Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Kenyataan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA CERITA INI.🌹


Arnold mendengar kekacauan terjadi saat pestanya, dimana menantunya tiba tiba hilang dan Hans panic. Begitu juga dengan Sebastian, Arnold tidak menemukan pria itu di manapun. Apa yang terjadi? dia harus tahu. Namun sebelum itu, dia harus menyelesaikan pesta dan memastikan tamu pulang.


“Buat tamu pulang lebih awal,” ucap Arnold pada salah satu pengatur acara.


“Baik, Tuan.”


“Daddy…..,” ucap Michael mendekat sambil menggesek mata dengan tangannya, dia merentangkan tangan meminta digendong.


Arnold melakukannya, dia menggendong Michael dan mengusap punggungnya. “Kenapa tidak bermain dengan yang lainnya?”


“Mereka harus pulang karena mengantuk seperti Mike.”


“Ah benarkah?”


Saat keduanya sedang berbincang, seorang wanita dengan membawa anaknya itu mendekat. “Tuan Arnold, ini pesta yang sangat menakjubkan. Saya harap Mike dan anak saya bisa berteman dan menjadi lebih dekat, tapi kami harus pulang sekarang.”


“Aku memahaminya, terima kasih telah datang. Sampaikan salamku untuk suamimu.”


“Baik, Tuan,” ucap wanita itu kemudian menggendong anaknya supaya bersalaman dengan Michael. Setelahnya wanita itu sendiri yang mengusap pipi Michael. “Astaga, kau pasti sangat merindukan Mamamu.”


“Terima kasih,” ucap Arnold tidak suka.


Dan setelahnya, para tamu mulai pergi meninggalkan pesta. Meninggalkan Arnold dengan Michael bersama tumpukan kado. Michael yang kelelahan bermain itu terlelap di pangkuan sang ayah. Dimana itu menjadi tempat ternyaman bagi bocah yang tidak memiliki siapapun lagi di sisinya.

__ADS_1


Ajudan Arnold mendekat pada majikannya yang masih menggendong Michael.


“Tuan?”


“Bagaimana? Apa yang terjadi?” tanya Arnold yang berdiri di balkon menunggu kabar apa yang sebenarnya terjadi.


“Tuan Sebastian pingsan, dia di bawa kembali ke kotanya. Dia telah menjalani perawatan rutin setiap minggu untuk kesehatannya.”


“Apakah separah itu?”


“Anda bisa melihatnya, untuk saat ini dokter sudah menanganinya.”


Arnold terdiam, dia menerka nerka semuanya sendirian. Jika membutuhkan dokter khusus, berarti anaknya sakit parah. Helaan napas keluar dari mulut pria tua itu. “Siapkan mobil, kita akan ke sana.”


“Baik, Tuan.”


Kecupan mendarat di kening Michael, Arnold melangkah ke dalam rumah supaya angin malam tidak menerpa tubuh sang anak. Memberi isyarat pada pengasuh Michael supaya mendekat, kemudian menyerahkan putranya secara perlahan supaya tidak terbangun. 


“Baik, Tuan.”


“Jaga dia dengan baik.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Nana terdiam mendengar penjelasan Hans; tentang apa yang terjadi dengan Sebastian, tentang apa yang menjadi tujuannya, alasan dia merahasiakannya dan juga hubungan sebenarnya dengan Jenni.


Untuk menghasilkan lebih banyak uang? Nana tertawa tidak percaya dengan air mata yang berjatuhan. Bagaimana dia bisa menkmati semua uang yang dihasilkan oleh Sebastian jika pria itu meninggalkannya dengan anak mereka? 


Ternyata ini alasan Sebastian terlihat tidak bahagia dengan jenis kelamin anak dalam kandungannya, kenapa dia bekerja mati matian dan pulang larut bahkan tidak pernah pulang.

__ADS_1


Suaminya sakit, dan dia tidak memberitahukan itu agar dirinya tidak khawatir.


Situasi macam apa ini? sebastian seolah mempersiapkan dirinya akan mati, pria itu sepertinya sangat percaya diri untuk mati dengan meninggalkan banyak harta untuknya.


“Nyonya, anda baik baik saja?” tanya Hans.


Nana mengangguk dan mengusap air matanya, dia menengok menatap pintu kamar rawat Sebastian. Dirinya dibawa ke rumah sakit tempat ibu Jenni bekerja untuk mendapatkan perawatan yang maksimal. 


Berada di lantai VVIP, hanya ada beberapa kamar di sini sehingga lorong terasa sepi.


“Nyonya, Tuan hanya mengkhawatirkan anda dan anak kalian, dia ingin menjamin masa depan kalian.”


Nana hanya tersenyum sinis. “Tapi dia tidak menjamin masa depannya sendiri,” gumam Nana seolah putus asa.


Matanya kembali menatap pada pintu saat perawat keluar dari sana. “Nyonya Holtzman, Tuan Sebastian sudah sadar.”


Nana terdiam atas pernyataan perawat itu, membuat Hans memberikan tatapan supaya meninggalkan mereka. “Nyonya.”


“Aku akan menemuinya,” ucap Nana berdiri dan melangkah dengan lelah menuju ruangan Sebastian.


Tangannya tetap menyentuh perut demi mendapatkan rasa tenang. Jantungnya berdetk kencang saat membuka pintu, ada ketakutan di matanya. Dia takut sendirian, dia takut kehilangan. Nana tidak ingin kehilangan Sebastian.


Maka dari itu, saat tatapan Nana bertemu dengan Sebastian; melihat bagaimana pria itu tersenyum dan merentangkan tangannya seolah ingin Nana berhambur ke dalam pelukannya.


Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Nana malah berdiri di sana, kemudian mulai melucuti perhiasan yang terpasang di tubuhnya. Dia melepaskan cincin, anting, kalung mahal dan gelang bertaburan berlian yang dibelikan Sebastian. Ketika melakukan itu, air mata menetes membasahi pipinya.


“Sayang,” ucap Sebastian yang khawatir, dia menurunkan tangannya dan hendak melangkah mendekati istrinya.


Tapi Nana berjalan mendahului, mendatangi suaminya kemudian berhambur ke dalam pelukannya. “Kau adalah harta yang paling berharga untukku dan bayi kita, Mas. Jangan hanya memikirkan masa depanku…. Hiks…. Tapi…. Pikirkan masa depan kita.”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2