
🌹jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak🌹
🌹follow juga igeh emak di : @redlily123🌹
🌹emak sayang kalian, selamat membaca🌹
"Na."
"Iya, Oma?"
"Kamu gak bosen tinggal di rumah aja?"
Nana menggeleng mengatakan kebenarannya.
"Kok gak bosen sih?"
"Aku malah bosen ketemu matahari."
"Lah?"
"Dulu kan sering ke sawah, kerja ke pasar jadi gak pernah di rumah."
Saat itulah Oma bungkam. Dia menggigit bibirnya mengingat Nana sedikit sangar dan menepis semua cemoohan padanya. Oleh karena itu Oma tidak khawatir meninggalkan Nana sendirian, dia lebih dari mampu melewati semuanya.
"Oma mau ke belakang."
"Aku antar?"
"Iyalah, nanti kalau ada jin yang bikin Oma linglung lagi gimana?"
Nana tertawa. "Gak ada jin, Oma."
"Lagian ini rumah gede banget."
"Mas Babas katanya mau punya anak banyak."
"Ini sih lebih gede dari rumah lantai tiga Oma."
Nana mengangguk, memang rumah ini begitu besar sehingga banyak ruangan tidak terpakai. "Untungnya banyak pelayan di sini, jadi ruangan tidak terlalu sunyi."
"Kau mengenal mereka semua?"
"Siapa?"
"Pelayan pelayan ini?"
Nana menggeleng. "Oma ingin tau? Aku bisa menanyakannya pada Eve."
__ADS_1
Oma menggeleng. "Astaga, Nana. Kau begitu polos," ucap Oma kembali melangkah untuk melihat bagian belakang.
Dan Oma begitu terpukau melihat tempat bersantai di halaman belakang. Tempat itu berhadapan dengan kolam dan danau.
"Apa danau itu buatan Sebastian?" tanya Oma.
"Nana pikir bukan, Mas Sebastian tidak mungkin bisa melakukannya."
Oma menatap Nana. "Ya, kau begitu polos sampai bisa mengalahkan lawan bicara."
"Apa maksud Oma?"
"Apa kau sudah pernah menaiki kapal pesiar itu?"
Nana menggeleng saat mereka berjalan menuju kapan pesiara yang ada di danau buatan.
"Nana pernah menaikinya, tapi tidak melaju."
"Apa Sebastian tidak pernah mengajakmu berkeliling danau ini?"
Nana menggeleng.
"Dia bekerja sampai malam."
"Tidak, dia selalu kembali tepat waktu."
Nana kembali menggeleng. "Dia selalu meliburkan diri jika ada kesempatan."
"Lalu kenapa kau tidak memiliki kessmpatan bahkan untuk naik kapal pesiar?"
"Karena Mas Babas selalu mengurungku di kamar."
Oma seketika panik, dia menatap Nana dengan mata melotot. "Nana, apa kau ketakutan?"
Nana menggeleng, dan dengan datarnya dia berkata, "Itu menantang."
🌹🌹🌹
"Sayang…. Aku pulang," ucap Sebastian mencari keberadaan istrinya.
"Sayang?" panggil Sebastian saat masuk ke kamar.
Namun kenyataannya, dia tidak mendapati istrinya di sana. Sebastian segera melepaskan long coatnya hingga meninggalkan dirinya yang hanya memakao kaos dan celana panjangnya.
Sebastian kembali menuruni tangga.
"Dimana istriku, Eve?"
__ADS_1
"Nyonya tadi berjalan jalan di belakang, Tuan."
"Apa Oma masih di sini?"
"Beliau sudah pulan tadi siang."
"Oh, untunglah," gumam Sebastian merasa tenang. Dia tersenyum mendengar Oma sudah pulang, karena kebiasaan Oma ada mengganggu jika bermesraan. Membuat Sebastian ingat bagaimana Oma memberikan istri David celana dalam besi. Membuat Sebastian bergidik.
"Sayang?" panggil Sebastian.
"Di sini," jawab Nana yang berdiri di atas kapal pesiar.
Sebastian mendekat. "Kenapa kau di sini, Sayang?"
"Aku membaca di sini. Mas udah mandi?"
"Mau mandi bareng yuk."
"Aku udah."
"Dimana?"
"Di sini," tunjuk Nana pada bagian dalam kapal pesiar.
Sebastian ikut naik ke dalam kapal, dia memegang tangan istrinya untuk masuk ke dalam. "Kita belum pernag jalan jalan bukan?"
Nana menggeleng. "Ayo jalan jalan, Mas."
"Harus nanti malam, aku punya sesuatu yang akan ditunjukan padamu, Sayang."
"Apa itu?" tanya Nana penasaran.
"Nanti dulu, sekarang ikut aku ke kamar mandi."
Nana mengerutkan keningnya, dia mengikuti langkah kaki suaminya yang benar saja ke kamar mandi. "Mau apa?"
"Mandikan aku, Sayang."
Mata Nana melotot. "Kan Mas bisa sendiri."
"Maunya sama kamu dimandiinnya. Akunya diem aja di sini gak gerak gak ngapa ngapain."
"Seperti mayat?"
🌹🌹🌹
To be continue
__ADS_1