Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Sifat kanak kanak


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak.🌹


🌹Terus juga follow igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian, jadi selamat membaca ya anak anak.🌹


Lucille panic saat dia kembali mendapatkan telpon dari nomor yang tidak dikenalnya. Itu adalah ayah kandung Michaell, dan hanya dia yang mengetahui fakta itu.


“Siapa yang menelpon?” tanya Arnold.


Pertanyaan itu membuat Lucille segera mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam tas. Dia tersenyum untuk mengalihkan perhatian, Lucille mengusap kepala putranya yang sedang makan malam. “ (Bagaimana? Apa kau suka hari ini?)”


Michael yang telah jalan jalan seharian bersama kedua orang tuanya itu tersenyum sambil mengangguk. “I’am very happy today. Thanks, Mommy. Thanks, Daddy. (Aku sangat bahagia hari ini.)


“Anything for you. (Apapun untukmu.)” ucap Arnold. 


Lucille tersenyum melihat Arnold masih menganggap Michael sebagai putranya. “Aku pikir Michael harus kau kenalkan pada para pemegang saham.”


“Untuk apa?” tanya Arnold.


“Tentu saja supaya mereka lebih kenal dengan Michael.”


“Untuk apa?” tanya Arnold lagi.


“Sayang,” ucap Lucille. “Aku hanya ingin Michael meneruskan jejakmu.”


“Jejak apa? Perusahaan itu milik Sebastian.”


Lucille berdecak. “Apa kau tidak kasihan pada anakmu ini? Kau tidak memberikan apapun padanya.”


“Aku memberikan banyak padanya, aku mempersiapkan semuanya. Lapangan golf, dan beberapa penginapan. Itu bisa menghidupinya jika aku mati nanti.”

__ADS_1


“Itu tidak seberapa dari perusahaan mu, Sayang.”


Arnold mendesah, dia malas memperdebatkan hal ini kembali. “Sudah kukatan berulang kali, itu milik Sebastian. Dan akan selamanya seperti itu. Aku tidak ingin bertengkar, cepat selesaikan dan kita akan pergi.”


Lucille menatap kepergian suaminya dengan tatapan tajam, dia sangat kesal.


“Mommy, are you okay? (Mommy, apa kau baik baik saja?)”


“Ya, Mommy baik baik saja. Michael. Jangan khawatir, kau akan mendapatkan semuanya.”


Mereka bangun terlambat karena semalaman bergadang, membuat Nana susah tidur apalagi suaminya yang tidak membiarkannya pergi jauh jauh.


Dan karena itu, meskipun bangun terlambat, Nana yang lebih dulu bangun. Demi menghindari serangan dari suaminya, perlahan Nana bangkit dan dan masuk ke kamar mandi untuk mandi sendirian.


Setangguh tangguhnya dirinya, tidak akan bisa menandingi sang suami jika sudah berada di atas ranjang. 


Nana menghela napas dalam merasa aman jika sudah berada di dalam kamar mandi, dia mengunci pintu dan mulai menikmati kesendiriannya.


Saat sedang berendam, Nana melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Dadanya penuh dengan tanda kemerahan yang diciptakan sang suami.


Masih ada rasa tidak percaya kalau dirinya kini menjadi istri seorang pengusaha kaya.


Saat sedang tenang, tiba tiba terdengar ketukan. “Sayang….”


Dan itu membuat Nana terdiam sejenak. “Belum selesai, Mas.”


“Mandi berdua yuk, aku ikutan.”


“Nanti aja, takut malah bukan mandi.”


“Yakin mandi doang.”

__ADS_1


“Enggak, Mas. Nanti aku mabok di pesawat gimana?”


“Lah apa hubungannya?” tanya Sebastian di luar sana.


Yang mana membuat Nana terdiam, dia juga bingung dengan maksud yang ditujukannya. “Ah udah ah jangan.”


“Nana Sayang.”


Dan Nana berusaha tidak mendengarkan, dia mengatakan kalimat ini sebelum menyalakan air, “Demi kesejahteraan bangsa dan Negara, lebih baik Mas tunggu saja di luar, nanti gentian. Oke?”


Kemudian Nana menyalakan air supaya suara suaminya dari luar sana terendam.


Nana menikmati kesendiriannya selama beberapa menit, dan setelah selesai dia segera melilitkan handuk beberapa lapis untuk berjaga jaga. Sepertinya dia tidak boleh sering mengajak Sebastian melakukan kegiatan membuat anak mengingat suaminya susah berhenti.


Ketika keluar, Nana tidak mendapati suaminya.


“Mas?”


Tetap tidak ada jawaban.


“Mas, kamu dimana?”


“Sayang, aku di sini,” jawab Sebastian dari arah luar.


Nana berjalan ke arah balkon, tapi dia tidak mendapati siapa pun di sana.  “Mas? Kamu dimana?”


“Lihat ke sini, Sayang.”


Dan saat Nana melihat ke arah kanan di mana sumber suara berada, Nana terkejut bukan main mendapati suaminya yang berjalan di dinding dengan pijakan hanya setengah tapak. Entah apa yang dilakukannya di sana, tapi itu berhasil membuat Nana panic. “Mas, ngapain di sana?”


Sebastian yang terjebak itu hanya tersenyum. “Ehehehe, tadinya mau ke kamar mandi lewat jalan sini mau gabung. Eh jendelanya dikunci sama kamu.”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2