Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Sebuah Harga


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya🌹


🌹Follow igeh emak di : @RedLily123🌹


🌹Stay Safe, emak sayang kalian🌹


Sebastian terus mengelak, dia enggan memberitahu tentang perjanjiannya bersama dengan Entis. Dimana paman dari Nana itu sama saja dengan menjual dirinya kepada Sebastian.


"Mas!" teriak Nana lagi.


"Jangan teriak teriak dong, Yank. Nanti itu suaranya sakit."


"Lagian kamu ngelamun," ucap Nana dengan mata menyipit. Beginilah jika Nana sudah mulai merasa nyaman dengan orang yang ada di dekatnya. Dia lebih menggemaskan dengan kata kata pedasnya. "Lagi lamunin apa? Nanti malam?"


Contohnya pertanyaan seperti itu.


"Tau aja."


"kamu belum jawab."


"Apa?" tanya Sebastian yang kesekian kalinya.


"Maksud Ibu Rina apa? Uang apa? Katanya Paman aku sama kamu ada perjanjian."


"Gak usah dipikirin ya," jawab Sebastian untuk yang kesekian kalinya. "Gak penting kok."


Jawaban itu yang membuat Nana yakin kalau Sebastian tidak ingin memberitahukannya, jadi dia memilih diam daripada memaksa. 


Hal aneh lainnya yang terjadi, Sebastian tiba tina berbelok arah yang bukan menuju ke jalan kampung halamannya.


"Apa nih?" tanya Nana. "Kok nyasar?"


"Gak nyasar, Sayang. Kita ke sini dulu ya. Masa ke rumah kamu gak bawa apa apa."


Nana menatap dengan mulut terbuka. Sekali lagi, Nana menengok ke belakang dan melihat banyaknya barang bawaan untuk orangtuanya.


Dia memilih diam daripada membuang energi.


Tapi anehnya lagi, Sebastian malah berhenti di rumah makan padang.


"Mas laper?"

__ADS_1


"Iya, mau makan makanan China," jawab Sebastian keluar lebih dulu.


Yang mana membuat Nana menggeleng di dalam mobil. "Sinting kah?" gumamnya pelan.


Sebastian dengan baiknya membukakan pintu mobil untuk sang istri. "kamu ke sana duluan ya."


"Kamu pesen apa?"


"Apa aja deh. Beli apa yang kamu mau ya sayang, sekalian kalau mau sama tempatnya juga boleh."


Dan Nana ditinggal sendirian di sana sementara sang suami pergi ke kamar mandi 


Di kamar mandi, Sebastian segera menelpon Hans untuk menyelesaikan masalah paman istrinya itu.


"Hallo, Tuan?"


"Hans aku bilang aku tidak ingin terlibat lagi dengan paman dari istriku. Apa yang akan Nana lakukan jika dirinya dijual? Dengan dia tahu kalau dia tidak lebih dari boneka mainan."


"Tapi yang saya lihat, anda tidak merealistiskannya, Tuan. Jadi mungkin Nyonya Nana akan baik baik saja."


"Tidak. Aku ingin dia tidak mengetahuinya. Cepat bereskan mereka. Aku akan makan dulu."


🌹🌹🌹


"Sayang, kita tidak akan berlama lama di sini bukan?"


Nana paham pertanyaan suaminya, jadi dia mengangguk. "Nanti malem ada kok jatah."


Dan akhirnya mereka sampai di rumah sang istri. Dimana rumah tesebut sudah direnovasi, yang mana membuat Nana terkejut. "Kok Mas gak bilang bilang sih ini udah di renovasi?"


"Kejutan dong, Sayang," ungkap Sebastian. 


Apalagi sekarang kondisi ayah mertuanya membaik, jadi lebih banyak diam di rumah dan hanya ke rumah sakit untuk cek saja.


Sebastian sudah merasa tenang saat tidak melihat adanya orang orang penagih hutang lagi. Dan sepertinya Rina juga sudah mendapat sedikit tekanan dari Hans hingga dia datang dengan senyuman manis.


"Eh anak Ibu udah dateng? Gimana perjalanannya?"


"he," jawab Nana yang malas bicara dengan sang ibu tirinya. "Mana katanya ada rentenir?"


"Gak ada, mana iya ada rentenir. Tadi ibu lagi main sinetron sinetronan sama Lia. Iyakan Lia?" tanya Rina pada anaknya yang duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Lia jelas memperlihatkan bahwa dia tidak menyukai Nana dan menginginkan posisinya. Lia ingin sekali merebut posisi Nana saat ini juga. 


"Lia jawab," teriak Rina.


"Iyalah."


"Gak ideng," gumam Nana.


"Itu barang biar Ibu aja yang ambilin, Mas Sebastian kalau mau ketemu sama Ayah Mertua silahkan aja. Udah nunggu dari tadi."


Sebastian menatap Nana. "Nanti aku nyusul, mau beresin ini dulu."


"Oke," ucap Sebastian meninggalkan istrinya di sana dengan Lia.


Sementara Rina sibuk mengambil barang barang bawaan Nana.


"Apa kau tahu?" tanya Lia.


Nana diam.


"Kau itu dijual oleh pamanmu."


Nana baru menengok, menatap Lia yang menyilangkan tangannya di dada. "Kau dijual, sungguh memalukan. Itu sama saja dengan kau itu pelac*r yang melayani orang yang membeli. Menjijikan bukan?"


Nana mengerutkan keningnya. "Berapa hargaku?"


"Ibu bilang sekitar 1 millyar."


"Wah," gumam Nana.


"Menjijikan bukan?"


"Itu fantastis."


"Apa?" tanya Lia kesal.


"Tidak sebanding denganmu yang hanya pacaran dengan dibelikan teh manis."


🌹🌹🌹


TBC

__ADS_1


__ADS_2