Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Pembalasan


__ADS_3

🌹KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹


🌹IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN🌹


"Terus?" Tanya Nana heran pada Kak Yumna.


"Ih, dia nanyain kamu."


"Dia tau kan aku udah nikah?"


Kak Yumna mengangguk. "Siapa sih yang enggak tau kalau kamu nikah sama juragan duit."


"Terus dia mau ngapain katanya?" Tanya Nana yang malas mengurusi atau berurusan lagi dengan orang selain suaminya. 


"Ya nanya kamu aja. Hati hati deh, kayaknya dia masih gak mau menyerah buat dapetin kamu."


"Bilangin aja, Kak, suami Nana itu buldoser."


"Maksudnya?" Tanya Kak Yumna heran.


"Nanti rumah sakitnya dibuldoser. Duitnya kebanyakan dia."


Kak Yumna tertawa mendengarnya. "Oh ya, Kakak denger rumah kamu punya danau pribadi."


Nana mengangguk. "Ada kapalnya juga."


"Kali kali undang dong Kakak ke sana."


"Lagi sibuk, Kak."


"Sibuk apa emang? Kamu jarang di rumah?"

__ADS_1


"Ada, tapi sibuk bikin anak."


"Yae--"


"Yumna!" Teriak seseorang dari rumah samping memanggil wanita hamil itu.


"Kakak ke sana dulu ya, nanti telponan kita ya. Kakak punya berita."


Nana mengangguk. Saat dia berbalik, dia melihat Lia yang sedang mempermainkan ponselnya. "Ketahuan lu, apa kata suami lu kalau dia tahu dokter Deri suka sama lu?"


Nana mengerutkan keningnya. "Nyari hobi sana, ngurusin hidup orang mulu."


Lia terkekeh. "Kebayang gak suami lu bilang apa kalau dia tahu lu ditaksir dokter deri?"


"Paling dia bilang kek gini, ya wajar sih orang istri saya cantik."


🌹🌹🌹


Begitu pula dengan Lia, dia bungkam seribu bahasa karena Rina mengancamnya jangan bermain main dengan Nana atau pacarnya.


"Na, makan malam udah siap," ucap Rina memberitahu Nana yang sedang membaca sebuah majalah di sana. "Wah… bener ya kamu udah bisa baca?"


Nana mengangguk.


"Panggilin ayah kamu ya."


Nana mengangguk dan pergi ke kamar sang ayah. Sebenarnya dia sedang malas berinteraksi dengan orang orang karena masih memikirkan tentang pamannya yang tega menjualnya. Pikiran Nana sedang mencari opsi alasan lain sehingga dia tidak kesal pada suaminya.


"Makan malam siap," ucap Nana dari ambang pintu.


Sebastian menggangguk dan membantu ayah mertuanya menaiki kursi roda.


Mengarahkannya ke ruang makan.

__ADS_1


Beberapa saat hanya ada keheningan dalam mereka.


"Apa kalian tidak akan menginap?" Tanya ayah Nana.


"Tidak, Ayah," jawab Nana mewakili suaminya. "Besok suami Nana harus kerja, jadi gak bisa nginep."


Dan Sebastian mendengar suara kesedihan di kalimat sang istri, jadi dia mengatakan, "Jika Bapak mau, bapak yang menginap di rumah kami."


"Nah bener itu," ucap Rina dengan semangat. Apalagi dia mendengar rumah baru Nana sangatlah besar dan mewah bagaikan istana negara. "Katanya di belakangnya ada danau ya, Na?"


"Iya."


"Wah… ibu mau nginep di sana," ucap Rina semangat. "Iya kan, Lia?"


"Iya."


"Ibu mau tidur di danau?" Tanya Nana dengan wajah datarnya.


"Bu… bukan begitu, Na," ucap Rina.


Sebastian memilih diam saja, dia membiarkan sang istri menanganinya.


"Lagian kan Ibu mau panen di sini, masa ditinggal."


Lia berdecak mendengarnya. "Bilang aja kita gak boleh nginep di sana, iya kan?"


Nana menatap saudari tirinya yang menyebalkan itu kemudian berkata, "Makasih udah mewakili. Kecuali kunjungan, masih diperbolehkan."


Lia kesal, dia hendak mencaci tapi pahanya ditepuk oleh sang ibu sebagai isyarat.


🌹🌹🌹🌹


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2