
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
“Joy ulang dulu ya, Kakek angan nakal.”
Arnold tersenyum mendengar itu, untuk yang kesekian kalinya dia mencium pipi gembul cucunya itu. Rasa bahagia semakin membuncah saat mendengar menantunya hamil anak kedua. Membuat Arnold lebih giat mencari pundi pundi dollar demi memberi hadiah.
“Nanti main lagi ke sini ya, Kakek buatkan lagi ayunan.”
“Api jangan yang bikin pantatt Joy dingin ya, Kek,” ucap bocah yang kini berada di pangkuan Arnold.
Kakeknya mengangguk. “Ndak lah, nantimah Kakek bikin yang dari kain besi biar Joy gak jatuh.”
“Emang ada? Kok kakek aneh cih?”
“Duh turunan kampung memang,” gumam Arnold yang menurunkan Joy. “Udah sana, pulang dulu tuh Mommy sama Daddy nya Joy udah nungguin.”
Joy menatap mobil yang berada sepuluh meter di depannya, dimana sang Mommy dan Daddy tengah membereskan barang bawaan berupa makanan yang disiapkan oleh Arnold untuk cucunya.
“Dah, Kakek.”
“Dadah Joy.”
Anak itu mulai melangkah, tapi tatapannya terus saja menengok ke belakang. “Angan kangen cama Joy.”
“Iya nggak kangen.”
“Kalau kangen main ya, bawain pudding cokelat uga buat Joy.”
“Iya.”
“Sama Jelly.”
“Oke.”
__ADS_1
“Sam⸻” BRUK! Joy terjatuh tengkurap akibat terus saja menengok ke belakang.
“Joy!” sang kakek langsung berlari dan menggendong cucunya, sementara kedua orangtuanya memilih diam saja melihat. Pasti sebentar lagi akan ada drama, apalagi Joy jatuh dengan cara tengkurap, batin Nana dan Sebastian.
“Mana yang sakit?”
“Pelut Joy cakit…. Hiks…”
“Sakit? Kita ke dokter ya. Bas! Anak kalian jatuh kok diem aja sih! Daddy bawa ke rumah sakit ya.”
“Ndak mau lumah cakit!” teriak Joy lantang menghentikan tangisaannya. Dia memegang perut buncitnya dan mengusapnya pelan. “Mam tadi kejepit, telus ilang. Mau mam agi, mau dolayaki punya kakek agi.”
“Kan katanya sakit?”
“Iya cakit, tuh pelutna kempes mam na kejepit. Halus diisi lagi inimah, Kek.”
🌹🌹🌹🌹
Dalam perjalanan pulang, Joy kembali muntah muntah di mobil karena dia makan banyak sebelum berangkat. Membuat Sebastian meringis mendengarnya, dia menatap sang anak dan istrinya yang ada di belakang. Sengaja berada di sana supaya lebih leluasa.
“Tuh kan, lihat sekarang. kalau dibilangin itu nurut, Joy. Kasihan kan Mommy,” omel Sebastian yang tidak terima istrinya harus menahan semua baud an juga rasa lelah di sana.
Joy kembali menyandarkan kepalanya di paha sang Mommy merasa lemas. Dan itu membuat Sebastian merasa bersalah, dia memang seharusnya tidak mengatakan itu. Seharusnya dia tau anaknya itu selalu tidak bisa berjauhan dengan makanan.
Dan senakal nakal atau segalak galaknya Nana, dia sangat menyayangi Joy. Sampai sampai dia menahan mualnya sendiri karena sang anak membutuhkannya.
“Mau berhenti dulu di resto?” tanya Sebastian.
“Au,” jawab Joy yang menjawab dengan nada lemah. “Au kentang goleng.”
Ya, semabuk apapun dan semarah apapun Joy, berikan saja dia makanan, pasti akan langsung gembira lagi. Lagipula anaknya itu memiliki sifat ibunya yang lebih masa bodo.
“Bagaimana pendapatmu, Sayang?”
“Berhenti dulu, Mas.”
Alhasil, mereka berhenti di salah satu restoran cepat saji. Dimana Joy langsung berbinar saat turun, apalagi melihat mascot ayam yang menyambutnya. “Emam emam emam!” teriaknya dengan girang, melupakan apa yng dirasakannya sebelumnya.
__ADS_1
“Mau apa?” tanya Sebastian begitu masuk.
“Au ayam goleng, kentang goleng, nugget roll, ama sup jagung.”
Nana menatap anaknya, membuat Joy sedikit ketakutan. “Um, gak pake naci deh,” ucapnya supaya amarah sang Mommy reda.
“Pesenin aja, Mas. Itu buat kita bertiga,” ucap Nana yang membuat bahu Joy lemas seketika.
Sebastian memberikan tatapan jahil pada anaknya, seolah mengatakan, ‘Hahahaha, kasihan deh si Mbul.’
Menunggu Sebastian yang memesan, Nana dan Joy sudah duduk di bangku dekat kaca jendela. Dan saat menunvgu itu, Nana merasakan perutnya berdenyut, ingin buang air besar tapi belum mencapai levelnya. Jadi Nana diam saja.
“Nah… ini dia makanannya,” ucap Sebastian datang dengan nampan di tangannya. “Ayo makan.”
Joy terlihat semangat, dia yang mengambil lebih dulu. “Au ini.”
“Bentar, Joy. Sayang kenapa kau diam saja? ingin apa hmm?”
Nana yang sedang menunggu sakit perut level 10 itu menggeleng. “Tidak.”
“Kau lelah yak arena Joy? Nanti aku berikan prada ya, Gucci ingin?”
Nana hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. “Makasih, Mas.”
“Apapun untukmu, Sayang.”
“Joy au itu ih!”
“Iya, Mbul, iya ini buat Mbul.”
Dan saat Sebastian sibuk menata makanannya, dia mencium bau sesuatu. Dia mendengus pada sekitarnya kemudian menutup hidung. “Joy kentut ya? Ngak, Mbul.”
“Ih ndak ih!” bocah itu tidak terima, dia menatap sang Mommy meminta bantuan. namun justru sang Mommy ikut menutup hidung. “Iya bau ya.”
“Ih! Joy nda kentut, Mommy!”
‘Maaf, Joy. Mommy jaga image, kan mau dikasih Prada,’ batin Nana menjerit.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE