
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Hari itu telah tiba, dimana kini kandungan Nana memasuki usia 9 bulan. Tinggal menghitung hari dimana bayi mereka akan lahir, dan merawat sang Mommy dengan baik supaya siap menghadapi hari yang akan datang. Seperti sekarang ini, Sebastian dan Joy tengah memijat kaki sang Mommy..
Nana yang merasa dimanjakan itu hanya menatap televise dengan suasana hati yang begitu baik, apalagi dua orang kesayangannya it uterus saja memijat kakinya. Tidak lupa Nana memegang buah berry di tangannya, sesekali menyuap pada mulutnya.
“Au, Mom,” ucap Joy yang sedang memijat, dia tidak bisa sembarangan mengambil makanan karena tangannya oenuh dengan lotion.
Dengan mudah Nana menyuapi suami dan anaknya bergantian, memberikan buah berry terbaik yang ada di mangkuk itu.
“Lebih keras sedikit, Sayang,” ucap Nana memberi perintah.
“Ote, Mommy,” ucap Joy yang semangat segera melakukannya.Â
“Apa kurang keras?” tanya Sebastian.
“Sudah cukup, ini sangat menyenangkan.”
“Bagaimana kabar little pumkin kita?”
“Baik, tolong focus saja pada acara memijatnya, Daddy,” ucap Nana dengan nada manja.
Yang mana membuat Sebastian menelan ludahnya kasar kemudian mengangguk, dan memilih focus pada Joy yang menatap perut sang Mommy dengan tatapan horrornya. Jangan lupakan mulutnya yang tidak berhenti mengunyah.
“Ada apa?” tanya Sebastian. “Kenapa menatap Mommy seperti itu?”
“Peyut Mommy milip gunung.”
“kana da babby nya,” ucap Sebastian. “Sebentar lagi bayinya keluar, bisa bermain dengan Joy.”
“Pelutna dibelek?” tanya Joy dengan lucunya.
“Tidak, nanti keluar sendiri.”
“Lewat mana?”
__ADS_1
Sebastian selalu dilanda kebingungan jika harus dihadapkan dengan pertanyaan pertanyaan semacam ini. Dia mencoba mengalihkan pandangannya supaya tidak bertatapan dengan sang putri. Namun bukan Joy namanya yang selalu diselimuti rasa penasaran. Jadi dia mencubit tangan sang Daddy.
“Auu….,” ucap Sebastian dengan dramatis. “Ini sakit.”
“Gimana kelualna, Dad?”
“Ya keluar begitu saja.”
“Ewat ana?”
“Bayi punya terowongan khusus, untuk keluar.”
“Mana?” tanya Joy. “Duwu Joy kelual lewat cana?”
“Iya.”
“Au liat. Kalau Joy macuk agi boleh, mau liat baby.”
Seketika Nana yang sedari mendengarkan itu tersedak, dia menatap sang suami dengan mata tajamnya. Seolah meminta pertanggung jawaban dari sang suami.
“Oleh, Mom?”
“Yeayyy! Come on!” ucap Joy merentangkan tangannya minta digendong.
Dan dengan kekuatan penuh Sebastian menggendongnya. “Oke lets go.”
Dan sebelum pergi, dia mendapatkan tatapan tajam dari sang istri yang mengatakan, “Mas harus memijatnya nanti.”
“Anything for you, Darling.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Joy yang sudah mengerjakan PR, makan malam dan menyikat gigi, kini sedang melamun di jendela sambil melihat ke halaman depan rumah Karina, biasanya di sana ada Michael yang bermain dengan tetangganya.
Dan saat Joy sedang menguap, tiba tiba seseorang mengangkatnya dari belakang yang mana membuat Joy seketika berteriak, “Aaaaaa!”
Begitulah bocah itu panic karena tubuhnya diapung-apungkan ke udara sebelum akhirnya ditidurkan oleh sosok daddy yang tersenyum jahil padanya.
“Daddy!”
__ADS_1
“Sudah waktunya tidur, berhenti mengintip,” ucap Sebastian ikut tidur di samping sang putri. “Ayo tidur.”
“Au tidul cendili.”
“Jangan membuat Daddy tertipu, dulu kau menyelinap keluar di malam hari.”
“No.”
“Ayo tidur,” ucap Sebastian memeluk putri gembulnya itu.
Yang beberapa saat kemudian akhirnya dibalas oleh Joy. Bocah gendut itu membalas pelukan sang Daddy.Â
Keduanya terdiam beberapa saat, sampai akhirnya tangan Joy terulur menyentuh pipi Sebastian.
“Daddy…,” panggilnya dengan pelan.
“Yeah?”
“Baby akan hadil cebental lagi kan?”
“Heem,” jawab Sebastian masih memejamkan matanya.
“Anti Daddu macih cayang Joy?”
Saat itulah Sebastian membuka matanya, menghadap sang putri yang sepertinya sedang dilanda kegelisahan. Sebastian tau tatapan itu, semua orang akan mengalaminya ketika mereka akan merasakan perubahan baru dalam hidupnya, termasuk anak anak.
“Tentu saja. kehadiran baby akan membuat keluarga kita semakin bahagia. Dimana kebahagiaan kita semakin lengkap, semakin ramai untuk mengasihi satu sama lain.”
“Daddy nda belubah?” tanya Joy dengan mata yang berkaca-kaca.
Sebastian menunduk, dia merangkup pipi sang putri. Kemudian Sebastian menggeleng, “Tidak, karena Daddy bukan ultramen.”
Sontak Joy menangis kuat tatkala mendengar itu dari Daddynya.
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
MBUL TAKUT GAK DIKASIH JAJAN LAGI NIEH…..
__ADS_1