Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Joy


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA🌹


Arnold menatap heran Sebastian yang ada di sofa dengan perawat yang mencoba membuatnya sadar. Semetara saat Arnold melihat ke arah Nana, perempuan itu tengah tertawa menggendong bayinya. 


"Dad?"


"Iya, ada apa?" Tanya Arnold sigap, dia segera mendatangi Nana takut menantunya itu membutuhkan sesuatu. "Kenapa? Ada apa? Beritahu Daddy."


"Bisa kau tolong fotokan Sebastian, Dad?"


"Apa?" Tanya Arnold terkejut. "Memotret Sebastian?"


Nana kembali mengangguk. "Tolong foto dia ya, pakai ponsel Daddy dulu nanti kirimkan padaku."


Arnold tidak banyak bertanya, dia melangkah dan memotret Sebastian yang masih pingsan menggunakan ponselnya. Sebenarnya dia bertanya tanya, untuk apa Nana melakukannya. Tapi dia menurut saja, toh ini bukan kejahatan dan Arnold sendiri senang memotret aib Sebastian.


CEKREK.


CEKREK.


CEKREK.


Ponsel itu mengeluarkan suara dan juha blitz saat Arnold memotretnya, yang mana membuat perawat yang masih mencoba menyadarkan Sebastian itu menatap heran.


"Ahahahah, dia terlihat sangat kacau. Daddy sudah mengirimkannya padamu," ucap Arnold menjauh sambil menatap hasil jepretannya.


Nana tertawa saat membuka ponselnya. Lagi lagi itu membuat perawat di sana mengerutkan kening. "Apa memang begitu sifat orang kaya?" Tanya dia sendiri.


"Untuk apa kau melakukannya, Nana?"


"Untuk membuktikan kalau aku lebih kuat darinya."


Baru juga Arnold akan membalas perkataan Nana, pengasuh Michael lebih dulu menelponnya. Membuatnya keluar sebentar dan memberikan isyarat pada Nana untuk izin keluar.


"Hallo? Ada apa?"

__ADS_1


"Tuan Muda pergi ke Washington menyusul anda, Tuan."


"Apa? Kerjaanmu apa saja huh?"


"Maaf, Tuan. Dia pergi dengan supir."


"Dasar," gumam Arnold mematikan telpon dan kembali masuk ke dalam untuk mengambil jasnya.


"Dad, kau akan pergi?"


"Ya, Mike datang ke sini. Aku harus menjemputnya."


"Selarut ini?"


"Dia pasti mendengar kau akan melahirkan," jawab Arnold kemudian menatap Sebastian yang kini mendengkur, membuat mata Arnold menatap perawat di sana. "Apa dia sudah sadar?"


"Sekarang Tuan Sebastian tertidur, Tuan."


"Astaga, dasar anak bodoh ini. Haruskah aku bangunkan dia Nana?"


"Tidak perlu, Dad. Biarkan saja."


"Tapi sebelum keluar aku ingin merekamnya dahulu," ucap Arnold kembali mengeluarkan ponselnya dan merekam Sebastian, didekatkan supaya bisa mendengar dengkurannya. "Hahhaha, anak malang."


"Akan aku lakukan, Nana. Astaga ini menyenangkan."


🌹🌹🌹


Michael hampir saja tertidur jika saja mobil tidak berhenti secara tiba tiba. Selama satu jam setengah dia di dalam mobil menuju ke rumah sakit karena ingin menyambut keponakannya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Michael.


"Tuan Arnold di sini, Tuan."


Yang mana membuat Michael menatap ke depan, dimana ada mobil yang menghalangi jalan. Kemudian turun sosok yang tidak asing.


Arnold mendekat dan membuka pintu penumpang. Tanpa bicara apapun dia menggendong Michael.


"Mainan dan cokelat," ucap Michael menunjuk pada arah bagasi.

__ADS_1


Membuat Arnold membukanya. "Kenapa kau membawa ini?"


"Untuk keponakanku, siapa namanya?"


"Daddy belum tahu, kau sangat nakal."


"Maaf, Daddy. Tapi aku ingin melihat bayi."


Arnold mengambil keranjang berisi mainan dan cokelat itu kemudian membawa Michael pergi dengan mobilnya menuju rumah sakit. "Setelag memberikan itu pada bayi, kita harus kembali. Besok kau sekolah."


"Iya, Daddy."


Dan beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Arnold masih menggendong Michael menuju ke lantai VVIP.


"Kenapa kau sangat ingin menemuinya, Mike?"


"Karena Mike akan menjadi teman pertamanya, Daddy. Sebastian tidak ingin bermain dan berteman dengan Mike. Keponakan Mike tidak akan begitu kan?"


"Tidak, Sayang. Dia tercampur darah Nana yang baik hati. Jadi tidak sepenuhnya milik Sebastian yang keji."


Micahel hanya mengangguk angguk saat Arnold membawanya ke salah satu ruangan di sana.


"Mike!"


"Nana!" Mike langsung turun dari pangkuan ayahnya. "Dimana bayi?"


"Di sini, kemarilah ada box di sisiku yang ini."


Michael melakukannya dan melihat bayi dalam box kaca di sana. "Siapa namanya?"


"Kau bisa memanggilnya Joy."


Kening Michael berkerut, dia menatap cokelat yang ada di keranjang yang dibawa ayahnya. "Joy? Kinder Joy? Kau terinspirasi dari sana?"


"Michael," ucap Arnold yang sama sama menahan tawa.


"Sepertinya anakmu akan menjadi pelangga tetap minimarket."


"Michael." Arnold bahkan memalingkan wajahnya menahan tawa.

__ADS_1


🌹🌹🌹


To be continue


__ADS_2