
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
“Daddy akan menginap di sini bersama dengan Michael, supaya Joy memiliki teman bermain,” ucap Arnold mengutarakan idenya.
Yang mana membuat Nana menggelengkan kepalanya. “Jangan di sini, Dad. Daddy tidak ingin mendengar desahan aku dan Sebastian bukan?”
Jenni yang ada di sana tertawa mendengar itu.
“Oh, astaga. Ya, Daddy memesan hotel, supaya besok Joy bisa bermain dengan Mike.”
Ketiganya masih bertukar cerita di sana, sedangkan Joy sedang sibuk dengan keadaan perutnya dibantu oleh Eve di dalam kamar mandi.
“Aku juga akan pulang sekarang, mungkin besok aku juga akan mengajak Karina agar mereka bertiga bisa bermain lagi. Sampai jumpa, Nana. Lekas sembuh.”
“Thanks, hati-hati di jalan.”
Jenni mengangguk dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Nana dan juga Arnold di sana. “Kapan bayimu akan lahir yah?”
“Astaga, Dad, semua ada prosesnya. Kenapa harus tiba-tiba melahirkan?”
Arnold tertawa. “Hanya saja akan seru jika punya banyak cicit. Ah, seandainya Sebastian menikah dengan cepat, mungkin anaknya sudah banyak.”
“Jangan khawatir, Dad. Aku bisa membentuk tim sepak bola.”
“Benarkah? Kau kuat?”
“Dengan kartu hitam tentunya.”
Arnold berdecak, benar benar diluar dugaannya memang. Tidak ada yang gratis di dunia ini. “Kenapa Sebastian belum kembali ya?” gumam Arnold yang duduk di sofa menatap televise.
Sedangkan Nana sibuk dengan beberapa makanan yang dibawakan oleh oorang orang yang menjenguknya.
Ketika terdengar pintu yang terbuka, Nana langsung berucap, “Mas dari mana saja? kenapa baru ke sini? Joy datang seorang diri dan bilang mulas.”
“Joy di sini? Pantas dia tidak ada di sana tadi.”
Seketika Nana menoleh, dan mendapati Michael yang berjalan melewatinya dan duduk di samping Arnold. keduanya menonton sepak bola di sana. Oh astaga, bocah itu benar-benar datar dan tidak peka.
“Mike, kau melihat kakakmu?” tanya Nana.
__ADS_1
“Dia tertidur di balkon sana,” jawabnya kemudian menatap sang Daddy. “Dad, aku ngantuk. Ayo tidur.”
“Sebentar, kita menunggu Joy dulu. Bolehkah kita membawa serta Joy? Supaya kau bisa berduaan dengan Sebastian?”
Nana terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk. “Jika Joy mau.”
“Dimana memangnya dia sekarang?” tanya Michael.
“Joy sedang buang air. Nah, akhirnya dia keluar sekarang.” mata Arnold berbinar melihat cucunya yang gempal. “Sayang, kemarilah. Ingin tidur bersama dengan Kakek dan Uncle-mu? Besok Kakek akan mengantarkanmu ke sekolah? Bagaimana?”
Joy terdiam sejenak, dia melihat Michael yang tersenyum padanya sambil berucap, “Ayo, Uncle akan membacakan dongeng untukmu.”
Baru juga Joy akan menjawab, pintu ruangan itu terbuka; menampilkan sosok yang baru terbangun. “Joy au cama Daddy ajalaj,” ucapnya berlari ke arah Sebastian dan merentangkan tangannya.
Yang langsung diangkat oleh Sebastian, dia langsung menciumi perut anaknya. “Gembul, kau meninggalkan Daddy. Dasar anak nakal.”
Joy hanya tertawa.
“Loh? Tidak mau bersama dengan Kakek dan Uncle?”
Joy kembali menggeleng. “Nda ah, di cini aja cama Daddy.”
“Hilih, pasti ada maunya,” gumam Nana.
Yang membuat Joy membisikan kalimat, “Au goyeng picang.” Pada telinga sang Daddy.
*****
“Sudah, berhenti bekerja dan kemarilah.”
“Sebentar lagi, Sayang.”
“Ayolah, berhenti menatap layar itu. Duduk di sini.”
“Aku harus membalas beberapa pesan oleh diriku sendiri, Cintaku,” ucap Sebastian yang tangannya kini sibuk menekan keyboard laptop.
Nana kembali berdecak. “Biar aku bantu, kemarilah. Mas yang bicara, aku yang mengetik.”
“Kau harus istirahat, kau bilang ingin pulang lebih cepat, Sayang.”
“Mas,” ucap Nana penuh penekanan.
Yang mana membuat Sebastian menelan salivanya kasar dan memilih berdamai dengan keadaan. Dia langsung melangkah menuju sang istri, membiarkan istrinya yang kini memangku laptop.
__ADS_1
“Sini, duduk di sini.” Posisi Nana memang berada di tengah.
Kasur king size pesanan Sebastian karena dia ingin keluarganya tidur diatas ranjang yang sama, membuatnya mengganti ranjang ini.
“Apa yang harus aku tulis?” tanya Nana.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Sebastian memberikan hadiah kecupan di kening. “Aku harus membalas pesan dari…..,” ucapnnya menggantung seiring dirinya membuka ponsel.
“Dari siapa?”
“Sebentar, aku lupa namanya.” Matanya mencari sebuah nama dari ponsel itu. Sesekali Sebastian mengucek matanya.
“Baagaimana kalau besok pagi saja? matamu merah, Mas.”
“Tidak apa, hanya beberapa lagi.”
“Kenapa tidak menyuruh Hans?”
“Dia tidak pintar memanipulasi otak orang, pria ini harus bekerja sama denganku.”
“Baiklah, siapa namanya?” tanya Nana siap mengetik.
“Matt Stephen Amandel,” ucap Sebastian saat menemukannya.
“Amandel?” tanya Nana kemudian menatap layar ponsel suaminya. “Itu Amandiel, Mas.”
“Benarkah? Kenapa aku melihat Amandel sebelumnya?”
“Kau butuh tidur,” rengek Nana.
“Tidak, ini yang terakhir. Untuk Pak Amandel.”
“Amandiel.”
“Itu dia.”
*****
 
 
TO BE CONTINUE
__ADS_1