Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Tangisan


__ADS_3

🌹🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹🌹


🌹🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹🌹


🌹🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹🌹


Jenni dan Eve kini sedang berkemas di rumah Nana untuk membawa segala peralatan bayi untuk ganti di rumah sakit. Mendengar Nana akan melahirkan jelas membuat keduanya senang, apalagi Eve yang selalu bersama dengan Nana setahun terakhir ini.


“Apa baby daru Aunty Nana akan lahir sekarang?”


Jenni mengangguk menerima pertanyaan dari Karina yang ikut berkemas juga, dia bahkan membawa beberapa mainannya untuk diperlihatkan kepada bayi yang dinantikannya untuk dijadikan teman.


“Nanti Karina akan membuat bayinya pintar dalam bermain drum.”


“Ide yang sangat bagus, Nona,” ucap Eve yang selesai berkemas, matanya menatap kepada Jenni. “Apakah anda akan pergi sekarang, Nona Jenni?”


“Aku akan menyusul, sebaiknya kau pergi sekarang. Uncle Hans menunggu,” ucap Jenni sambil mengangkat koper itu dan membantu memasukannya ke dalam bagasi mobil di depan rumah Nana.


Di sana Hans sudah bersiap untuk ke rumah sakit.


“Kau mendengar bagaimana kabarnya, Uncle?” tanya Jenni memanggil Hans sebagaimana Karina selalu memanggilnya.


“Aku tidak tahu, Tuan Sebastian tidak bisa dihubungi.”


“Kau sudah memberitahu Tuan Arnold?” tanya Jenni lagi.


“Sudah, dia dalam perjalanan,” ucap Hans langsung masuk ke dalam mobil begitu Eve siap, dia langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.


Hans terkejut begitu mendengar kabar dari dokter kenalannya di rumah sakit itu bahwa istri dari Tuan Sebastian akan melahirkan, padahal Hans ingat sebelumnya bagaimana Sebastian memintanya tetap bersiaga agar dia tidak panic, bahkan Sebastian mengatakan dia tidak akan pernah panic dan akan menghubunginya dengan santai. Kenyataannya, Hans tidak kunjung menerima panggilan dari majikannya itu.


Begitu sampai di rumah sakit, keduanya langsung menaiki lift menuju ruangan VVIP di lantai atas sebagaimana dokter tersebut menghubungi Hans.


“Bagaimana keadaan Nyonya Holtzman? Apa dia sudah melahirkan?” Tanya Hans pada salah satu perawat di sana.


“Belum, Tuan. Masih ada beberapa tahap yang harus dilewatinya, dia berada di ruangan ujung itu.”


Eve terpengangah melihat beberapa ruangan kosong saat mereka melewatinya. “Apa Tuan Sebastian mengosongkan semua lantai ini?”

__ADS_1


“Dia pasti tidak ingin ada yang mengganggunya.”


“Boleh kami masuk?” tanya Eve begitu sampai di depan ruangan persalinan.


“Hanya dokter, mungkin kalian bisa menunggu.”


“Oh baiklah, aku akan menunggu di sini. Kau mendengar suara itu, Hans? Itu suara isak tangis?”


“Berhenti bicara denganku, aku akan berada di ujung lorong jika kau membutuhkan,” ucapnya berlari karena menahan mual. Sementara Eve berada di luar ruangan, dan melihat beberapa perawat yang sibuk membawakan beberapa makanan.


Sepertinya majikannya memang menderita, jadi Eve memilih untuk diam dan menunggu untuk dipanggil jika diperlukan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Arnold datang secepat mungkin, dia tidak ingin kehilangan moment kalau cucu perempuannya akan lahir. Arnold sengaja tidak membawa Michael karena ini sudah larut, dia datang hanya bersama dengan sopirnya.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Arnold begitu dia sampai di lantai paling atas dan langusng dipertemukan dengan Hans.


“Saya pikir masih belum.”


“Di ujung sana, Tuan.”


Arnold datang mendekat menuju pintu itu, sampai dia berpapasan dengan Eve saat hendak masuk.


“Eve, bagaimana keadaan Nana?”


“Eumm… itu….”


Kemudian telinga Arnold mendengar suara isak tangis dari dalam.


“Apakah aku aman jika masuk?”


Eve mengangguk dan mempersilahkan Arnold masuk. Begitu dia masuk ke dalam, matanya melihat Nana yang sedang memakan beberapa makanan sambil duduk di atas ranjang, tidak ada bekas air mata sedikitpun. “Nana? Kau baik baik saja?”


“Oh, hai, Dad. Kau datang?”


“Kau belum melahirkan?” tanya Arnold menatap perut Nana yang masih buncit.

__ADS_1


“Masih belum, aku harus menunggu beberapa saat dan mengisi tenagaku untuk nanti.”


“Apa tidak sakit?” tanya Arnold.


“Ini sakit pada awalnya, tapi aku mulai terbiasa. Dan makanan ini sangat enak,” ucap Nana sambil menyuapkan makanan itu ke mulutnya. “Aku tidak bisa berhenti memakannya.”


“Lalu siapa yang menangis?”


“Sebastian, dia ada di sana.”


Arnold menatap arah telunjuk Nana pada balkon,  membuat Arnold berjalan ke arah sana dan mendapati kalau putranya sedang menangis sambil menutup wajahnya dengan salah satu tangan.


“Bas?”


“Kau sudah memasang alat peredam suara? Apa suaraku masih terdengar keluar.”


“Bas!” BUK!


“Awww! Daddy?”


“Kenapa kau menangis? kau memalukan?”


“Dad, kau lihat Nana di sana?”


“Ya, lalu?”


“Dia tadi kesakitan, dan sekarang ceria sambil makan. Apa sesuatu terjadi padanya? Bagaimana bisa rasa sakit itu mengubahnya kemudian dia menjadi gila?”


Arnold menatap heran pada Sebastian. “Bas, satu satunya yang Daddy khawatirkan adalah dirimu yang akan menjadi sosok ayah. Dan kau….. astaga…. Berhenti menangis.”


“Aku kasihan pada Nana. Tidakkah Daddy paham apa yang aku rasakan?”


“Tuhan, siapa yang sedang melahirkan di sini?” gumam Arnold yang baru pertama kali melihat sifat seperti ini dari sosok Sebastian.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2