
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN ANAK ANAK.🌹
Oma tidak henti hentinya mengusap punggung Nana yang menangis dalam pelukannya. Begitupun Lily yang melihatnya, dia ikut mengusap punggung Nana yang bergetar.
“Lepaskan saja semuanya, tapi janji ini yang terakhir kalinya. Ingat, hidup tetap berjalan. Salah satu agar kau bisa membuat ayahmu bahagia di sana adalah dengan memberinya do’a,” ucap Oma menasehati Nana dengan sangat lembut.
“Lihat Oma, tatap mata Oma,” ucap Oma yang membuat Nana menegakan tubuhnya dan membiarkan Oma mengusap air matanya.
“Ingat, ada bayi yang harus kau jaga.”
Nana terdiam.
“Na, aku yahu kau sedih. Tapi hanya untuk hari ini saja, oke?” tanya Lily.
Membuat Nana perlahan membuka mulutnya dan berkata, “Aku menikahi Mas Sebastian agar Ayahku bisa sembuh.”
“Lalu?”
“Aku sedikit kesal,” ucapnya sambil berisak tangis.
Membuat Oma menghela napas dan berkata, “Tapi menikahi Sebastian tidak sia sia juga kan. Lihat kau menjadi Nyonya Feguera, dank au akan melahirkan Feguera berikutnya. Kau mendapatkan keluarga.”
Nana terdiam kembali.
Membuat Lily menggenggam tangannya. “Aku paham perasaan itu, apalagi dia sosok yang membuat kita berharap setiap harinya bukan? Tapi kematian bukan akhir segalanya, tapi itu adalah awal. Bagaimana orang terkasihmu ada di sisi-Nya, jadi yang kita lakukan adalah berdo’a untuknya.”
“Terima kasih, Kak Lily.”
__ADS_1
“Sudah, jangan menangis lagi.”
Nana mengusap air matanya dan hendak beranjak dari duduknya. Tapi tertahan saat Lily tidak melepaskan tangannya. “Kau mau kemana?”
“Aku harus bersiap siap, ayah mertuaku akan datang, Oma.”
“Arnold? Dia di sini?”
Nana mengangguk, “Aku harus tampil baik agar Mas Sebastian tidak malu.”
“Tidak ada suami yang malu akan istrinya, Nana. Apalagi jika istrinya sedang mengandung anaknya,” ucap Lily tidak suka.
Nana tersenyum tipis. “Terima kasih atas kedatangan kalian, aku sangat bahagia.”
“Mainlah ke rumah, atau jika itu terlalu jauh, datang ke toko bunga, itu tidak terlalu jauh bukan?”
Nana mengangguk. “Akan aku lakukan, Oma.”
Oma tersenyum, dengan tangan keriputnya dia mengusap pipi Nana. “Dan jika Sebstian membuatmu kesal, beritahu Oma. Akan Oma jitak kepalanya. Bule tua itu seharusnya lebih dewasa, dia begitu bukan?”
“Wah Nana, itu terlalu,” gumam Lily.
🌹🌹🌹🌹🌹
“Kau sebaiknya istirahat, Sayang,” ucap Sebastian. “Biar aku yang menangani ayahku.”
“Tidak sopan jika aku tidak menemuinya, Mas.”
“Baiklah, tapi jangan siapkan apapun. Dia mungkin sudah makan malam di sana. Ingat, dia menyebalkan.”
“Dia tetap ayahmu.”
__ADS_1
Sebastian mengendus kesal, yang mana membuat Nana mencium dagunya sambil berjinjit. “Ayolah, Mas bilang ingin memulai yang baru.”
“Memulai yang baru? Kau setuju untuk kita pindah ke Amerika?”
“Kita tidak serumah dengan ayahmu bukan?”
Sebastian mengangguk. “Tidak, Sayang. Kita tidak akan serumah dengannya. Kini kau merasakannya? Ayahku menyebalkan bukan?”
“Bukan seperti itu, aku kasihan pada Michael, kau selalu kesal padanya.”
Jawaban tidak terduga itu membuat Sebastian terdiam.
Saat dia hendak mengatakan sesuatu, terdengar seseorang masuk ke dalam.
“Menantuku, aku turut berduka cita atas kepergian ayahmu. Semoga dia berada di sisi terbaik-Nya.”
“Terima kasih, Papa.”
“Dan aku berharap kau dan bayimu selalu dalam keadaan sehat.”
“Terima kasih.”
“Michael membuatkan sesuatu untukmu,” Ucap Arnold menatap anak kecil di sampingnya. “Berikan padanya, Mike.”
Michael mendekat dan memberikan bingkisan berupa parcel yang isinya adalah cokelat. “Agar bayimu tidak sedih.”
“Astaga, terima kasih, Mike.”
Yang mana membuat Sebastian mengerutkan keningnya.
“Tenanglah, Son. Dia hanya memberi istrimu cokelat.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE