
🌹JANGAN LUPA KSIH EMAK VOTE Y ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹
🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹
🌹EMAK SAYANG KALIAN, JADI SELAMAT MEMBACA YAAA🌹
Sebastian tersenyum melihat istrinya yang terlihat girang bisa menemukan berbagai tanaman yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Katanya belum pernah ketemu."
"Hah?" Tanya Nana yang sibuk memetik daun.
"Itu pohon itu."
"Aku baca di Google."
"Rajin amat baca google."
Nana diam dan memilih fokus.
"Mau dibantuin?"
"Iya, tolong ambilin ini."
Dengan senang hati Sebastian membawanya dan meletakannya di dalam mobil. "Jadi, Sayang, jika kita memakan ini nanti akan subur?"
"Akan gatal gatal."
"Hah?" Tanya Sebastian tidak paham.
"Harus diproses dulu, kalau dimakan langsung nanti gatel."
"Oh iya," ucap Sebastian yang masih mencoba mendapatkan perhatian istrinya.
"Sayang, kalau ini obat bukan?"
"Mana?" Tanya Nana menoleh.
"Ini," tunjuk Sebastian pada tanaman di samping kakinya. "Ini jamu bukan?"
__ADS_1
"Itu rumput kali, gak tau aku."
Setelah akhirnya selesai, Nana mendekati pada Sebastian yang bersandar di pintu mobil.Â
"Udah?"
"Udah, yuk."
"Kemana lagi? Bilang sama Mas mau kemana?"
Nana yang masuk ke dalam mobil itu menatap dengan kening berkerut. "Ke villa kan?"
"Gak mau kemana mana dulu gitu?"
"Di sini ada Mall?"
Sebastian tersenyum. "Oke kita ke villa."
🌹🌹🌹🌹
"Apa?" Tanya Sebastian tidak percaya dengan apa yang dilaporkan Hans. Betapa teganya Lucille melakukan itu. "Buat bukti kalau Michael itu bukan anak Arnold, dan juga pastikan Papa ku baik baik saja nantinya."
"Baik, Tuan."
Hans terdiam dalam telpon, tentu saja dia tidak bisa meninggalkan majikannya di villa tengah hutan saat ini juga. "Tapi, Tuan…"
"Aku akan baik baik saja, kau pikir aku pria lemah huh?"
"Bukan begitu maksud saya, Tuan."
"Sudah, kembalilah ke sana dan pastikan Arnold baik baik saja. Eve di sini bukan?"
"Ya, dia bersamaku menjaga."
"Aku mempercayainya, kau pergi saja."
"Baik, Tuan."
Setelah telpon terputus, Sebastian segera menyimpan kembali ponselnya dan melangkah keluar kamar untuk menemui sang istri.Â
__ADS_1
Terlihat di sana Nana yang sedang meracik ramuan. Membuat Sebastian terenyum, di balik gadis kampung selalu saja ada kelebihan yang tidak diduga. Berasal dari kampung bukan berarti kampungan dan tidak tahu apa apa.
"Sayang," ucap Sebastian memeluk Nana dari belakang.
"Siapa yang nelpon, Mas?" Tanya Nana yang merasa dirinya berhak bertanya, apalagi kini Sebastian adalah miliknya, suaminya yang akan menjadi ayah dari anak anaknya.
"Hmmm… itu… Hans…"
"Mau apa dia?"
"Gak papa, bukan urusan penting."
"Beberapa kali kamu telponan mulu sama Hans."
Sebastian terdiam. "Mana mungkin aku selingkuh sama pria lagi, Sayang."
Nana berbalik dan menatap suaminya. "Yang bilang selingkuh siapa? Aku cuma bilang."
Sebastian tidak bisa membohongi istrinya terus menerus, dia tahu akan ada waktunya memberitahu tentang Lucille.
"Sayang, ada yang belum aku beritahu padamu."
"Apa?" Tanya Nana.
Sebastian yang diam dan terlihat ragu membuat Nana mengusap bahunya. "Mas? Kenapa? Kalau ada apa apa jangan ditanggung sendiri, kali aja aku bisa bantu."
"Kamu gak akan bisa bantu."
"Loh kok?" Tanya Nana mengerutkan keningnya.
Ragu ragu, Sebastian berkata, "Ini tentang Lucille, kamu mungkin gak bisa bantu."
"Gak bisa bantu gimana? Dia mantan kamu 'kan? Aku bisa bantu jambak rambutnya."
"Loh kok?" Sebastian terkejut seketika, bagaimana bisa istrinya bisa tahu tentang hal itu?
🌹🌹🌹🌹
To Be Continue
__ADS_1