Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Salah Paham


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, RATING LIMA SAMA ULASAN YANG BAGUS🌹


🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA🌹


"Yank, aku bisa jelasin loh," ucap Sebastian yang mengikuti istrinya ke dalam kamar untuk berbicara dengannya. "Sayang."


Nana tetap diam karena dia sedang malas bicara. Beginilah Nana, bukan sembarangan orang yang bisa memahami dirinya.


"Say--" ucapan Sebastian terhenti karena dia mendapatkan telpon dari Hans. Dia keluar dari kamar dahulu. "Hallo, ada apa?"


"Ada sesuatu yang salah, Tuan. Mereka tidak mengirimkan dokumennya."


"Oh astaga, aku benci menggertak," ucap Sebastian menutup telponnya.


Dia kembali ke dalam dan melihat Nana yang hendak keluar.


"Sayang, kau mau kemana?"


"Aku akan menanam sendiri bunga."


"Kita cari saja tukang kebun yang baik."


"Tidak perlu," ucap Nana. "Aku akan membuatnya sendiri, Mas."


Sebastian ingin menjelaskan semuanya, tapi dia harus keluar untuk menyelesaikan sesuatu.


"Aku akan keluar sebentar, ada hal yang penting."


Nana mengangguk. "Bukan wanita yang tadi kau usir kan?"


Sebastian menegang saat sang istri membahasnya. Memang benar kalau Sebastian mengusirnya dan memilih mencarikan pekerja yang lain saja.


"Aku bilang aku hanya kenal dengannya, Sayang. Dia mabuk, tapi tidak pernah aku tiduri," ucap Sebastian dalam satu tarikan napas.

__ADS_1


Sebenarnya Sebastian masih gengsi dan malu jika mengatakan kalau burungnya hanya berdiri jika ada Nana di sampingnya. 


Nana menatap suaminya. "Aku percaya ucapan kamu. Tapi kalau liat wajah kamu enggak, Mas."


"Lah kok?"


"Masa ganteng gak punya mantan pacar?"


"Enggak, Yank. Cuma ibu tiri aku doang. Itu udah."


"Tapi tidur sama yang lain?"


"Enggak, cuma pernah liat mereka telanjang aja."


Nana terkejut bukan main, dia ingin sekali memakan Sebastian saat itu juga. 


"Udah sana berangkat dulu, nanti ngomong lagi."


"Tapi aku mau masalahnya berenya sekarang, Sayang."


"Kalau dipaksa sekarang, aku bisa bisa gak terkendali. Kasih waktu dulu. Udah sana."


"Gak usah, gak ada."


Kalimat yang membuat Sebastian menelan ludahnya kasar, dan memperingati dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal hal aneh dikemudian hari. Istrinya menyeramkan saat sedang marah.


🌹🌹🌹


Nana masih menunggu kedatangan Sebastian, dia juga bertanya tanya berapa mantan suaminya untuk dia hadapi di kemudian hari. 


Meskipun kini Sebastian takluk di tangannya dan sangat mencintainya, Nana tetap harus siaga agar mantan mantan Sebastian tidak mengganggunya.


"Apa yang sedang anda pikirkan, Nyonya?"


"Bisa tolong ambilkan ponselku?"

__ADS_1


Eve melakukannya. Ketika Nana sedang menelusuri google, dia mendapatkan telpon dari Oma.


Itu sudah cukup lama dia tidak menemui Oma. Nana mengangkatnya dengan exited.


"Hallo, Oma?"


"Nana? Dari mana saja kau?"


"Aku ada di rumah. Kapan Oma akan ke sini?"


"Oma mungkin akan datang ke sana besok. Siapkan banyak makanan."


"Baik, Oma," ucap Nana dengan senang hati. "Apa yang Oma inginkan?"


"Apa saja asal jangan Sebastian, Oma sedang malas melihat wajahnya."


"Ya, aku pun begitu, Oma," ucap Nana ingin menceritakannnya pada Oma.


"Apa yang terjadi? Apa dia membuatmu kesal?"


"Aku agak cemburu," gumam Nana. "Ada wanita cantik yang mengenalnya dan mengaku pernah tidur bersama Sebastian."


"Itu hanya masa lalu, Sayang," ucap Oma. "David pun sebelum bersama Lily sama saja. Mereka berteman dan melakukan hal yang sama."


Nana menghela napasnya dalam. "Biasanya aku juga tidak marah. Tapi sekarang sedikit cemburu."


"Itu normal, tidak apa."


Mendengar suara mobil berhenti, membuat Nana yakin jika itu Sebastian. "Oma, Mas Babas pulang. Nanti di telpon lagi ya."


Nana segera melangkah menuju depan pintu untuk menyambut kedatangan suaminya.


Sebelum Ssbastian mengatakan sesuatu, Nana lebih dulu menyela, "Tidak masalah, itu hanya masa lalu. Tapi jika aku mendapati Mas di masa sekarang bersama perempuan lain, akan aku……"


Sebastian menelan ludahnya kasar saat Nana memperagakan dia sedang meremas. Bukan membuatnya takut, tapi malah bernafsu. Cara Nana melakukannya sangat lucu. "Iya, Sayang. Aku paham. Ayo ke kamar."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2