
🌹🌹🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. VOTE. 🌹🌹🌹
🌹🌹🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹🌹🌹
🌹🌹🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹🌹🌹
"Aheng! Daddy mu menjemput!" Teriak Sebastian dari ruang televisi, yang mana membuat Michael segera keluar dan berlari ke arah Arnold yang baru saja masuk.
"Daddy," ucapnya melepaskan kerinduan. "Rindu, Daddy."
"Rindi, Diddy," ejek Sebastian yang sedang memainkan game di layar televisi, dengan Joy yang terlelap di pangkuannya. Dia malas melihat interaksi anatar Michael dan juga Arnold yang selalu membuatnya iri.
"Hei, Bas. Apa Daddy boleh ikut makan malam?"
"Apa Daddy kini jatuh miskin?"
"Hei, Ayolah."
"Si Aheng saja selalu membuatku repot," gumam Sebastian tidak terlalu keras guna Michael tidak mendengarnya.
Arnold mencium pipi putranya dan kembali menurunkannya, beberapa hari berpisah dari Michael membuat Arnold merindukan sosok anak kecil yang selalu membuat kekacauan di rumahnya.
"Mainlah kembali bersama Sebastian."
"Oke, Daddy. Kita tidak akan pulang?"
"Nanti setelah makan malam."
"Cih." Sebastian berdecak malas. "Awas saja kalau kau menggangguku, Aheng."
Michael tidak mempedulikan perkataan Sebastian dan datang mendekat. "Ikut bermain game, Bas."
"Minggi kau, Aheng."
"Aheng?" Tanya Arnold bingung, dia menatap Nana dengan penuh tanya. "Kenapa dia menamai anak Daddy dengan nama Aheng?"
"Bukankah itu nama mandarin Mike? Aku membacanya saat Mike memperlihatkan biodatanya padaku, namanya Dong Guanheng?"
Arnold mengangguk. "Memang, tapi bukankah aneh dipanggil Aheng?"
"Bas yang memberikan nama itu sendiri, Dad. Aku tidak ikut campur. Tapi mereka lebih akrab."
__ADS_1
Saat Arnold melihatnya, menang benar. Kini Sebastian memberikan stik game miliknya dan membiarkan Michael melakukan apapun yang dia inginkan termasuk juga merebut permainannya, meskipun masih saja ada perdebatan diantara mereka. Tapi Arnold menyukai keduanya tampak akrab.
"Kita akan pulang setelah makan malam, Mike. Jadi puaskan bermain game nya."
"Kalau begitu Mike harus berpamitan pada Karina."
"Siapa Karina?" Tanya Arnold pada Nana yang sedang memasak.
"Teman Mike," jawab Michael.
Yang ditambahkan oleh Nana dengan kalimat, "Anaknya Jenni, Daddy lupa?"
"Oh iya, pergi saja. Janga terlalu lama. Hanya lima belas menit."
"Oke," ucap Michael langsung melepaskan stick game.
Yang mana membuat Sebastian membulatkan matanya. "Woyy Aheng!"
Sebastian hanya menatap pasrah permainannya yang terkalahkan, sudah diberikan pada Michael kini malah kalah.
Menyebalkan memang, apalagi Arnold menatap Michael layaknya malaikat kecil. Tapi bagi Sebastian, dia adalah iblis jahat dalam konteks bercanda.
🌹🌹🌹🌹
Setelah bermain puas dengan Karina, Michael akhirnya mau pulang. Dia bahkan melewati makan malam untuk menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu. Yang mana membuat Sebastian menyadari sesuatu. Dia mengerutkan keningnya dan menatap Michael yang sedang memegang boneka iron man, mereka sedang menunggu Arnold yang sedang memarkirkan mobil di sana.
“Aheng?”
“Yap?”
“Kau menyukai Karina ‘kan?”
Michael mengadahkan kepalanya menatap Sebastian yang duduk di sampingnya, menemani adiknya yang kecil itu di luar sambil menatap bintang yang samar samar terlihat karena banyaknya lampu.
“Kau menyukainya ‘kan, Aheng? Mengaku saja, ayo….”
“Aku memang menyukainya.”
“Wah…, sudah nyatakan perasaanmu padanya?”
Michael menggeleng, dia malu untuk mengatakan hal itu. Lagipula dirinya masih kecil. “No. aku akan menjadi paman yang baik dulu, baru akan menjadi pacar yang baik.”
__ADS_1
“Hei, hei hei, jangan libatkan Joy. Jika kau menyukainya akui saja. umurmu berapa sekarang?”
“Eummm…..” Michael menatap jari jarinya bingung mengatakan apa.
“Nanti aku ajari jika kau setidaknya berumur 12 atau 13 tahun.”
“Oke….”
“Dan apa kau tau?”
“Tidak.”
“Dengarkan ini, Aheng….”
Nana tersenyum ketika melihat adegan diantara Michael dan juga Sebastian yang semakin akrab satu sama lainnya.
Sampai Nana melihat bagaimana Sebastian menggendong Michael dan mengantarnya sampai ke dalam mobil. Nana tersenyum lebar begitu suaminya masuk ke dalam.
“Kenapa Sayang?”
“Kau akur dengan saudaramu.”
“Si Aheng? Oh ayolah, aku yakin dia bisa menjaga Joy sebagai paman yang baik.”
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Nana.
“Aku mengkhawatirkan Joy sebagai anak pertama, dia perempuan.”
Nana langsung mendekat dan memeluk suaminya, menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami. “Sayang…. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal buruk. Hanya saja…”
“Aku paham. Tenang saja, Joy akan tumbuh menjadi perempuan yang kuat dan cerdas.”
“Aku juga tidak ingin menambahnya beban dengan banyak adik. Jadi ayo kita pakaia pengaman dulu, aku beli yang ada geriginya.”
“Oh astaga⸻Mas!” nana terpekik saat suaminya mengangkatnya dan menggendongnya di depannnya.
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
AGAK LAMA KALAU DIJELASIN DIKIT DIKIT, AKU SKIP BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN YA, KARENA SEKARANG FOKUSNYA DI JOY. KALAU OROK MULU GIMANA BISA NGOMONG TERUS NGOCEH KAYAK EMAKNYA.
__ADS_1