Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Bayi kedua


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


🌹PERKIRAAN JOY KECIL TAMAT TANGGAL 22 BULAN INI YA.🌹


BRAK!


“Donaaaaattt!” teriak Joy tatkala donat yang ada di tangannya menggelinding karena suara pintu terbuka secara kasar. Seketika matanya menatap sang Daddy yang berada diambang pintu. Bukannya kaget, Joy malah menangis kencang. “Huaaaaa! Donaaattt!” teriaknyaa dengan kacau wajah dipenuhi cokelat.


“Daddy jaat ih! Donat Joy gelinding ndaa bica dimakann! Huaaaa!”


Bukannya merasa menyesal, Sebastian sangat menyukai moment ini. dia tersenyum kemudian membuka ponselnya. Merekam sang anak kemudian berkata, “Daddy akan mengirim ini pada Uncle Aheng –mu,” ucap Sebastian yang membuat Joy seketika berhenti menangis.


“Daddy mah ntuuu ih.”


“Senyum ayo.”


“Joy nan da tantik.”


“Halah, emang kapan Joy cantik?”


“Jahat ya, bilangin Mommy loh, anti gak bobo baleng.”


Bukannya takut, Sebastian malah tertawa terbahak-bahak. Dia memasukan kembali ponselnya dan menatap sang anak dengan penuh tantangan. “Joy tau? Mommy memanggil Joy untuk turun, dia marah karena Joy menghabiskan makanan di dalam kulkas.”


Seketika Joy menegang, bocah berpipi gembil itu ketakutan. “Daddy.”


“Gak tau,” ucap Sebastian melangkah masuk keluar kamar dengan mudahnya, meninggalkan sosok bocah yang terlihat seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


Joy mengerucutkan bibir, bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dia takut jika sang Mommy sudah memanggilnya secara resmi seperti ini.

__ADS_1


“Joy! Mommy mu menunggu,” ucap Sebastian yang sepertinya sudah ada di lantai bawah.


Membuat Joy menelan salivanya kasar, dia mengambil tissue dan membersihkan pipinya meskipun tidak hilang sepenuhnya. Kemudian dia melangkah keluar, dengan mata yang waspada.


Dia menuruni tangga, dengan pipinya yang bergetar karena langkahnya yang sengaja di hentakan. Berharap sang Mommy menyadari keberadaannya kemudian memanggilnya untuk memeluknya.


Kenyataannya, Mommy nya malah tetap menatap ponsel dengan santai.


“Mummm,” panggil Joy dengan bibir mengerucut.


“Kenapa?” tanya Nana tanpa mengalihkan pandangannya. “Nanti kalau sakit perut, poop sendiri ya. Kalau demam, ke dokter sendiri ya.”


“Tenapa?”


“Joy kan udah gak denger Mommy lagi. Jadi Mommy gak perlu ngurus Joy lagi, Joy kan tau apa yang baik atau nggak buat Joy.”


“Ihhh… Maaf,” ucap bocah itu menangis seketika. “Solly, Mommy. Hiks…. Nda agi… nda agi kok… hiks… nda agi… au dicayang Mommy aja, ndaa makan.”


Malam itu, ketiganya berakhir tidur bersama di kamar utama. Joy yang habis menangis tersedu-sedu itu bahkan tidak mau diberikan susu, dia meminta izin sang Mommy dahulu sebelum benar benar menerimanya.


“Aku senang, rasa sedih Joy pada Michael tidak sampai membuat nafsu makannya hilang,” ucap Sebastian yang tengah mengusap rambut putrinya yang tidur.


“Ya, jika sampai Joy tidak makan, berarti itu sudah parah,” ucap Nana yang sibuk mengelus perut buncitnya.


Sementara Sebastian tidak bisa berhenti menyentuh pipi sang anak karena gemas. “Seperti buntelan apaa ya?” gumam Sebastian.


“Berhenti menggigit pipi putrimu.”


“Tapi dia gemas.”


Nana menerucutkan bibirnya. Joy sudah tidur, bukankah ini waktunya mereka bisa berduaan? Tapi suaminya itu tidak bisa melepaskan pandangannya dari sang anak.


“Mas?”

__ADS_1


“Hmmm?”


“Joy sudah tidur, jangan mengganggunya.”


“Aku gemas, ingin menggigitnya.”


“Gigit saja bibirku,” ucap Nana yang seolah memberikan air pada seseorang yang tidak minum selama berbulan-bulan.


Mata Sebastian membulat seketika, dia tersenyum penuh dengan rasa senang sebelum menegakan tubuhnya kemudian mencondong untuk mencium sang istri.


Mereka berdua salin mencondongkan tubuh, berciuman di atas kepala putrinya yang tertidur.


Sebastian yang tidak bisa menahan gairah itu semakin mendekat, membuat tubuh gempal Joy yang sedang tidur sedikit terusik.


“Kejepit,” gumam bocah itu mulai membuka matanya karena merasa sesak terjepit.


Dia mengerutkan keningnya dan mencoba berontak secara perlahan, sampai dia menyadari sesuatu kemudian berkata, “Ihhhh! Mommy ngompollll!” teriaknya yang membuat dua orang dewasa itu saling melepaskan tautan bibir.


Sebastian kaget, napasnya memendek teringat bagaimana dulu ketika sang istri melahirkan Joy. “Air ketuban?”


“Ihh, Mommy pipis cih? Lupa kamal mandi ya?”


“Sayang, bagaimana ini?”


Nana berdecak. “Bangunkan pelayan dan pengasuh, lalu suruh Hans kemari untuk membawaku ke rumah sakit,” ucapnya dengan santai.


“Makan malam besok? Bagaimana, Sayang?”


Nana menghela napasnya. “Kita bisa makan malam di rumah sakit. Kenapa jika panic pikiranmu pergi, Mas? ayo bantu aku, jangan memeluk Joy.”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2