
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. VOTE. 🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
"Kakek pulang dulu ya."
"Iya."
"Jangan nakal ya."
"Iya, Takek."
"Jangan Mam mulu."
"Iya."
"Nanti perutnya sakit."
"Ndak, cakit kalau mau mpup aja," ucap bocah itu enggan menghentikan aktivitasnya yang sedang memakan buah buahan setelah makan malam.
"Nanaaa, anaknya makan terus."
"Gak papa, Dad. Kalau buah-buahan sama sayuran, asal nggak junkfood," ucap Nana yang sedang mengemasi beberapa makanan buatannya untuk dibawa oleh sang mertua.
"Tadi yang Daddy makan juga itu bahan dasarnya sayuran semua," ucap Nana menambahkan.
Sementara Arnold yang masih setia di samping Joy itu mengerutkan keningnya. "Tadi yang Daddy makan sayuran semua? Kok bisa ya? Gak kerasa sayuran."
"Dihalusin terus dicampur bahan lain, biar Joy bisa makan."
Arnold menatap Joy yang kembali menyuapkan semangka ke dalam mulutnya. "Joy tadi emam sayur?"
"Joy mah pintel, apa aja di mam asal enak. Mhehhehe."
Untung saja Joy bukan pemilih makanan, yang mana membuat Nana kini mengganti bahan makanan utama seperti sayuran yang diolah sehingga terasa enak. Bagi Joy, tidak apa sayuran, asal enak. Makanan apapun itu, asal enak dilidah.
"Dad, ini untuk Daddy bawa," ucap Nana menepuk box di depannya. "Mau pulang kapan?"
Arnold menatap jam tangannya. "Sekarang aja deh, Sebastian mana?"
"Udah di depan."
"Dia kayaknya terniat deh buat ngusir Daddy," gumam Arnold yang dibalas tawa geli oleh Nana. "Joy anter Kakek keluar yuk?"
"Nda ah, Joy cini aja emam. Nanti ada lalat gimana?"
__ADS_1
"Masa di rumah gede ada lalat, ya enggak lah. Yuk anterin Kakek keluar dulu."
Joy yang selalu pintar mencari alasan itu menatap sang Kakek sebelum akhirnya memberikan kecupan di pipinya. "Ati ati ya, Takek. Nanti main lagi cini, bial Joy ada temennya."
"Eh, anak pinter. Yaudah makan lagi, Kakek pulang ya. Bye anak manis."
"Bye, Takek." Maniknya menatap sang Kakek yang menjauh.
"Joy gak mau nganterin Kakek?" Tanya Nana.
"Nda, kacian emamna nanti digelubungi lalat."
"Iya dah gimana Joy aja. Nanti abis itu piringnya disimpen ke tempat cuci piring ya, Nak."
"Iya, Mommy," jawabnya masih dengan mulut penuh.
Membiarkan kedua orangtuanya mengantarkan sang Kakek sampai keluar rumah, sementara dirinya masih sibuk mengunyah. Sampai akhirnya makanan itu habis, Joy menghela napasnya sebelum melangkah menyimpan piring itu.
Dan saat melewati pantry, Joy menghirup aroma yang begitu enak. Dia menelan ludahnya dan segera membuka lemari di bawah kompor setelah menyimpan piring.
"Uwaaahhhhh cookies," ucapnya dengan riang gembira. Matanya berbinar dengan senyumannya yang terbit, tangannya menjulur hendak mengambil potongan itu.
Tinggal sedikit lagi sampai…. "Heh! Joy ngapain?!" Teriak seseorang sebelum tubuhnya melayang di udara. "Nakal ya, mau ambil apa?"
"Aaaaaaa! Daddy ndak gaul ah! Joy au itu, Dad!"
"Udah Mam mulu, ayo jalan jalan biar lemaknya turun."
"Gak ada cape, ayo jalan jalan di halaman."
Joy mengerucutkan bibirnya, menyandarkan kepalanya di bahu sang daddy. "Mau tidul aja ahhh… nda mau jalan. Capek, tadi udah cama Mommy."
"Ya kan sekarang lagi. Udah jangan ngeyel."
"Daddy mah nda pengeltian ah!"
"Ini bocah satu jawab mulu ya." Sebastian gemas.
🌹🌹🌹🌹
Joy terbangun dari tidurnya, dia memilili kamar sendiri. Dan seorang pengasuh yang memiliki conection room dengan kamarnya itu selalu sensitive akan suara, membuatnya langsung menuju kamar Joy.
"Nona Joy kenapa?"
"Cakit pelut."
"Mau mpoop?"
__ADS_1
"Au," ucapnya turun dari ranjang dibantu oleh sang pengasuh, dia dituntun menuju kamar mandi.
Duduk di kloset khusus miliknya, dia mengeluarkan pusat rasa sakit perutnya sambil memandang kosong. Dan sang pengasuh tetap berada di sampingnya.
"Nanny…."
"Kenapa, Nona Joy?"
"Bocan, au makan pelmen cambil nunggu."
"Tidak, nanti perutnya tambah sakit. Jangan ya, kalau malam itu perut harus istirahat."
Joy mengerucutkan keningnya, perutnya memang sedikit tidak nyaman. Tapi kalau memberitahukan ini pada Mommy atau Daddy nya, pasti makanan yang akan di salahkan.
Makanan kan kesayangan Joy, dia tidak akan membuat mereka menanggung akibatnya.
Begitu selesai dengan ritual pembuangan akhir, Joy kembali dituntutun oleh sang pengasuh.
"Joy au bobo cama Mommy."
"Ini sudah malam, Nona."
"Iya, makana Joy au bobo."
"Eh, tapi di sini ya."
"Ndaa ah, mau di cana," ucapnya dengan tatapan memohon kemudian melangkah sendiri keluar dari kamar.
Membuat pengasuh itu bingung, dia takut majikannya terganggu karena kinerjanya yang tidak baik.
Namun saat akan menghentikan putri asuhannya, Joy lebih dulu masuk ke kamar yang tidak dikunci.
Sebelumnya Joy mematung melihat kedua orangtuanya berada di bawah selimut dan hanya menampilkan kepala saja.
"Mommy," ucap Joy berdiri di samping ranjamg dan menggoncang tubuh sang Mommy. "Au bobo cini."
Tidak ada pergerakan sedikitpun dari mereka.
"Mommy ih! Au bobo cini!" Mata Joy mulai berkaca-kaca karena mereka tidak merespon sama sekali. "Ah! Mommy mah gitu! Joy au pipis aja di kalpet!"
"Eh jangan!" Teriak Nana dan Sebastian secara bersamaan.
"Huaaaaa! Tuhkan Mommy cama Daddy boong ndak bobo!" Joy menangis kuat seketika.
Mereka kalut. "Mas, bajuku," ucap Nana memberi isyarat. "Lain kali kunci pintunya kalau mau minta jatah."
"Iya, Sayang."
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC