
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹
Kembalinya Nana dan Sebastian ke rumah mereka di Amerika, tepatnya di perumahan milik mereka yang memiliki tetangga. Begitu sampai di sana, Sebastian dikejutkan dengan keberadaan Arnold yang sedang berbincang dengan beberapa orang di sana.
"Apakah itu Dad Arnold?" tanya Nana yang sedang memangku Joy. Bocah gembrot itu terlelap karena kekenyangan.
Yang dibalas anggukan oleh Sebastian. "Sepertinya dia akan menjemput si Aheng."
Dan benar saja. Begitu mobil berhenti, Arnold mendekat dan membuka pintu penumpang. "Astaga, bocah ini juga tidur. Bangun, Son. Kau harus pulang. Lusa kau akan kembali ke asrama."
"Secepat itu?" tanya Sebastian yang dibalas anggukan oleh Arnold.
"Mana Nana?"
"Ke dalam, Joy tidur."
"Son. Bangun ayo."
Dan akhirnya Michael membuka matanya, dia menguap sebelum akhirnya menatap sosok yang tidak asing di depannya. "Dad?"
"Ya, ayo kita pulang. Kau harus ke asrama lagi lusa."
"Mike harus berpamitan pada Joy."
"Joy tidur," ucap Sebastian yang baru saja turun dari mobil. "Tidak apa apa, nanti akan aku beritahu."
"Kalau begitu Mike akan berpamitan pada Karina," ucapnya kemudian berlari ke rumah yang ada di samping Sebastian.
Membuat Arnold menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah Mike. Apalagi kini dia sudah berusia belasan tahun, tetap saja menyukai perempuan tetangganya Joy itu.
"Dad sampai kapan dia akan berada di asrama?"
"Sampai lulus SMP atau SMA mungkin."
"Kenapa? Itu sekolah asrama biasa, bukan sekolah khusus," ucap Sebastian yang penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya Daddy menyekolahkannya ke asrama supaya dia tidak terlalu kehilangan jika kehilangan Daddy. Kau tau dia tidak punya siapapun."
"Dia punya aku," ucap Sebastian tidak terima.
Yang mana membuat Arnold tertawa tidak percaya, pada akhirnya Sebastian mengakuinya. Arnold bergabung untuk duduk di kursi di halaman sambil menunggu Michael.
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Baik," jawab Sebastian. "Oma tidak pernah lepas dari yang namanya uang. Aku senang dia sehat dengan itu. Karena aku tidak bisa memberikan kesehatan."
"Baguslah, Daddy juga berfikiran untuk Mike akan menuruni usaha Daddy saat ini."
"Lapangan golf tidak ada harganya. Dia bilang ingin menjadi pembalap, biarkan dia melakukannya."
"Haruskah?" tanya Arnold yang dibalas anggukan oleh Sebastian.
🌹🌹🌹🌹
Begitu mendengar suara tangisan sang anak, Sebastian yang sedang minum teh untuk menghilangkan mual itu seketika berlari. Dia masuk ke kamar putrinya dan melihat Joy sedang menangis, dan Nana yang menatapnya dengan tangan yang tersilang di dada.
"Bagaimana? Apakah sudah lelah?" tanya Nana.
"Aku sudah katakan kalau kita bisa menemui Mike besok."
"Dia menangisi Mike?" tanya Sebastian tidak percaya.
Yang dibalas anggukan oleh Nana. "Dia tidak mendapati Mike di sini, jadi menangis."
"Joy mau beltemu Uncle, Daddy. Hiks.. Hiks.."
"Astaga, si Aheng menyusahkan saja."
"Jangan panggil Aheng!" teriak Joy tepat di telinga Sebastian.
"Astaga, iya iya." Sebastian mengusap telinganya. "Jangan menangis, ayo mandi dulu. Terus nanti makan malam."
"Mandinya mau sama Mommy aja," ucap Joy menatap malu malu pada Nana, kemudian dia tersenyum. "Ya, Mommy ya?"
"Hih, bilang saja kau takut kalau Daddy mu menggosong punggungmu kuat kuat, iya kan?" tanya Nana mengambil alih Joy dari pangkuan Sebastian, yang mana membuat bayi gembrot itu hanya tertawa. "Astaga, berat sekali. Kau sungguh berat."
__ADS_1
"Hehehehe," ucap Joy yang tidak pernah ingin berhenti makan.
"Mommy akan merendammu."
"Pakai alome telapi ya, Mom," ucap Joy dengan senyuman menampilkan pipi gembulnya.
"Iya iya."
"Aku akan memandikannya dulu, Mas."
"Nanti mandikan Mas juga ya, Sayang. Soalnya Mas capek, mau direndem juga."
"Hilih, iya nanti direndem sekalian dicuci," ucap Nana melangkah ke dalam kamar mandi. Membuat Sebastian tertawa di sana.
Nana mendudukan Joy dulu di westafel. "Ayo gosok gigimu sendiri. Bisakan?"
Joy mengangguk dan mengambil sikat gigi miliknya juga pasta gigi. Sudah biasa melakukan ini.
"Lambut Mommy tenapa?" tanya Joy.
"Oh, ini dipotong. Biar cantik, biar Daddy suka sama Mommy. Hehe," ucap Nana memberikan ciuman pada pipi sang anak. "Tunggu ya, Mbul. Mommy ambil dulu sabunnya."
"Iya." Joy yang sedang menggosok gigi sendirian itu menatap pantulan dirinya di cermin, dia juga ingin memotong rambutnya supaya lebih cantik. Supaya Uncle Mike nya semakin suka padanya.
Didasari hal tersebut, tangan Joy mengambil gunting yang ada di sisi westafel kemudian mulai menggunting rambutnya itu.
"Tantik," ucapnya sambil terus menggunting.
Dan akhirnya Joy sadar, kalau dia malah terlihat semakin jelek.
"Huaaaa… Mommy!"
"Gembul! Apa yang kau lakukan?! Aduh itu rambut kenapa aneh gitu?!" tanya Nana panik saat memasuki kamar mandi.
🌹🌹🌹🌹
NOH SI GEMBUL
__ADS_1
To be Continue