Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Terjepit


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹


🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


“Daddy kenapa banyak mempersiapkan makanan?” tanya Michael begitu dia melangkah ke lantai satu dan melihat sang ayah sedang menatap snack di meja dengan penuh kegembiraan. Senyumannya tidak bisa luntur bahkan untuk memarahi pelayan.


“Jangan simpan itu di situ. Ya tuhan,” ucap Arnold memarahi pelayan yang tidak becuh menaruh makanan yang sedang dia tata.


“Dad,” panggil Michael lagi. “Ini untuk siapa?”


‘Untuk Joy, dia akan datang.”


“Huh? Dia akan ke sini? Bagaimana kalau dia mabuk lagi.”


“Tentu tidak, dia ke sini untuk melihatmu.”


“Apa?” tanya Michael bingung.


Yang dibalas anggukan oleh Arnold, dia menarik sang putra untuk duduk di dekatnya begitu dia selesai menata makanan di meja. “Mike, apa kau menyukai seseorang sebagai perempuan?”


“Huh?”


“Kau ingin punya pacar?”


“Aku sudah punya.”


“What? Siapa?”


“Karina,” jawab Michael dengan santainya. 


“Sejak kapan kalian pacaran?”


‘Kemarin,” jawabnya enteng.


“Lalu bagaimana dengan Joy?”

__ADS_1


“Kenapa dengan Joy?”


Arnold terdiam. Dia memicingkan matanya menahan rasa kesal. Kepribadian Michael yang lurus bahkan terlalu lurus menanggapi sesuatu itu membuat Tom kesal. Bahkan saking datarnya, Michael memang jarang peka akan suatu hal. Itu membuat Arnold memiliki amarah tersendiri untuk itu.


“Joy menyukaimu tau.”


“Tentu dia menyukaiku, aku pamannya.”


“Bukan. astaga, dia menyukaimu dan ingin jadi pacarmu.”


Seketika Michael mengerutkan keningnya dan menatap Arnold, kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Daddy ini bagaimana sih, aku ini pamannya. Lagipula dia hanya bocah yang tidak tau apa itu pacar,” ucap Michael yang melangkah menuju dapur untuk mengambil ice cream.


Kemudian dengan santainya kembali ke lantai dua setelah melambaikan tangan pada Arnold. membuat pria tua itu mengusap kepalanya yang terasa sakit. “Bodo amat, mereka masih anak anak. Lagipula Joy itu seorang pejuang, seperti ibunya yang melempari Sebastian dengan sandal.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Joy mengerucutkan bibirnya menahan kesal, yang mana membuat Nana yang sedang memangkunya itu sadar dengan bocahnya yang sedang marah. Kini mereka berada di perjalanan menuju ke rumah Arnold, sekalian makan malam di sana.


Setelah kejadian kemarin Joy tercebur, mereka langsung pulang dengan pelampung yang mereka beli dan bola bola untuk mandi. Hal yang membuat Joy kesal adalah pelampungnya yang langsung meledak begitu dia menidurinya.


Sebastian yang tidak suka dilanda keheningan itu mulai membuka suara, “Kan Daddy bilang janagan ditidurin lagi pelampungnya. Meledak kan jadinya.”


“Heh, ini bukan salah siapapun, kenapa kau harus marah? Gembrot hei,” ucap Sebastian yang mencubit cubit pipi Joy sembari menyetir. Sampai.. “Aaaaa!”


Joy menggigit tangan daddynya yang lancing mencubit hidungnya. “Sayang dia menggigitku!”


“Heh, tindakanmu jelek,” ucap Nana, dia sendiri merasa sesak dengan Joy yang bersandar menindih perutnya. “Jangan seperti itu. Yang salah itu Joy, sudah tau pelampung suka meledak jika ditiduri, kenapa malah melakukannya lagi?”


“Joy tan uji tetahanan, Mommy.”


“Ketahanan ketahanan matamu,” ucap Nana yang sama sama kesal. Ledakan pelampung itu membuat Nana yang berada di kamar mandi hampir mencukur seluruh alisnya. “Tidak akan ada pelampung yang bertahan denganmu.”


“Mommy menyebalkan,” ucap Joy mengambil snack yang tersedia di dashboard mobil. Dia membuka bungkusan itu kemudian segera melahapnya.


“Joy, jangan banyak makan. Nanti mabuk.” Sebastian yang berucap.


“Ndak mabuk.”

__ADS_1


“Nanti berat badanmu bertambah. Lihat Mommy, kasihan dia terjepit tubuhmu yang berat.”


Joy mengadah menatap sang mommy. “Ndak ya, Mom?”


“Nda ndak,” ucap Nana meledek.


“Kalau mau makan di belakang saja, kasihan Mommy terjepit. Kalau mau sama Mommy ya jangan makan, kan tadi udah makan banyak.” Sebastian menasehati.


“Tapi Joy lapal, Dad.”


“Dibelakang ya, kasihan Mommy.”


Bocah itu mendengus, dia beralih ke jok belakang dibantu oleh sang daddy yang sebelumya menepi sebentar. Dia mendudukan Joy di sitcar dan memasangkan sabuk pengaman di sana. 


Setelahnya mobil kembali melaju. “Kau tidak apa apa, Sayang?”


“Makasih, Mas. udah nyelametin aku.”


Sebastian mengangguk. “Nanti malam nambah jatah ya.”


“Hilih, ada maunya ternyata.”


Namun baru juga beberapa saat mobil melaju, Joy berkata, "Daddy...."


"Kenapa?"


"Sabuknya copot."


Nana menghela napasnya dan berbalik. dia pikir suaminya tidak benar memakaikan sabuk pengaman, tapi saat menengok ke belakang. "Jebol?"


"Apa yang jebol, Sayang?"


di sana Joy mengelus perutnya yang buncit. "Tadi kejepit."


🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


MAAF PENDEK, BESOK LAGI YA EMAKNYA BANYAK TUGAS. KISS DULU DONG SI GEMBUL.



__ADS_2