Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Kebenarannya


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JANGAN LUPA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN UNTUK BACA KARYA RECEH EMAK INI YA.🌹


Sebastian mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang, sesekali tangan itu turun dan mengusap perut buncit Nana. Dalam setiap sentuhannya, Nana merasakan bagaimana sayangnya Sebastian kepada calon bayi mereka, dia juga menghujani puncak kepala Nana dengan kecupan sebagai permintaan maaf karena telah menyembunyikan semuanya.


“Maafkan aku, Sayang,” ucap Sebastian yang kesekian kalinya.


Sejak tadi, Nana tidak berbicara sama sekali. Dia hanya berbaring di samping suaminya, bagaimana salah satu kakinya menindih pada Sebastian dengan menjadikan dada bidang suaminya sebagai pengganti bantal. Tangan Nana membuat pola acak sambil memainkan kancing.


Nana bukanlah tipe orang yang berlarut larut dalam suatu hal, tapi ini adalah hal berbeda. Ini menyangkut masa depannya, masa depan keluarganya.


“Sayang,” ucap Sebastian lagi mencoba membawa Nana pada kesadaran, Sebastian sadar bagaimana istrinya itu memendam amarah. “Kau boleh memukulku, jangan diamkan aku seperti ini.”


“Aku lebih suka memelukmu,” ucap Nana tidak munafik.


Inilah yang Sebastian sukai dari istrinya, bagaimana sosok ini tidak pernah menyembunyikan perasaannya dan berkata apa adanya.


“Maafkan aku, Sayang. Aku sangat menyayangi kalian, aku menantikan anak perempuan kita. Sangat.”


“Jika kau menyayanginya….,” ucapan Nana tersendat karena tenggorokannya tercekat, dia menahan tangisannya mati matian. Nana mengadah demi menatap manik sang suami yang begitu indah. “Jika kau menyayanginya, maka kau harus bertahan, Mas. Kau tega meninggalkanku bersamanya?”


“Sayang…., maafkan aku. Aku pikir apa yang aku lakukan adalah hal benar, menyembunyikan ini darimu dan bekerja dengan sangat keras untuk masa depan kalian.”


Tangan Nana terulur mengusap pipi suaminya, dia sedih dan marah pada dirinya sendiri yang tidak mengetahui keadaan Sebastian. “Maaf aku tidak tahu.”


“Hei, ini bukan salahmu, Sayang. Jangan menangis lagi, air matamu terlalu berharga,” ucap Sebastian mengecup kelopak mata istrinya. “Aku mencintaimu. Sangat.”


“Maka jangan pikirkan warisan dari ayahmu, uang yang kau berikan lebih dari cukup, Mas,” ucap Nana yang mulai mengomel, dia menarik napasnya dalam. “Meskipun tidak mendapatkan warisan, kau masih kaya, Mas. Kau tidak ingat membelikan ayahku sawah yang begitu banyak?”


Sebastian terkekeh. “Menjadi juragan sawah?”


“Mas, percayalah, aku tidak akan menikmati harta itu bersama anak kita jika kau tidak ada di sana.”


Sekali lagi, Sebastian mengeratkan pelukannya dan menghujani puncak kepala istrinya dengan ciuman. “Iya, Sayang. Aku tahu. Maafkan aku.”


“Yang terpenting adalah kesembuhanmu. Jika pun kita tidak punya lagi banyak uanng, pulang saja ke Indonesia. Ayo kita buka warung seblak, atau menjadi juragan sawah. Otakku ini otak bisnis, jangan menyepelekan aku.”


Sebastian dibuat tertawa oleh omelan Nana, ditambah dengan ekspresinya yang gemas ingin menelan Sebastian bulat bulat.


Kenyataannya, Sebastian masih memiliki perusahaan kapal pesiar miliknya. Jadi dia tidak akan menjadi semiskin itu, mereka masih bisa liburan setiap bulan ke negara lain. Perusahaannya sudah membesar melebihi milik Arnold, hanya saja…. itulah yang dinamakan keserakahan.


“Jangan bekerja sebelum kau sembuh, Mas. Jika keluar pun aku akan ikut. Kau tahu, Mas? Aku pernah salah sangka pada Jenni, aku pikir dia selingkuhanmu.”


Sebastian tertawa. “Selingkuhan? Astaga, bagaimana bisa?”


“Kau selalu menyebut namanya dalam setiap percakapan kita, itu menyebalkan.”

__ADS_1


“Tidak, Sayang…,” ucapnya lembut sambil mengusap kepala istrinya. “Lagipula milikku hanya terbangun jika kau yang menyentilnya.”


“Apa artinya?”


Belum sempat Sebastian menjawab, suara gemuruh dari perutnya berbunyi. Nana mengerutkan keningnya, dia tahu beberapa saat yang lalu suaminya ini makan dengan lahap.


“Mas, lapar?”


“Sayang, tolong minta Eve atau Hans membelikan aku cemilan.”


“Mas ingin apa?” tanya Nana sambil mendudukan dirinya, tatapannya masih terpaku pada sang suami yang berbaring.


“Katanya waffle di kantin rumah sakit enak.”


“Baiklah.”


“Kenapa kau yang pergi, Sayang?” tanya Sebastian menahan istrinya yang akan beranjak pergi, membuatnya ikut mendudukan diri. “Suruh yang lain saja.”


“Aku masih kesal padamu, Mas. Aku ingin keluar sambil mengambil udara.”


“Tapi, aku di sini sendirian.”


“Tidak akan ada yang mau menculik pria sepertimu, Mas. Sudah aku akan turun sebentar.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Nyonya, anda mau kemana?” tanya Eve yang berjalan mendekat dari ujung koridor. “Anda membutuhkan sesuatu?”


“Nona Jenni sudah pulang, dia memberikan ini pada anda jika anda membutuhkannya,” ucap Eve memberikan kartu nama.


Nana mengangguk, ini memang sudah malam. Bahkan larut, sudah saatnya Jenni istirahat. Membuat Nana menyimpan kartu namanya di saku, dia akan menghubunginya besok. “Aku akan ke kantin rumah sakit.”


“Anda memerlukan sesuatu? Biar saya yang keluar.”


“Tidak, Eve. Aku butuh udara segar,” ucap Nana melangkah menaiki lift khusus untuk pasien VVIP di sini.


Bahkan perawat dan dokternya khusus untuk menjaga di lantai ini. sebelum pintu lift tertutup, Eve menahannya dan ikut masuk.


“Kau juga lapar, Eve?”


“Saya tidak bisa meninggalkan anda sendirian, Nyonya.”


Nana hanya tersennyum, dia menekan lantai yang akan ditujunya. Kantin umum rumah sakit berada di lantai dasar.


Dan saat Nana berjalan melewati lobi, dia melihat sosok Arnold bersama dengan sekretarisnya sedang bicara dengan resepsionis. Sepertinya menanykan keberadaan putranya.


“Dad,” ucap Nana mendekat.


Pria tua itu membalikan badannya. Meninggalkan perawat yang sedang bicara dengannya dan memilih mendekati menantunya. “Nana, bagaimana keadaan Sebastian?”

__ADS_1


“Sudah lebih baik, bisakah kita bicara sebentar?”


“Tentu.”


“Hanya berdua, Dad,” ucap Nana masih menahan rasa kesalnya karena ulah mertuanya, suaminya menjadi kerja begitu keras.


“Tentu.”


“Hanya berdua.”


Kalimat itu membuat Arnold memberi tatapan pada Eve dan sekretarisnya untuk memberikan mereka ruang.


“Duduklah, aku tidak ingin cucuku merasa tidak nyaman di sana.”


Nana tersenyum dan duduk di bangku tunggu, bahkan lobi kini sepi karena jam sudah melewati tengah malam.


“Bagaimana kandunganmu? Dia tidak terkejut dengan keadaan ayahnya?”


“Daddy tahu apa yang terjadi dengan Sebastian?”


“Aku hanya mendengar dia sedang sakit. Parah bukan?”


Nana mengangguk, dia memeluk perutnya lalu berkata, “Kami melakukan USG beberapa hari yang lalu, jenis kelaminnya perempuan.”


Berbeda dari dugaan Nana, Arnold merentangkan tangannya ke udara sambil mengatakan, “Puji Tuhan, aku akan punya cucu perempuan.”


Bahkan Nana terkejut dibuatnya. Bagaimana tidak? Itu adalah ekspresi paling membahagiakan yang Nana lihat. Mata Arnold berkaca kaca menahan tangisan, apalagi saat tangannya menyentuh perut Nana. “Aku sangat bersyukur, cucu perempuanku.”


“Tidakah Daddy kecewa?” tanya Nana bingung.


“Kecewa karena apa?”


“Karena dia perempuan.”


“Astaga, Nak. Kau tidak boleh menyepelekan pemberian ini. ini adalah rahmat Tuhan.”


“Bukankah Daddy ingin cucu laki laki?”


“Cucu laki laki atau perempuan tidak penting, asalkan dia sehat,” ucapnya menyeka air mata.


“Untuk memberikan warisan?”


“Apa?” tanya Arnold bingung.


“Sebastian bilang, Daddy akan memberikan warisannya jika cucumu laki laki, dan dia adalah perempuan. Bukankah seharusnya Daddy kecewa?”


Arnold mengerutkan keningnya sambil tertawa hambar. “Nana, apa kau tidak berencana membuat anak lagi? Kau masih bisa melakukannya bukan? tidak harus anak pertama, asalkan itu laki laki. Bukankah seharusnya Sebastian bahagia karena Daddy menyuruhnya terus memproduksi anak sampai mendapatkan anak laki laki? Haha, dia pasti bahagia bukan mendengar anaknya perempuan? Dia bisa terus mencoba sampai cucu pertama daddy ini mendapatkan saudara laki laki.”


Penjelasan Arnold membuat Nana memejamkan mata dan mengusap keningnya sendiri. Andai saja…. andai saja memukul kepala orang bukanlah dosa…. Andai saja……

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2