Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Semakin dekat


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW IGEH EMAK DI : @REDLILY123.🌹


🌹DAN CATATAN, NOVEL INI EMAK BERI TANDA TAMAT KARENA MEMANG CERITA INI SUDAH TAMAT. INI HANYA AKAN DILANJUT UNTUK SEASON DUA SAJA TAPI AKAN TETAP UPDATE.🌹


“Kau yakin akan mengajak si Aheng itu ke Guarda, Sayang? Itu di Swiss, kau tidak keberatan? Aheng akan ikut ke Swiss? Ke Guarda? Itu hutan bukan? Joy saja membuat kita penuh dengan kesulitan, bagaimana jika mereka berkumpul dan membuat geng manusia purba dengan naik ke atas pohon dan bergelantungan? Apalagi jika Ares adalah pemimpinnya.”


Nana terdiam, sesekali dia menahan tawa atas apa yang dikatakan sang suami. terdengar sangat menggelitik, tapi memang Nana juga punya kekhawatiran itu. Michael dan Joy sama sama aktif, bayi berusia tiga tahun itu mungkin akan ikut naik ke atas pohon bersama yang lain.


“Berapa umur anak anak temanmu, Mas?”


“Athena dan Ares berumur lima atau enam ya? Aku lupa…., aku rasa enam lebih. Dan Lucas, dia berusia empat tahun, Joy yang paling muda. Dia juga perempuan, bagaimana jika mereka meninggalkannya?”


Nana menggeleng, tangannya sibuk mengepak makanan bayi di dalam tas untuk dibawa ke Guarda. Dirinya tidak sabar bertemu dengan orang orang yang dia kenal pertama kali sebelum menjadi kaya seperti ini. “Mike akan menjaganya, Joy tidak akan ditinggalkan sendirian.”


“Tapi si Aheng berumur sepuluh tahun, dia mungkin bermain dengan Ares.”


“Oh ayolah, kita tau bagaimana Mike sangat menyayangi Joy. Dia tidak akan meninggalkan anak kita.”


Sebastian menggeleng kuat, dia takut sesuatu akan terjadi pada sang anak. Itu yang membuatnya segera menghubungi Hans dan meminta disiapkan pengasuh terbaik untuk menjaga anaknya.


Dan Nana mendengar percakapan itu, yang mana membuatnya menatap tidak percaya. “Kau serius, Mas? lima pengasuh?”


“Sayang, kau tahu si Aheng itu perlu orang bahkan untuk cebok saja.”

__ADS_1


“Oh astaga, dia hidup di asrama selama beberapa tahun terakhir ini. itu tidak lagi terjadi.”


“Sudah, Sayang… sudah….,” ucap Sebastian memegang kedua bahu istrinya saat sosok itu mendekat. Sebastian mendudukan Nana di dalam pangkuannya, kemudian tangannya beralih membelai wajah cantik Nana. “Kita butuh pengasuh, nanti kau akan kewalahan. Aku takut David sedang menghemat uang untuk anaknya yang ketiga, jadi dia mungkin tidak akan membawa pengasuh. Dan besok kita masih ada kegiatan, ayo tidur sebelum hari besar itu datang.”


Nana hanya tersenyum dan memeluk leher suaminya.


Yang mana Sebastian hanya menarik napasnya dalam. “Siap siap untuk mental,” gumamnya dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


“Sayang, aku berangkat.”


Nana menoleh dan mendapati suaminya sedang mendekat ke arahnya dengan Joy dalam gendongannya, diikuti oleh Michael di sampingnya yang sudah memakai pakaian rapi, bahkan senada dengan jas yang dipakai Sebastian.


“Um… apa kalian janjian atau sesuatu semacamnya?”


Nana mengambil alih Joy kemudian mendudukannya di kursi khusus balita itu. “Kau akan mengajaknya ke kantor?”


“Aku akan ikut bersama Kak Sebastian.”


“Wah… benarkah?”


Sebastian yang melangkah duduk itu hanya menghela napas, mengingat bagaimana Michael mengganggunya di pagi hari dan meminta padanya untuk diajak ke kantor karena Michael ingin melihat bagaimana bangunan itu sekarang.


“Dia memaksaku pagi ini, benar benar menyebalkan.”

__ADS_1


“Joy mau itut sama Daddy sama Uncle.”


“Tidak boleh, Sayang. Hari ini kau ada sekolah bersama dengan Mommy,” ucap Nana yang mana membuat Joy mengerucutkan bibirnya. “Astaga dia menggemaskan.”


“Tapi Uncle itut.”


“Uncle ada urusan,” ucap Michael dengan senyumannya.


Hal itu malah membuat Sebastian memutar bola matanya malas. “Halah urusan matamu,” gumamnya dengan pelan supaya Nana maupun Joy tidak mendengarkannya.


“Besok kita berangkat pagi pagi?”


“Sore saja, Sayang. Paginya ada hal yang harus aku selesaikan.”


“Baiklah. Joy, apakah kau tidak sabar akan bertemu Aunty dan Uncle lain? Mereka juga punya anak anak lucu sepertimu.”


“Apa meleta bisa memanjat sepelti Joy?”


Nana hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Jangan tanyakan itu pada mereka ya?”


“Kenapa?”


Nana tidak menjawab, sementara Sebastian sibuk membayangkan bagaimana anaknya dan anak anak David memanjat pohon di hutan Guarda dengan sangat brutal. Semoga saja Lucas anak dari Rara dan Luke tidak seperti itu.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2