Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Bahaya


__ADS_3

🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹


🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹


“Kita akan jalan jalan dulu ‘kan?” tanya Nana dengan mata bundarnya.


Bagaimana bisa Sebastian menolak, dia tidak bisa melakukannya. Apalagi Nana mengelus-elus perutnya yang bundar sambil mengerucutkan bibirnya. Demi Tuhan dia terlihat sangat cantik, membuat Sebastian akhirnya mengangguk. 


“Oke, kita jalan jalan dulu. Bagaimana dengan Joy?”


“Tidak ada yang mengirimu pesan, berarti dia less seperti biasa. Aku ingi berjalan di sekitaran danau, dengan memakan camilan.”


“Kau ingin apa, Sayang?” tanya Sebastian dengan lembut, dia menggenggam tangan Nana dan membawanya keluar dari restaurant tersebut. “Mau aku belikan?”


“Tidak, Mas. ayo berjalan bersama,” ucap Nana dengan senyuman manis. Sebastian tidak tahan, dia memberikan ciuman di pipi sang istri.


“Ada pertemuan yang harus aku datangi,” ucapnya mulai bercerita sembari melangkah mencari makanan untuk menyumpal perut Nana. “Dia pengusaha orang Indonesia.”


“Woah? Benarkah?”


“Ya, aku akan mengajaknya makan malam di rumah, mencoba memberikan suasana Indonesia padanya supaya dia bisa menandatangani perjanjian itu.”


“Taktik yang bagus, aku akan memasak sesuatu yang enak dank has untuknya.”


Sebastian tersenyum kecil. “Tapi dia pria, dan aku dengar dia masih lajang.”


“Lalu?” Nana mengerutkan keningnya kemudian menatap nyalang sang suami. “Jangan bilang kau akan menjodohkannya dengan Joy, Mas.”


“Astaga, Sayang, bukan seperti itu. Aku hanya takut kau akan menyukainya,” gumam Sebastian.


Yang sontak saja membuat Nana menatapnya heran. “Apa, Mas?”


“Aku takut kau menyukainya, kau bilang kau suka dengan pria local.”

__ADS_1


“Dulu.”


“Sekarang?”


“Aku suka pria yang memiliki banyak uang, dan hebat diranjang. Sepertimu,” bisik Nana menggoda.


Yang mana membuat Sebastian bergidik ngeri. “Jangan memulainya, Sayang. Aku me⸻”


“Itu dia makanan yang aku mau,” ucap Nana yang membuatnya bergegas pergi meninggalkan Sebastian di belakang.


“Perutmu, Sayang. Awas perutmu,” ucapnya dengan panic.


Sementara itu, di sisi lain Joy sedang merasa senang karena les hari ini tertunda. Dia sangat senang karena bisa makan di rumah.


Di dalam mobil, Joy terus mengayun-ayunkan kakinya bahagia.


Sampai salah seorang pengasuhnya berkata, “Astaga! Aku tidak menekan tombol send!”


“Ada apa?” tanya Joy.


“Kami lupa menghubungi Mommy anda, Nona.”


“Sedang keluar bersama Tuan besar.”


Bukannya menangis, Joy malah tersenyum. “Danagan belitahu, bialkan meleka belkencan.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Joy mengendap endap pergi ke dapur, kemudian membuka kulkas.


“Apa yang anda lakukan, Nona Joy?”


“Uh… aunty Eve?” gumam Joy sedikit kaget, dia berbalik dan memandangi orang dewasa di belakangnya. Satu satunya Joy bisa mendapatkan semua makanan yang dia inginkan adalah dengan menyingkirkan wanita di depannya, mengingat pelayan yang lain patuh padanya. “Joy au madu, tapi abis.”


“Benarkah? Mau madu?” tanya Eve yang sedikit heran, biasanya Joy sangat menyukai camilan.

__ADS_1


Joy mengangguk, dia membuka kulkas dan memperlihatkan isinya. “Nda ada.”


“Oke, mau dibuat apa madunya?”


“Enuman, bial Joy langsing.”


Eve tertawa mendenarnya. “Naik ke kamar, nanti Aunty buatkan untukmu, oke?”


Joy mengangguk anggukan kepalanya dan berbalik melangkah. Dan saat Eve masuk ke ruangan dimana dia menemukan telpon, Joy buru buru kembali untuk mengambil camilan di sana. Dia memasukan beberapa snack ke dalam baju sehingga perutnya semakin buncit.


Kemudian dirinya berlari lagi. Begitulah yang dilakukan Joy selama beberapa menit ke depan, mengendap mengambil makanan yang ada di lemari penyimpanan.


Di sisi lain, Nana yang sudah puas dengan jalan jalan itu merangkul tangan sang suami, sesekali menyandarkan kepalanya pada bahu Sebastian. “Terima kasih untuk jalan jalannya.”


“Lain kali perhatikan kandunganmu ya, aku tidak mau kau kebanyakan makan dan merasa begah seperti tadi.”


Nana mengangguk, dia masuk ke dalam mobil saat sang suami membukakan pintu untuknya.


“Langsung pulang?” tanya Sebastian.


“Ya, kita akan langsung pulang. Kasihan Joy menunggu.”


Sebastian menyalakan mesin, namun dia tidak mengemudikannya karena mendapatkan sebuah pesan. Dan seketika mata Sebastian membulat.


“Sayang, Eve baru mengabariku kalau Less nya tidak terjadi, Joy sudah ada di dalam rumah.”


“Oh astaga,” ucap Nana memijat keningnya. “Berkendaralah ayo.”


“Jangan panic, karena Joy baik baik saja. Eve tidak menyebutkan kalau Joy menangis.”


“Tentu saja dia tidak akan menangis, dia menghabiskan semua makanan di dalam kulkas.”


“Apa? Bagaimana kau tahu, Sayang?”


“Mas, Joy itu cerminan dirimu.”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2