
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
“Mommy tidak enak badan, Joy berangkat bersama Nanny dulu ya.”
Begitulah sang Mommy memberikan kalimat yang membuat Joy tidak mood seharian ini. Dia lebih banyak diam dan hanya mendengarkan, tidak seperti biasanya yang selalu mendebat teman atau gurunya seperti di hari sebelumnya.
Hari ini kelas renang, Joy seharusnya masuk ke dalam air begitu sang guru meniup peluit. Tapi Joy malah diam menatap baying baying dirinya dalam air. “In ndut,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Tapi lutu kok,” lanjutnya lagi sambil mengusap perutnya yang membuncit sempurna.
“Joy, apa yang kau lakukan kids? Ayo turun ke dalam air, lakukan apa yang ibu ajarkan supaya tubuhmu tidak tenggelam.”
Joy tersenyum kecil sebelum akhirnya masuk ke dalam air dengan cara melompat.
“Joy, ya Tuhan! Ibu tidak mengajarkanmu seperti itu!” teriak sang guru panic melihat Joy tenggelam.
Namun belum sampai lima detik…. MBUL! Tubuh itu kembali ke permukaan dengan posisi Joy yang kayang; dia seolah merebahkan diri dengan terlentang di atas air.
“Ndaaa tenggelam,” ucapnya dengan santai dan membuat teman temannya yang lain gemas, mereka berbondong-bondong mendekati Joy untuk menusuk-nusuk kecil perutnya yang membuncit.
“Dangan ih nakal,” ucap Joy yang membalikan badan menjadi ttengkurap, kemudian kaki dan tangan-tangan gembulnya bergerak sehingga tubuh itu berputar-putar di tengah kolam renang.
Yang mana membuat pelatih di sana terbelalak melihat Joy tidak mengikuti instruksinya, tapi memberikan tampilan terbaik. Seolah bayi gembul itu sedang merangkak di atas air.
“Oke, oke sekarang berbaris,” ucap sang guru mengintruspi.
Joy dengan pecaya diri itu membaris paling depan, dengan kaki yang terus bergerak supaya dia tidak tenggelam.
“Woaahhhh, Joy sangat hebat. Kenapa tidak memberitahu Ibu kalau Joy pandai berenang?”
__ADS_1
“Hebat kan?” bocah itu membanggakan dirinya sendiri.
“Iya, coba berikan tips pada teman-temanmu yang masih tenggelam.”
Joy menoleh pada teman-temannya. “Ndut itu bagus loh, emam yang banak ya. Kan di cini banak gemebungna,” ucap Joy sambil memegang perutnya sendiri.
SPEECHLESS!
🌹🌹🌹🌹🌹
“Joy au jajan duwu ya, Nanny. Yang ada ice cleam ijo itu loh,” celoteh Joy saat mereka pulang sekolah. Untungnya kali ini, mereka menaiki mobil mengingat Joy berangkat bersama dengan pengasuhnya sehingga mereka menggunakan mobil.
“Eum, Nona Joy. Kita tidak akan lewat tempat itu,” ucap sang pengasuh yang berada di samping Joy. “Kita akan lewat jalan pintas supaya lebih cepat sampai di rumah.”
Membuat anak itu menoleh. “Memangna kita au belajal lagi ya?” kepanikan terlihat jelas di wajah bocah itu.
“Bukan, Nona. Kita akan ke rumah sakit, Nyonya Nana tidak enak badan.”
“Mommy cakit?” tanya Joy sedikit sedih.
“Okey,” ucapnya dengan nafsu makan yang turun seketika.
Bahkan ketika dipakaikan baju, Joy tidak banyak melawan. Biasanya dia berdebat dengan menginginkan pakaian favorite-nya. Namun sekarang Joy malah lebih banyak diam.
“Mommy cakit apa?”
“Hanya kelelahan, Nona. Jangan khawatir, makannya sekarang kita akan menemaninya di sana, oke?”
Joy mengangguk, dia keluar dari kamarnya sementara sang pengasuh sedang membereskan pakaian sekolahnya. Keadaan dapur menjadi sepi, biasanya ada sosok yang mengajaknya berdebat di sana, joy merindukan sang Mommy, meskipun seringkali ribut.
Yang mana membuat Joy membuka kulkas dan mengambil beberapa kue yang menjadi favorite-nya.
__ADS_1
“Nona Joy, ayo ke sana,” ucap sang pengasuh.
“Ote.” Joy melangkah dengan tangan yang penuh dengan cookies.
“Nona Joy, masukan ke sini.” Sang pengasuh memberikan papper bag. “Nah, Nona Joy bisa memegangnya seperti ini.”
“Terima kasih, Nanny.”
“Sama sama.”
Dengan menggandeng tangan pengasuhnya, Joy menaiki mobil. Sepanjang jalan dia terdiam, benaknya berfikir apakah yang dia lakukan ini benar atau tidak. Cookies kesukaannya akan menjadi korban, tapi Joy lebih menyukai Mommy-nya. Tubuh gembulnya berguling-guling di kursi penumpang, membuat sang pengasuh yang berada di sampingnya sedikit terjepit karena posisi yang tidak benar.
Sudah biasa baginya dengan sang anak majikan seperti ini.
“Sudah sampai, ayo turun, Nona Joy.”
Joy mengangguk, tubuh gempalnya berjalan beriringan dengan sang pengasuh menuju lantai atas dimana sang Mommy di sana dengan sang asisten pribadi; Eve.
Begitu pintu terbuka, Joy tersenyum. “Mommy.”
“Hai, kemarilah, Sayang. mommy merindukanmu.”
Joy berlari, dia ingin berhambur ke dalam pelukan sang Mommy sampai dia mengingat sesuatu; bahwa sang Mommy berada di atas ranjang. “Nda campai,” ucapnya bingung naik lewat mana.
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1