Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Tidak seindah bayangan


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


Sebuah kencan dimana Joy kini menjadi pemeran utamanya, bahkan sang Daddy berlagak layaknya seorang pangeran yang membungkuk di hadapannya sambil tersenyum manis.


“Daddy au apa?” tanya bocah gembul itu.


“Kita berdansa, Princess.”


‘Tapi Joy nda bisa.”


“Nanti Daddy ajarkan,” ucap Sebastian yang masih menunduk, tangannya juga masih terulur menunggu balasan dari putrinya yang malah diam mematung dengan pipinya yang bulat. “Ayo, terima uluran tangan Daddy.”


Bocah tiga tahun itu masih terdiam, dengan pipinya yang hampir tumpah. “Tapi kan, Joy endek, Daddy tinggi. Ntal Daddy jongkok uwat dansanya.”


“Astaga, Joy. Kenapa banyak bicara, ayo terima uluran tangan Daddy, music sudah berputar dari tadi.”


Joy mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya menerima uluran tangan itu. Yang mana membuat Joy kaget tatkala sang Daddy kembali menggendongnya kemudian mengajaknya berdansa dengan salah satu tangan mereka yang merentang dan bertautan. 


Sebastian menjauhkan sedikit wajahnya dari sang putri, dan dia dikejutkan dengan ekpresi diam dari Joy. “Kenapa diam, Joy. Kau tidak bahagia?”


“Plincess apa yang dicuwik lalu diajak dansa?”


“Ohohoho, kau masih kesal karena Daddy mengagetkanmu tadi? Ayolah, kau menggemaskan,” ucap Sebastian mencium pipi bulat putrinya. “Nanti kita akan makan malam ala kerajaan.”


“Plilaku Daddy nda mencelminkan anggota kelajaan.”


“Memangnya Daddy kenapa?”


“Mencium Joy? Mencuwik? Cangan dicayangkan.”


Sebastian menghela napasnya. “Ada banyak macaron di sana.”


“Oh, hehehe. Daddy tampan,” gumam Joy malu malu. Kemudian mengikuti gerakan dansa dengan memedeng-medengkan tubuhnya sesekali.

__ADS_1


Namun bukannya membuat Sebastian merasa bahagia, dia justru hampir oleg karena bobot sang anak yang tidak seimbang. Gerakan Joy itu seperti bayi yang ingin melompat dari gendongan ibunya.


“Joy, diam saja.”


“Kan danca.”


“Astaga, Tuan puteri. Bagaimana kalau kita makan saja?”


“Baik,” ucap Joy membalas dengan ala ala tuan putri juga.


Kemudian Sebastian menurunkan putrinya, menuntunnya membawa meja kecil di bawah tenda yang sudah disiapkan oleh Nana dan Eve sebelumnya.


Sementara itu, Nana menatap keduanya dari celah pintu. Air matanya menetes, merasakan kebahagiaan Joy. Dirinya tidak pernah merasakannya, Nana bekerja sejak dia kecil, Ayahnya yang tidak terlalu mempedulikannya itu tidak memiliki waktu untuk sekedar memanjakannya.


Ah, kenangan di negara kelahirannya membuat Nana meneteskan air mata lebih banyak. Dia tidak ingin mengingatnya, kenangan buruk mendominasi di sana.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Maaf tidak bermain dengan Joy, Kak,” ucap Michael yang terlihat menyesal, apalagi Arnold menyuruhnya untuk meminta maa.


Arnold membawa Michael dengan tujuan bisa membuat Joy senang, tapi Michael malah lupa waktu dan bersama dengan perempuan dari rumah sebelah.


“Bisakah aku menemui Joy dulu?”


“Jika kau mau silahkan, tapi ada Sebastian di kamarnya.”


“Oh tidak jadi,” gumam Michael mengingat sosok yang selalu memanggilnya Aheng itu pasti akan memarahinya.


Arnold mengusak puncak kepala putranya. “Sana masuk ke dalam mobil lebih dulu.”


“Oke, Dad. Bye, Kak Nana.”


“Bye, Mike.”


Saat Michael masuk ke dalam mobil, giliran Arnold yang bicara. “Maaf ya, semuanya kacau.”


“Tidak apa apa, Dad. Kebahagiaan Joy bukan hanya dari Mike, ingat?”

__ADS_1


Arnold mengangguk. “Tapi kau terlihat sedang kesal padakku.”


“Ya, sedikit.”


Pria paruh baya itu menelan ludahnya kasar, dia memundurkan langkahnya. “Daddy akan pulang sekarang.”


“Tidak akan menemui Sebastian dulu?”


“Besok juga bertemu, Daddy ada pertemuan dengannya. Bye, belikan Joy mainan dengan kartu dari Daddy,” ucapnya sembari menjauh.


Yang mana membuat Nana mengeluarkan sebuah black card dari saku roknya. Ini dia dapatkan dari Arnold, dimana pria itu memberikannya hanya karena merasa bersalah pada Joy.


“Batas pemakaiannya hanya seminggu, lalu kembalikan.” 


Begitu pesan Arnold sebelumnya.


“Asyik shooping,” ucap Nana sambil melangkah masuk ke dalam.


Sebelumnya langkahnya tertuju pada kamar sang putri. Dan diambang pintu, Nana bisa melihat bagaimana putrinya berbaring, dengan Sebastian yang memunggungi hingga sebagian tubuh Joy tidak terlihat.


Senyuman Nana merekah, dia merasa ada di dalam film-film, dimana sosok ibu merasa bahagia mendapatkan anak dan suami yang begitu menyayanginya.


“Ternyata begini rasanya.”


“Rasa apa?” tanya Sebastian menengok ke belakang.


Dan saat itulah Nana terkejut. “Tunggu, itu noda cokelat di bibir?”


Dia melangkah lebar, matanya membulat melihat Sebastian dan Joy yang ternyata sedang memakai cokelat.


“Hehehe, Mommy au?”


“Astaga, Joy. Tolong jangan buat roti sobek Daddy mu hilang, itu salah satu kesenangan Mommy.”


“Daddy unya loti?”


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2