Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Pergantian nama


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Perlahan Sebastian membuka matanya, mendapati kalau dia terlelap di atas sofa. Dia mengerutkan keningnya mencoba mengingat apa yang telah terjadi. matanya menatap langit langit, bertanya tanya kapan terakhir kali dia tersadar.


Lampu ruangan yang padam dan hanya diterangi oleh lampu tidur itu membuatnya kesulitan berfikir, Sebastian malah kembali tidur. Namun saat matanya kembali terpejam, perutnya memberontak meminta diisi. Yang mana membuatnya membuka mata seketika dan mendudukan diri.


Sebastian memegang kepalanya yang terasa sakit. “Astaga…., apa yang terjadi?” gumamnya berjalan ke arah keranjang yang ada di atas tekas di dekat jendela. Matanya tidak sekalipun menatap kke arah kanannya dimana Nana di sana masih terbangun dan sedang menggendong Joy di pangkuannya.


Nana menatap heran suaminya yang membawa beberapa jelly dan cokelat dari keranjang kemudian memakannya. “Em…. Enak, cokelat apa ini?”


“Cokelat milik anakmu,” jawab Nana yang mana membuat Sebastian membalikan badannya seketika. Tangannya yang sedang memegang telur cokelat itu jatuh, dia menarik napasnya dalam mengingat apa yang terjadi.


“Sayangku…,” ucapnya mendekat pada arah cahaya. Sebastian berkaca kaca menahan tangis, tapi sebelumnya dia menyalakan lampu dulu supaya bisa melihat wajah istrinya dengan jelas.


“Astaga silau,” ucap Nana kesal.


“Itu anakku?”


“Kau pikir anak siapa, Mas?”


Sebastian mendekat ke sisi ranjang dan menatap bayi yang ada digendongan Nana sedang menyusu, dia terlihat begitu cantik. “Astaga…. Penerus keluarga Holtzman.”


“Aku namai dia Joy.”


“Terima kasih sayang, kau benar benar wanita yang hebat,” ucap Sebastian meminta menggendong bayinya setelah selesai disusui. Sebastian berkali kali mencium pipi gembil putrinya. “Kau harus tumbuh menjadi sosok yang kuat seperti ibumu, Joy. Kau juga harus membawa kebahagiaan kepada semua orang.”


Nana tersenyum haru melihatnya, sementara tangannya mengusap sosok yang tertidur di sampingnya di dalam selimut. Entah Sebastian sadar atau tidak kalau ada Michael di sana terlelap, anak itu enggan pulang karena ingin bersama keponakannya. Dia baru akan pulang besok.


“Terima kasih, Sayang. Maaf aku tidak bisa memberimu apa apa.”


“Jangan bercanda, Mas. kau bisa memberiku uang.”


“Ya, kau benar,” ucap Sebastian datang pada Nana kemudian mencium bibirnya. Dia menggerakan benda itu untuk beberapa saat.


Sampai akhirnya terlepas karena suara rengekan. Mata Sebastian membulat, dia melihat sisi lain ranjang yang ditempati Nana. “Sejak kapan dia ada di sana?”


“Dia ingin menginap di sini, biarkan saja.”

__ADS_1


“Astaga, anak itu pengganggu, Nana. Kemana Ayahnya?”


“Dia diluar mungkin, atau ke hotel.”


Sebastian menidurkan bayinya di box yang bersebelahan dengan ranjang istrinya, dia melangkah keluar.


“Kau mau kemana, Mas?”


“Menyingkirkan hama,” ucap Sebastian melangkah mencari sosok Arnold di lantai itu.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya seorang perawat yang mendapati Sebastian. 


“Ya, kau melihat Arnold Holtzman?”


“Beliau sudah pergi tiga jam yang lalu.”


Kenyataan yang membuat Sebastian kembali masuk ke ruangan inap istrinya, dia menatap Nana yang bersiap tidur lagi. “Tidurlah, ini masih pukul 4 dini hari, aku lelah.”


“Lalu aku tidur di mana?” tanya Sebastian sendu, dia menatap sisi ranjang yang ditempati.


“Sofa itu kosong.”


“Di bawah saja kalau begitu. Tapi jangan lupa pakai alas, aku tidur ya, Mas. selamat malam. Dan jangan ganggu Joy, dia baru saja terlelap.”


🌹🌹🌹🌹


Arnold melangkah menuju rumah sakit untuk menjemput Michael mengingat dia harus pergi ke sekolah siang ini. saat lift terbuka, Arnold melihat Eve yang hendak menaikinya. “Kau mau kemana, Eve?”


“Membeli beberapa makanan yang diinginkan Nyonya Nana, Tuan.”


“Mike masih di sana bukan?”


Eve mengangguk. “Masih tidur.”


Arnold kembali melangkah, dia mengetuk pintu sebelum membukanya dan masuk ke ruangan menantunya berada. “Hai, cucu Kakek sudah bangun?”


“Dia bangun pagi sekali.”


Arnold mendekat sambil melihat pada Sebastian yang masih tertidur. “Apa dia tidak kunjung bangun?”


“Dia bangun dini hari tadi untuk makan jelly dan kembali tidur.”

__ADS_1


“Astaga bocah bodoh itu,” ucap Arnold menggendong Joy ke dalam pangkuannya. “Uh…. Karena dia lahir di musim panas bukankah bagus jika nama tengahnya Summer?”


“Eum, Sebastian ingin menamai bagian tengahnya. Jadi dia yang akan melakukannya.”


“Ck, anak itu belum bangun juga. Apa kau yakin tidak butuh pengasuh, Nana? Aku tahu pengasuh yang bagus, mereka juga yang mengurus Michael.”


“Tidak, Dad. Aku akan senang jika merawatnya seorang diri.”


“Baiklah, jika itu maumu. Bisa kau tolong bangunkan Mike?”


Nana melakukannya selagi Arnold melangkah ke arah putra sulungnya dan membangunkannya dengan cara meniup niup telinganya.


Membuat Sebastian akhirnya membuka matanya. “Dad?”


“Holla, Bas. Kau tidur atau latihan mati?”


Sebastian langsung bangun dan melihat ke arah Nana. “Ah, akhirnya dia bangun! Kenapa Daddy meninggalkannya di sini? Dia pengganggu.”


“Jangan katakana itu, Mas.”


“Good morning, Bas. Aku akan menjadi paman yang baik untuk anakmu.”


“Hei, menjauh darinya,” ucap Sebastian saat Nana mengusap rambut Michael. Dia ingin ke sana, tapi kepalanya masih pusing.


“Ah, iya. Bagaimana kalau nama tengah Joy itu Summer?”


“Tapi lebih bagus Kinder Joy, Daddy,” ucap Michael.


“Tapi Summer lebih bagus, Mike. Dia lahir di musim panas.”


“Kinder Joy sangat bagus, menandakan dia pemiliknya.”


“Pemilik apa?” tanya Sebastian heran.


“Cokelat, kau tidak tahu? Ada cokelat merek itu,” jelas Arnold.


Yang mana membuat Sebastian mengepalkan tangannya, dia menggeleng. “Panggilkan Hans, akan aku ganti merk nya.”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2