
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
Sepasang mata itu tengah mengintip di balik jendela, keningnya berkerut sesekali dengan hembusan napas yang kuat. Dia menggeleng sesekali, bingung dengan apa yang di lihatnya.
“Mas,” panggil Nana yang seketika membuat Sebastian terkejut, dia membalikan badan dan menatap sang istri yang sudah ada di belakangnya. “Honey, sejak kapan ada di belakang aku?”
“Mas kenapa? lihat apa?”
“Ada mobil yabg pindahan kayaknya, dia bawa mobil yang bagus bagus.”
“Mana?” tanya Nana penasaran, dia berjongkok dan ikut melihat keluar. matanya dikejutkan dengan mobil pengangkut yang membawa begitu banyak mobil sport di belakangnya. “Woaaahhh, mereka mungkin orang kaya.”
“Ck, aku yang paling kaya di sini,” ucap Sebastian tidak mau kalah. “Bagaimana kalau kita membeli mobil baru, kau mau?”
“Aku mau keluar, Mas. jalan jalan di cafee.”
“Tapi Joy belum pulang sekolah.”
Nana mengerucutkan bibirnya. Di bulan kelahiran ini, sang suami memang memili untuk menjaganya dan tidak pergi ke kantor. Sebastian mengerjakan semuanya di rumah, dia tidak mau meninggalkan sang istri yang sedang hamil besar.
Meskipun ada banyak pelayan dan penjaga di sini, Sebastian tidak ingin meninggalkan sang istri sendirian.
“Ya, Mas? daripada bosan di sini?”
“Sayang…, bukankah kau ada janji dengan Jenni? Akan merajut bersama?”
“Tidak, Jenni pergi ke tokonya, dia bilang dia punya saingan cafee. Aku ingin ke cafee saingan Jenni. Ayo.”
__ADS_1
Bukannya Sebastian tidak ingin menuruti keinginan sang istri, tapi dia ingin memanfaatkan kebersamaan bersama sang istri dengan banyak bermesraan sebelum bayi itu lahir.
“Ya?”
“Baiklah,” ucap Sebastian pada akhirnya. Ya, siapa yang bisa menolak sosok perempuan cantik yang ada di hadapannya itu, apalagi memperlihatkan matanya yang bulat.
“Apa kita harus ke sekolah Joy dulu?”
“Tidak perlu, hari ini biasanya Joy ada les dalam bahasa Jerman, jadi dia akan diantar ke sana langsung, pulangnya agak sore.”
“Benarkah? Baiklah, aku hanya khawatir dia akan menangis, mengingat dulu kita pernah keluar rumah tanpa mengajaknya.”
“Jangan khawatir, pengasuh itu akan memebritahuku jika sesuatu terjadi.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Nana tertawa terbahak-bahak setelah mendengar lelucon Sebastian. Bukan karena lucu, tapi lelucon itu benar benar membuatnya bertanya-tanya kenapa bisa disebut dengan lelucon.
Cafee yang berada di dekat danau, membuat Nana bisa dengan bebas makan dan tertawa di saat yang bersamaan.
“Bagaimana Mas bisa berfikir itu dijadikan lelucon?”
“Hentikan itu, Sayang. tubuhku ngilu mendengar tawamu.”
“Uh… jangan marah, aku minta maaf. Kemarilah, akan aku suapi,” ucap Nana mencoba merayu sang kekasih.
Sebastian tersenyum dan menarik sang istri ke dalam pelukannya, merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan Nana sebagai istrinya.
“Apakah sang pengasuh bilang sesuatu?”
“Tidak ada pesan apapun, ayo berkencan di sini,” ucap Nana mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
“Baiklah, habiskan makanannya, aku akan ke toilet dulu,” ucap Sebastian memberikan kecupan di puncak kepala Nana.
Sebelum akhirnya dia pergi ke toilet untuk buang air kecil. Dan saat melangkah, Hans sang sekretaris menelponnya. Dia mengangkatnya sebelum masuk ke kamar mandi.
“Hallo, Hans? Ada apa?”
“Saya menemukan mitra yang cocok dengan anda, Tuan.”
“Bagus, berapa persen keberhasilannya?”
“79 persen, termajin.”
“Oke, siapa orangnya?” tanya Sebastian dengan penasaran.
“Orang Indonesia, saya pikir itu lebih baik untuk anda.”
“Wanita?”
“Pria.”
“Tampan?”
“Masih lebih tampan anda.”
“Bagus, atur makan malamnya, aku tidak ingin istriku tergoda jadi…. Siapkan jas terbaik untukku.”
“Baik, Tuan.”
🌹🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1