Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Berbagi Rasa


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Follow juga igeh emak di : @REDLILY123.🌹


🌹Emak sayang kalian, selamat membaca yaaa.🌹


Arnold terdiam kaku, dia melihat, mendengar dan mencoba memahami apa yang dia rasakan saat ini. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya, kelu dan tidak bisa dideskripsikan. Apalagi saat dia melihat sosok anak kecil yang sedang tertidur di sampingnya.


“Dad,” ucap Sebastian memegang tangan ayahnya. “Aku selalu menyayangimu, tapi hal itu pada kenyataannya tertutupi karena rasa marahku.”


Arnold terkekeh tidak percaya. “Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”


“Karena Lucille berniat mencelakaimu.”


Mendengar kembali kenyataan itu, Arnold menunduk merasa kesedihan yang mendalam. Wanita yang dipikirnya akan merawatnya dan mengurusnya dengan senang hati itu ternyata menyimpan banyak rencana jahat.


“Kenapa dia tega melakukan itu padakku?” gumam Arnold pada dirinya sendiri.


Sebastian menghela napas. “Dad, dia masih muda. Maksudku, tidak ada wanita yang benar benar cinta kecuali karena harta.”


Arnold terdiam. “Dan istrimu?”


“Dia memang butuh uang, tapi dia merawatku dengan baik.”


Arnold menatap Michael yang masih tertidur di sampingnya, beberapa detik kemudian dia berteriak, “Eve apa kau diluar?!”


Eve yang ada diluar sontak saja masuk. “Iya, Tuan?”


“Bawa dia keluar.”


Sebastian kaget, apalagi tatapan Arnold memperlihatkan amarah mendalam.


“Baik, Tuan,” jawab Eve sambil mendekat dan menggendong anak kecil itu.


Saat diangkat, Michael terbangun kaget. “Daddy!” teriaknya merentangkan tangan tidak ingin dibawa menjauh dari sang ayah.

__ADS_1


Tapi Arnold memalingkan wajahnya, yang mana membuat Sebastian menunduk merasa bersalah. Apalagi saat Michael menangis memanggil manggil sang daddy.


Sebastian tahu, kalau anak itu tidak terlalu dekat dengan Lucille. Jadi mendengar hal ini cukup membuatnya ikut merasakan rasa sakit.


“Dad,” ucap Sebastian hendak memberikan nasehat.


Tapi Arnold lebih dulu mengangkat tangannya. “Keluarlah,” ucapnya pada Sebastian.


Pria itu mengangguk, dia keluar dari ruangan itu dan membiarkan Arnold berdiam untuk memutuskan sesuatu.


Saat keluar, Hans langsung berdiri.


“Tuan?” ucapnya.


“Suruh anak buahmu ke sini untuk menjaga ayahku, aku butuh sopir.”


“Baik, Tuan.”


“Tapi kemana Eve?”


“Dia sedang marah, aku tahu itu. Suruh Eve jangan menampakan diri, apalagi bersama anak itu.”


“Baik, Tuan.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sebastian merenungkan dirinya di caffe untuk sebentar, dia melihat matahari terbenam sendirian. Perasaannya tidak bisa dijabarkan, ada perasaan lega, bahagia, tapi sekarang didominasi oleh rasa bersalah dan kasihan pada anak kecil tidak berdosa itu.


Apalagi Sebastian tahu, jika Arnold sudah membenci sesuatu, maka dia tidak akan sudi bahkan untuk menengok sedikit saja.


Saat sedang sendirian merenung, Sebastian mendapatkan pesan. Itu dari sang istri yang sedang berpose seksi dengan pesan yang menggoda.


Sebastian tersenyum tipis, dia ingat kalau ada seseorang yang sedang menunggunya di rumah,


Maka dari itu dia menarik napas dalam dan berdiri. “Kita pulang, Hans,” ucap Sebastian.

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


Hans yang mengendarai mobil, sedangkan Sebastian masih menghabiskan sisa waktunya dengan melamun mengawasi sinar matahari yang mulai hilang.


Sebelum turun dari mobil, Sebastian mencoba memasang wajah gembiranya dan menghilangkan kesedihan. Saat masuk, Sebastian tidak mendapati istrinya yang sedang menyiapkan makan malam.


“Selamat datang, Tuan.”


“Apa istriku belum menyiapkan makan malam?”


“Nyonya meminta kami membawa makan malam ke kamarnya.”


“Oh benarkah?” tanya Sebastian yang langsung meluncur ke kamar.


“Sayang?” Sebastian memanggil saat membuka pintu.


“Aku di sini, Mas,” ucapnya dari arah balkon.


Sebastian mendekat, dia melihat Nana menyiapkan makan malam di sana. Balkon yang seluas kamar itu dijadikan tempat yang lebih indah dari sebelumnya.


“Kau menyiapkan ini, Sayang?”


“Dibantu oleh pelayan.”


Wajah Sebastian memasang tampang menggoda. “Kemana pakaian yang tadi?” tanya dia saat melihat Nana kembali memakai pakaian tertutupnya.


Setelah selesai mengatur piring, Nana mendatangi Sebastian kemudian memeluknya secara pelan. Dia berbisik, “Bukan itu yang kamu butuhkan saat ini.”


Sebastian diam seketika, dia paham apa yang dimaksud Nana.


“Jangan sendirian, berbagilah beban dengaku, suamiku.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2