Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Bekas Percobaan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE, BINTANG LIMA, ULASAN BAGUS SAMA AJAK YANG LAIN BACA INI JUGA YA🌹


🌹FOLLOW IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA🌹


"Good morning, Sayang," sapa Ssbastian saat istrinya membuka mata.


Nana melihat ke arah jendela, di sana terlihat masih gelap. "Kok Mas bangun?"


"Liatin wajah kamu bikin gak ngantuk."


"Yaudah liatin punggung aku aja," ucap Nana hendak membalikan badan. Namun Sebastian menahannya dan memeluk punggung telanjang istrinya.


Paham dengan apa yang dilakukan suaminya apalagi tangannya turun dan menyentuh bagian belakang, Nana berdehem. "Udah buat nanti lagi, aku mau tidur."


Sebastian mengerucutkan bibirnya dan memberi ciuman pada bibir sang istri tatkala Nana kembali memejamkan matanya.


Ini sudah minggu kedua mereka berada di rumah. Dan memang hampir setiap hari Sebastian meminta jatah pada sang istri.


Untuk saat ini lebih teratur supaya tidak membuat istrinya lelah. Berbeda dengan malam akhir pekan, Sebastian boleh melakukannya sepuasnya karena besoknya istrinya tidak belajar.


"Yank, aku gak ngantuk loh."


"Aku capek."


"Tapi tadi cuma satu ronde."


"Satu rondenya hampir satu jam," rengek Nana yang tidak tahan dengan senjata suaminya. Benda itu besar, tajam dan tahan lama pula.


"Oh iya, Mas," ucap Nana membuka matanya saat dia ingat sesuatu.


"Kenapa?"


"Aku mau simpan bunga hidup ya di tiap kamar, biar ruangannya berasa hidup. Soalnya kan jarang ditempatin."


"Nah makannya ayo pindah pindah."

__ADS_1


"Masih betah di kamar ini, Mas…," ucap Nana dengan nadanya yang manja, mata ngantuknya meminta permohonan.


Sampai akhirnya Sebastian mengangguk. "Mau manggil tukang kebun?"


"Iya, katanya dia ahli. Aku dapet semua info dari Eve. Boleh? Dia dateng besok sore."


"Cewek atau cowok?"


"Perempuan, Mas."


"Sore aku juga udah pulang sih, jadi gak masalah mau cewek atau cowok."


Nana mengangguk dan mencoba kembali tidur. Tapi diam diam Sebastian mengusap dadanya hingga Nana tidak tenang. Apalagi saat jemarinya turun menuju belahan paha sampai akhirnya menancap di tempat yang tidak seharusnya.


"Akkh…..," desah Nana merasakan geli.


Dia membuka matanya dan hendak protes, tapi Sebastian membungkamnya lebih dulu.


"Hmppphhh!" 


Dengan ritme jari yang semakin cepat, Nana memejamkan matanya kuat dengan tangan meremas punggung suaminya.


🌹🌹🌹


"Nyonya, penata ruangannya sudah datang."


Nana yang sedang menonton tutorial memasak itu mengangguk, dia segera turun untuk menemui wanita yang akan membantunya menata bunga di kamar.


"Hallo selamat sore, Nyonya. Saya Fina."


"Nana," jawab Nana sambil menyalami. "Bisa kita bicara di sini?"


"Tentu."


Keduanya duduk berhadapan di sofa. "Ini adalah bunga bunga yang aku inginkan. Coba kau lihat, kau mempunyainya?"


"Ah, lidah mertua."

__ADS_1


"Iya, dan aku ingin pot yang panjang, dengan wadah air yang memgalir agar tidak basah saat menyiram tanamannya."


"Boleh saya melihat kamarnya?"


"Tentu," ucap Nana mengajak wanita cantik itu masuk ke kamar yang belum ditempati.


"Wah kamar ini sangat mewah. Tapi menurutku, sebaiknya jangan bunga hidup. Bunga hidup malah membawa kesan kampungan."


Nana yang tidak mudah sakit hati dan tersinggung itu mengatakan dengan santai, "Tidak apa, aku memang dari kampung."


"Oh astaga," ucap pendesain kamar itu tidak suka saat Nana tidak terpengaruh olehnya.


Ketika sedang berbincang, Sebastian yang baru pulang bekerja berteriak memanggil nama sang istri, "Nana Sayang."


"Aku di sini," jawab Nana dengan suara lembutnya.


Dan Sebastian datang ke sana.


"Tukang bunganya sudah datang?"


"Sebastian?" tanya wanita yang di samping Nana dengan kaget. "Kau kah itu?"


Sebastian ikut kaget, dia ingat kalau wanita itu pernah menjadi salah satu percobaannya. Tapi burungnya tidak berdiri pada sembarangan orang.


"Sebastian? Ini benar benar kau?" 


Nana yang melihat adegan itu merasa geli. "Iya dia Sebastian, kau mau apa?"


Wanita itu menengok menatap Nana. "Dia pernah tidur denganku sekali."


"Nana Sayang, aku bisa jelaskan."


Kening Nana berkerut, tatapannya tetap tajam pada wanita di sampinvnga. "Lalu? Aku tidur dengannya setiap hari."


🌹🌹🌹🌹


To be continue

__ADS_1


__ADS_2