
🌹🌹🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. VOTE. 🌹🌹🌹
🌹🌹🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹🌹🌹
🌹🌹🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹🌹🌹
Sebastian terbangun dari tidurnya saat merasakan ada pukulan kecil di wajahnya. Saat membuka mata, dia mendapati jemari mungil itu memainkan hidungnya lalu menusuk lubangnya.
“Heh, tidak boleh seperti itu. Itu kotor,” ucap Sebastian reflex yang mana membuat Joy terdiam. Bayi itu menatap lama daddy nya sebelum akhirnya menangis kencang karena kaget mendapat kalimat yang begitu penuh penekanan.
“Cup cup nak daddy, bukan begitu maksud Daddy. Astaga kemarilah.”
Bayi berusia empat bulan itu seolah menghindar, membuat Sebastian menggendongnya secara paksa kemudian memberikan ciuman bertubi tubi di wajahnya. Membuat Joy pada akhirnya tertawa, memperlihatkan giginya yang ompong. “Hihihi, ompongnya anak Daddy. Apakah rasanya lega tenggorokan saat membuka mulut? Bukankah anginnya masuk begitu saja, Joy?”
Joy kembali tertawa melihat tingkah daddy nya, apalagi dia memperlihatkan raut wajah yang aneh aneh.
Nana yang mendengar tangisan Joy sebelumnya itu menghentikan aktivitas memasaknya dan memeriksa keadaan putrinya. Ternyata di sana suaminya sedang bermain dengan Joy.
“Hai, Sayang.”
“Dia membangunkanmu lagi?” tanya Nana yang dibalas anggukan oleh Sebastian. “Mandilah, Mas. Sarapanmu sudah aku siapkan.”
“Bekalnya jangan lupa,” ucap Sebastian membawa Joy ke kamar mandi bersamanya.
Demi menjadi sosok ayah yang baik, Sebastian bahkan mengikuti les perawatan bayi sehingga setiap pagi jika dirinya tidak sibuk, Sebastian akan memandikan Joy sendirian. Bukan hanya mandi, Sebastian juga melatih pernafasn putri mereka dengan memakaikan pelampung leher dan dibiarkan berenang di kolam kaca, sementara dirinya berada di bawah air shower.
“Joy jangan mengintip ya,” ucap Sebastian yang mandi dengan masih memakai boxer. Terkadang dia bergoyang yang mana membuat Joy tertawa di sana, hingga air yang ada di sekitarnya ikut keluar.
Nana yang selesai menyiapkan bekal makan siang itu menerima Joy yang sudah wangi, cantik dan juga bersih.
“Keramas lagi, Mas?”
“Iya, dia tidak bisa diam,” ucap Sebastian duduk untuk sarapan. “Hari ini sekolah lagi?”
Nana mengangguk, dia memang sekolah menemani Joy untuk melatih motoriknya.
“Bisa tidak jika gurunya yang dipanggil ke rumah saja?”
“Bisa, tapi aku ingin pergi ke sana, Mas. Di sana aku bisa bertemu yang lainnya.”
“Huft, baiklah. Akhir pekan ini ke mansion lagi ya, ada kolam bola di sana.”
Nana mengangguk, untuk liburan mereka memang lebih sering menghabiskan waktu di mansion yang ada di pinggir pantai. Sebastian membeli tempat itu untuk tempat berlibur mereka.
__ADS_1
“Dan Mike akan ke sini nanti sore.”
“Kenapa anak itu selalu datang ke sini?” tanya Sebastian tidak suka yang dibalas deheman oleh Nana, yang diikuti oleh Joy yang berdehem juga.
“Nah lihat, keponakannya juga ingin bertemu dengan pamannya.”
“Ck, dia selalu menyita waktu Joy.”
“Joy menyukainya, ayolah.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Sebastian menerima telpon dari istrinya saat dia hendak pulang ke rumah. “Hallo Sayang, ada apa?”
“Tolong belikan bebek air ya, tadi Joy melihatnya saat berenang. Itu milik anak lain.”
“Oke, Sayang. Aku akan membelinya, tapi dimana Eve? Kenapa tidak menyuruhnya?”
“Eve sedang ke rumah bibinya.”
“Baiklah, kau ingin menambah asisten lagi, Sayang?”
“Tidak, Mas. aku tutup ya, Joy ingin menyusu.”
Waktunya tidak pernah tepat, yang mana membuat Sebastian hanya bisa menghela napas.
Dia berhenti di mini market, membeli bebek karet untuk Joy.
“Ini saja, Tuan.”
“Iya.”
“Ada penawaran baru, membeli k0nd0m satu gratis pelicin.”
Sebastian menatapnya, dia tergiur. “Tidak terima kasih.”
“Anda yakin? Ini promo terbatas.”
“Kenapa kau menanyakan iitu padaku?”
“Karena anda terlihat gagah dan pasti… umm…,” ucapan pria itu terhenti saat melihat pelanggannya menatapnya tajam. “Semuanya $15 dollar.”
Sebastian mengeluarkan black card miliknya, yang mana membuat penjaga kasir itu terkejut. Sebastian mengerti, pasti pria itu menawarinya karena dirinya belum bercukur sehingga wajah tampan dan kayanya tidak terlihat. Membuat sebastian menekan kunci mobilnya. Bunyi mobil terdengar begitu kuncinya di tekan. “Itu milikku,” ucap Sebastian mengambil bebek mainannya.
__ADS_1
Dia kembali ke dalam mobil dengan wajah angkuhnya kemudian menatap kaca. “Apa benar aku terlihat tua? Apakah ini alasan Nana tidak mau berduaan denganku? Astaga, lihat saja nanti.”
Niat Sebastian, dia tidak akan menyentuh pekerjaan malam ini. dia akan meminta Jenni atau Eve membawa Joy dulu sehingga dirinya bisa berduaan dengan Nana.
“Mala mini harus jadi. Awas saja.”
Begitu sampai di rumah, Sebastian memasang wajah cerianya. “Sayang… aku pulang.”
“Selamat datang, Bas.”
“Kenapa kau yang menyambutku Michael Jackson?”
“Nana sedang keluar sebentar,” jawab Michael yang sedang menemani Joy menonton Tv. “Joy sangat gemuk, dia lucu.”
“Hei, dia tidak gemuk, hanya montok.”
“Joy tadi tengkurap di tubuh Ruby.”
“Ruby itu siapa?”
“Anak kucing tetangga, dia mati.”
“Apa?” tanya Sebastian terkejut. Dia membalikan badan saat melihat Nana datang. “Sayang, dari mana?”
“Dari tetangga, membelikan kucing baru. Joy tengkurap di atasnya.”
“Astaga….., itu pembunuhan,” gumam Sebastian mendekat ke arah putrinya dan duduk di depannya. “Sayang, ayo kita buat tubuhmu menjadi ideal.”
“Dia hanya anak anak, jangan terapkan sesuatu yang aneh.”
Joy terdiam, menatap Sebastian seolah menahan sesuatu.
“Lihat, dia saja setuju.”
Sampai…. Duuuuuuutttttttt….. joy kentut dengan keras.
Membuat Nana bertepuk tangan bahagia. “Dia tidak poop tadi pagi, akhirnya dia kentut. Tolong periksa, Mas. dia poop atau tidak.”
Sebastian menatap Michael yang kini sedang menutup hidungnya sambil menggelengkan kepala. “Kau harus semangat, Joy itu anakmu.”
“Kiii hiris simingit, Jiy iti inikmi,” ucap Sebastian meledek Micahel. “Bagian Joy punya makanan saja kau semangat, Aheng.”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE