Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Anggota Baru


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak tersayang emak.🌹


🌹Terus juga jangan lupa follow igeh emak : @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian dan selamat membaca ya anak anak.🌹


Nana mengecek kulkas, dan tidak ada daging di sana. Padahal suaminya ingin makan daging untuk makan malam nanti. Daging yang diinginkan oleh Sebastian adalah daging asap buatannya.


“Sayang,” ucap Sebastian yang mendekat pada sang istri kemudian memeluknya dari belakang, dia mencium leher sang istri dari belakang. “Main di ranjang yuk.”


“Dagingnya abis loh, Mas.”


Kening Sebastian berkerut, seingatnya dia meminta untuk mengisi banyak kulkas di sini.


“Benarkah?”


Nana mengangguk. “Mas mau daging asap kan?”


“Iya sih, tapi kalau gak ada juga gak papa.”


“Tapi aku yang mau,” ucap Nana dengan suara pelan.


Sebastian yang mendengar itu melepaskan pelukannya, dia menyangga tubuhnya dengan satu tangan. “Apapun yang kau inginkan, Sayang.”


“Kalau kita yang keluar gimana?”


“Eummm.” Nana menimang untuk menjawab, pasalnya dia sedikit sakit jika berjalan. Dan semua ini tentu saja karena suaminya. “Aku di villa aja gimana.”


“Masih sakit ya?”


Nana mengangguk. “Kalau nanti aku jalan di pasar, nanti malem gak bisa bikin anak.”


Karena kalimat itulah Sebastian tidak ingin mengajak istrinya berdebat untuk ikut. “Gak papa, biar aku yang pergi.”


“Gak mau suruh Hans atau Eve aja, Mas?” tanya Nana mengingat sebelumnya mereka melakukan hal itu.


“Sama Hans yang nyetir, aku yang belanja. Biar jadi suami idaman yang suka belanja list istrinya.”

__ADS_1


Nana tertawa melihat sifat Sebastian yang berlawanan dengan pemikirannya. 


“Mau apa aja emang?”


“Daging aja sih.”


“Oke, laksanakan.”


Sebastian segera bersiap ke kamarnya dengan membawa black card miliknya. Sebelum keluar, Sebastian memberikan ciuman di bibir istrinya.


CUP.


“Kalau ada apa apa hubungi aja Eve ya, dia ada di sekitaran sini kok.”


“Iya,” jawab Nana singkat.


Saat Sebastian melambaikan tangan sambil menjauh dengan senyumnya yang tidak berubah sama sekali, Nana hanya membalasnya dengan lambaian tangan. Dia masih asing dengan senyuman suaminya yang begitu lebar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sambil menunggu, Nana menghubungi Kak Yumna untuk menanyakan apakah bayinya sudah lahir atau belum.


“Nana? Pantesan kamu pake panggilan luar negri.”


Nana tersenyum. “Gimana, Kak? Bayinya udah lahiran?”


“Belum, Na. kayaknya males keluar.”


“Kalau udah lahiran jangan lupa bilang bilang sama Nana ya.”


Kak Yumna tertawa di sana. “Ya pastilah, soalnya mau dikasih hadiah sama Juragan.”


“Ih apasih,” ucap Nana mengerucutkan bibirnya.


“Kok nelpon sih, Na? jangan anggurin suami kamu.”


“Nggak dianggurin kok, dimanggain kali kali.”

__ADS_1


“Jangan bercanda kamu, nanti disangka telponan sama selingkuhan.”


Nana tertawa, bahkan dirinya tidak terpikirkan akan hal itu. Berselingkuh sangat jauh dari pikirannya. “Nggak, Kak. Suami Nana lagi keluar kok.”


“BTW gimana malam pertamanya, Na?”


“Aneh, Kak. Tapi sekarang udah biasa.”


“Aneh apanya?”


“Eum….”


Dan mereka bercerita, membuat Kak Yumna tertawa terbahak bahak karena mendengarnya.


Sampai tidak sadar mereka sudah berbincang sekitar tiga puluh menit. Saat menyadarinya, Nana segera mengakhirinya. “Kak udah dulu ya, aku mau nyari suami aku dulu.”


“Astaga, ilang? Yaudah sana. Bye.”


Setelah panggilan terputus, Nana berganti menghubungi nomor suaminya, tapi tidak aktif. Yang mana membuat nana sedikit khawatir.


Hingga akhirnya dia menelpon Hans untuk menanyakan keberadaan suaminya.


“Hallo, Nyonya?”


“Hans, apa kau bersama suamiku?”


“Iya, Nyonya. Kami berhenti sebentar di jalan.”


“Apa terjadi sesuatu?”


“Tuan menemukan sesuatu.”


“Menemukan sesuatu?”


🌹🌹🌹🌹🌹


Maaf agak telat, emak lagi banyak hajatan tetangga. Jadi harap maklum ya.

__ADS_1



Ini dia yang ditemukan Sebastian. Selamat menikmati otot yang ditatto.


__ADS_2