
🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak🌹
🌹igeh emak juga difollow ya anak anak kesayangan emak : @RedLily123🌹
🌹Emak sayang kalian, selamat membaca.🌹
Nana memegang perutnya saat dia keluar dari ruangan dokter. Membuat Eve yang mengantarnya segera berdiri, dia sendiri penasaran dengan hasilnya.
"Bagaimana, Nyonya?"
Nana masih terdiam, yang mana membuat Eve mengguncang tubuh majikannya sendiri.
"Nyonya?"
Nana masih diam dengan tatapan kosongnya, dia bahkan tidak menatap Eve.
Yang mana membuat Eve salah mengira dan berfikir kalau Nana tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Jadi Eve merasa bersalah telah merekomendasikan majikannya untuk pergi ke dokter kandungan. "Maafkan saya, Nyonya."
Nana masih diam.
"Semua akan indah pada waktunya, saya selalu berdoa agar an--"
"Ini yang aku harapkan," ucap Nana pda akhirnya.
"Ya?" Tanya Eve yang tidak paham.
"Eve!" Nana menatap mata Eve pada akhirnya, dan terlihat kalau matanya berbinar di sana. "Aku hamil."
"Astaga, Nyonya! Selamat untuk anda. Tuhan menyertai anda, semoga anda selalu dalam lindungannya."
Keduanya otomatis saling berpelukan satu sama lain. Dan saat Nana mulai meloncat loncat, Eve segera melepaskan pelukannya.
"Nyonya, anda harus hati hati."
"Ah iya, kandunganku," ucap Nana dengan senyuman indahnya
"Apa anda sudah memberitahu Tuan?"
Nana menggeleng. "Aku ingin memberikannya kejutan, bagaimana?"
__ADS_1
"Itu akan baik."
"Ayo pergi ke mall, kita buat kado untuknya."
"Baik, Nyonya."
Ingin menjaga majikannya, Eve bahkan kini berjalan lebih dekat. Karena Nana tidak suka sentuhan dan berdekatan dengan orang lain, jadi Eve berjalan di belakangnya.
"Eve, berjalanlah bersamaku."
"Saya mengawasi anda dari sini, Nyonya."
Kalimat itu membuat Nana tertawa. "Kau ini."
Nana juga tidak bisa memungkiri rasa bahagianya. Akhirnya, setelah sekian lama penantian. Dirinya mendapatkan kepercayaan dari Tuhan.
"Hadiah apa ya?" Tanya Nana saat mereka berada di dalam mobil. "Untuk disandingkan dengan foto USG?"
"Setangkai bunga akan sangat bagus, Nyonya."
"Aku ingin menjahilinya, Eve. Bagaimana kalau kita beli kotak besar dan isi dengan kertas, dengan foto USG terkubur di dalamnya."
"Itu akan sangat bagus, Nyonya."
🌹🌹🌹
Sebastian pulang pada sore hari seperti biasaya. Tidak mendapati sang istri berada di lantai satu, Sebastian langsung melangkah menuju ke kamarnya.
Tapi di sana juga tidak didapati istrinya.
"Sayang?" Panggil Sebastian.
Tidak ada jawaban, membuat Sebastian buru buru mencari keberadaan istrinya tanpa mengganti pakaian atau pun mandi.
"Sayang?" Panggilnya di penjuru lantai dua.
Karena tidak didapati, Sebastian kembali turun ke lantai utama. Dia bertanya kepada Eve, "Eve, dimana istriku?"
"Nyonya sedang berada di kebun belakang."
"Dia tahu aku pulang?"
__ADS_1
"Perlu saya panggilkan, Tuan?"
"Ya, panggilkan dia, aku akan mandi dulu," ucap Sebastian kembali naik ke lantai dua.
Sebastian mandi karena merasa sangat gerah. Dia berharap istrinya datang dan ikut mandi bersamanya.
Namun, sampai dirinya selesai mandi pun, Nana tidak datang.
Sampai Sebastian keluar dan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya.
Dia mengerutkan keningnya melihat ada kotak hadiah di sana.
"Apa itu untukku?" Tanya Sebastian.
Dia berpakaian dulu sebelum akhirnya duduk manis di sofa dan membukanya. Ternyata isinya adalah potongan kertas.
Sebastian tidak berniat mengacak acaknya. "Mungkin sampah bekas Nana," ucapnya membawanya dan memasukannya ke tempat sampah.
Sebastian keluar dari kamar menuju kebun belakang untuk menemui Nana.
"Hallo, Sayang."
"Hai," balas Nana dengan senyuman. "Mas melihatnya?"
"Melihat apa?"
"Hadiah apa?"
"Kotak hadiah dariku."
"Yang isinya sampah?"
"Apa? Mas pikir itu sampah?"
"Ya, aku membuangnya."
Mata Nana melotot. "Astaga, ini tidak seru," ucapnya menahan kesal dan melewati Sebastian.
"Kenapa, Sayang? Apa salahku?"
🌹🌹🌹
__ADS_1
To Be Continue