereka mengirim mobil? Apa mereka berharap bayi ini menjadi pembalap begitu dia dewasa?”


Eve hanya menahan tawa mendengar hal itu. Nana memang meminta Sebastian untuk pindah karena ingin bertetangga. Kini Nana berada di sebuah perumahan yang dipilihnya, masih di Washington DC.


Dan bukan tanpa alasan Nana memilih tempat ini, dia senang bertetangga dengan Jenni. Perumahan di sini sangatlah bagus, memiliki fasilitas yang lengkap dan tentunya memiliki tetangga yang baik dengan lingkungan yang ramah.


Mungkin hanya sekolah yang berada agak jauh karena kawasan ini sudah penuh dengan perumahan sehingga tidak cukup untuk membangun sekolah. Hanya ada pra-school untuk anak anak dibawah enam tahun.


Suara ketukan dari pintu yang terbuka mengalihkan pandangan Nana.


“Jenni, kau cuti?”


“Ya, aku meminta cuti pada suamimu, Nana. Ingin aku bantu?” tanya Jenni.


Memang keduanya sudah sangat akrab sejak kejadian dimana dirinya salah sangka.


“Karina sekolah?”


“Iya, bus baru menjemputnya beberapa menit yang lalu,” ucap Jenni membantu Nana menata buku buku di rak. “Sebastian meminta menanyakan ini padamu.”


“Menanyakan apa?”


“Dia ingin membeli unit perumahan yang ada di samping rumah ini, lalu menyatukannya supaya menjadi besar.”


“Oh Tuhan,” gumam Nana. “Aku pindah dari rumah lama karena terlalu besar dan terlalu ramai, aku suka suasana rumah kecil ini. cocok untuk keluarga kecilku bukan?”


“Hanya untuk berjaga jaga karena Sebastian bilang dia ingin memiliki banyak anak denganmu, jadi aku pikir lebih baik membelinya. Tidak usah dibangun dulu, cukup sewakan itu.”

__ADS_1


Nana berfikir sejenak.


“Bagaimana kalau berfikir sambil minum matcha?” tawar Jenni.


“Ide yang bagus, kau yang akan membuatnya?”


“Tentu saja.”


Ya, mereka menjadi sahabat yang sangat akrab. Membuat keduanya saling bertukar pikiran satu sama lainnya.


“Umur Karina berapa?”


“Sama dengan umur adikmu.”


“Ah…., Michael?”


Jenni mengangguk, dia memberikan matcha pada Nana dan membantu perempuan itu untuk bangkit dan duduk di sofa. “Jangan duduk di lantai, biarkan aku yang membereskannya. Tidak ada pelayan lagi yang begitu banyak?”


“Aku rasa aku bisa menangani semuanya sendiri nanti, aku tidak mau di rumah sekecil ini banyak umat.”


“Ah ya… aku paham.”


🌹🌹🌹🌹


Eve hanya akan datang di pagi hari dan pulang sore lagi. Jika ditanya dimana Eve tinggal? Tentu saja di unit perumahan yang ada di sebelahnya, sengaja supaya lebih mudah memanggil jika diperlukan.


Selain itu, Nana butuh kebebasan dimanapun, apalagi suaminya selalu mencium di sembarangan tempat. Dan Nana tidak nyaman dengan keberadaan mereka.


“Selamat datang,” ucap Nana yang sedang memasak, membuat Sebastian memeluknya dari belakang.


Ya, Sebastian mulai bekerja kembali, sebagaimana keinginannya.


“Masa apa, Sayang?”


“Makanan.”


Sebastian hanya mengulum senyuman. “Jenisnya?”


“Makan malam.”


“Kau benar benar….”


Nana hanya tertawa pelan. “Aku memasak pasta, mandilah dulu dan kita akan makan malam.”

__ADS_1


“Kau suka rumah ini?”


“Ini rumah yang bagus untuk keluarga kecil kita bukan.”


Sebastian hanya membuang napasnya, dia telah membangun rumah dengan kapal pesiar dan danau buatan di Indonesia, lalu rumah di pesisir pantai yang dekat dengan tempat pariwisata juga memiliki heliped, akhirnya berada di sini.


Sebuah rumah mungil dan nyaman dan tentu saja bisa dibeli oleh Sebastian seharga gajinya selama satu jam. Benarkah? Ya, bahkan Sebastian bisa membeli semua unit perumahan di daerah ini.


Tapi akan dia lakukan apapun untuk sang istri.


“Mandi….”


“Iya nanti, sebentar lagi.”


“Aromamu tidak enak, Mas.”


“Tapi goyangannya enak ‘kan?”


“Mas,” ucap Nana memberi peringatan, yang mana membuat Sebastian terkekeh dan mencium pipi istrinya. “Mas mandi ya, siapin makan malam, sama makanan penutupnya.”


Nana menepuk tangan Sebastian yang mereemas dadanya.


Dan yang Sebastian lakukan hanyalah terkikik geli. “Mobil dua siapa yang beli?”


“Kiriman dari teman teman Mas.”


“Ah…., hadiah? Aku belum memberimu hadiah Sayang, bagaimana kalau mala mini? Di atas ranjang.”


“Mas, kita melakukannya setiap hari. Aku rasa cukup.”


“Eh? Dokter bilang bagus untuk membantu persalinan, tidak apa jangan malu malu.”


“Malu malu?” gumam Nana saat Sebastian menjauh. “Dia yang tidak tahu malu.”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


Rumah mungil Nan



belakangnya

__ADS_1



__ADS_2