Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Ingin jalan jalan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE, BINTANG LIMA SAMA ULASAN BAGUS YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹


🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY122🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹


Sebastian sedikit berat untuk pergi, apalagi meninggalkan Nana yang baru saja meninggalkan kata kata manis untuknya. Dia tidak ingin pergi begitu saja, jika bisa Sebastian ingin menghabiskan waktunya di atas ranjang bersama istrinya seharian.


"Aku malas bekerja," ucap Sebastian yang sedang diantar oleh Nana menuju pintu depan.


"Aku juga maled punya anak kalau Mas males kerja."


"Kok gitu?" tanya Sebastian pada istrinya yang ada dalam rangkulannya. 


"Nanti anak kita dikasih makan apa? Lagian kerja juga gak selamanya, nanti malem kan pulang juga."


Sebastian memilih diam dan tidak melawan, bisa bisa dirinya tidak mendapat jatah nanti malam. "Kalau mau kemana mana sama Eve ya."


"Nanti ada tutor kan ke sini yang bakalan ngajar?"


"Iya."


"Kalau misalkan aku ajak temen ke rumah gak papa?"


"Siapa?" tanya Sebastian. Seingatnya, Nana tidak memiliki teman. Itu yang membuat Sebastian setidaknya tenang karena pergaulan Nana hanya bersama dengannya.


"Sama Kak Yumna, tetangga rumah itu."


"Dari kampung mau ke sini?"


"Enggak, dia kan suka ke kota juga punya rumah di kota."


"Gak papa lah. Kapan emang?"

__ADS_1


"Gak tau," ucap Nana dengan polosnya. "Aku mau tau aja kamu izinin aku bawa temen atau nggak."


Sebastian yang gemas itu mencubit hidung istrinya. "Hati hati di rumah ya."


"Iya."


"Kiss dulu."


Nana melihat sekelilingnya, ada pelayan dan juga Hans yang menjemput Sebastian. Terlepas dari itu, kegenitan Nana hanya datang di waktu tertentu saja. Khususnya saat dia gemas pada Sebastian.


CUP.


Nana mengecup pipi suaminya.


"Kok di sana sih?" tanya Sebastian.


"Udah sana berangkat."


"Ciee…. Malu ya?" goda Sebastian yang membuat Nana menarik napas dalam dan melangkah mundur. "Iya iya nanti di kamar, aku paham. Berangkat dulu ya, I love you."


"Kenapa gak masuk?" tanya Nana.


"Kamu gak bales bilang i love you too ke aku?"


Pipi Nana memerah seketika, apalagi ada beberapa pekerja yang mendengarnya. "Udah sana berangkat."


"Bilang dulu i love you too. Cepetan," rengek Sebastian yang membuat Nana terkejut.


Apalagi Hans yang sudah lama bekerja padanya.


"Sayang….."


"I love you too. Udah dah," ucap Nana bergegas masuk, menghindari Sebastian yang mengatakan sesuatu yang aneh lagi.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


Seperti keinginannya, Nana akhirnya belajar sesuai yang dikatakan oleh Sebastian.


Dia belajar berbagai hal. Dan Nana lebih fokus pada wawasan di berbagai dunia ini. 


Seperti Nana menanyakan tentang, "Apa kabudayaan di afrika yang kau jelaskan itu masih bertahan?"


Memang Nana tertarik pada sejarah selain belajar bahasa asing. Dia mungkin tidak hebat dalam matematika, fisika dan kimia, tapi Nana memiliki wawasan yang luas.


"Bisa kau rekomendasikan buku buku yang menurutmu bagus aku baca saat malam hari?"


"Tentu, Nyonya," ucap tutor itu menuliskannya. "Ini dia."


"Terima kasih, sampai jumpa lagi besok."


Jadwal belajar adalah senin sampai jumat, atau jika Sebastian di rumah maka tidak ada les private. Karena Sebastian sendiri yang katanya akan mengajar.


Setelah tutornya pergi, Nana menemui Eve.


"Eve, bisakah kita keluar?"


"Kemana anda ingin pergi, Nyonya?"


"Aku ingin membeli buku ini di Gramedia."


"Tentu saja, Nyonya."


"Aku akan bersiap dulu."


"Silahkan."


Nana menaiki tangga, wajahnya datar seperti biasa. Namun setelah masuk ke kamarnya, Nana meloncat loncat kesenangan. Rasanya menyenangkan sekali belajar seperti ini. Apalagi kini dia dengan mudahnya keluar sesukanya. Sampai Nana ingat. "Harus izin dulu sama Mas Babas, takut dia pulang nyari induknya," gumam Nana mengingat ini sudah sore.

__ADS_1


🌹🌹🌹


To be continue


__ADS_2