Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Tangisan anak kecil


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote sebelum membaca ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Follow juga igeh emak di : @REDLILY123.🌹


🌹Emak sayang kalian, jadi selamat membaca ya.🌹


🌹P.S : Emak tuh gak terlalu pinter inggris ye, jadi pura pura ajalah kalau si Michael atau yang lainnya yang datang dari luar negri ngomongnya inggris. Kek film kore yang di dubber. Lah anggap gimana kek, emak kagak pinter bahasa inggris ye.🌹


Hans menatap dari luar bagaimana Arnold sedang bicara dengan sekretarisnya yang merupakan pengacara paling handal di negaranya. Jika Arnold sudah berurusan dengan pengacara, maka akan ada pihak yang hancur. Dan Hans mengkhawatirkan hal itu.


“Hans? Kau diluar?” tanya Arnold dari dalam.


Yang mana membuat Hans segera masuk. “Anda memanggil saya, Tuan?”


“Pergilah, aku akan mengurus semuanya sekarang.”


“Tapi, Tuan. sa⸻”


“Aku bilang pergi,” ucap Arnold dengan tajam.


“Baik, Tuan.” Hans segera keluar dari kamar pasien itu, dan dia lumayan terkejut saat melihat beberapa pengawal datang ketika dirinya keluar.


Hans tidak mengatakan apa pun, dia berjalan melewati lorong dan menyadari kamar VVIP lain sudah kosong. Sepertinya Arnold sengaja menyewa semua lantai untuk menghindari pengunjung asing, terlebih kekasih Lucille yang tidak lain adalah ayah kandung dari Michael.


Saat berjalan keluar, Hans menelpon seseorang yang bertugas melacak keberadaan Lucille.


“Dimana dia?”


“Beberapa orang pria membawanya, Tuan.”

__ADS_1


Saat itulah Hans diam, dia yakin jika itu adalah orang perintahan Arnold. Apalagi saat Hans ingat, kalau Arnold adalah mantan narapidana yang pernah merajai jalanan saat dirinya masih muda.


“Biarkan saja,” ucap Hans pada akhirnya.


Dia memeriksa dulu keadaan Michael dan Eve yang bermain di taman.


Terlihat anak itu yang tidak berhenti menangis ingin menemui sang ayah. 


“Michael?”


“Where is my dad?” tanya anak itu sambil menangis meronta.


Hans memberi isyarat agar Eve menurunkannya. Dan sesuai dugaan, Michael langsung berlari ke dalam rumah sakit.


“Biarkan saja,” ucap Hans. “Aku penasaran bagaimana reaksi Tuan Arnold.”


“Maka kau ikuti, tapi jangan menghentikannya.”


Di sisi lain, Michael yang berlari sambil menangis itu memasuki lift. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan mewah hingga tidak kaget saat harus mengoperasikan sesuatu.


Ketika tiba di lantai VVIP, beberapa orang kembali menangkapnya yang sedang berlari.


“Let me go! I want to see my daddy! Where is he?”


“Lepaskan dia, bukankah dia adalah anak Tuan Arnold?” tanya salah satu penjaga di sana.


“Tapi Tuan Arnold melarang kita membiarkan siapa pun masuk.”


“Kau akan dimarahi jika melukai anaknya.”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Di ruangannya, Arnold diam. Rasa sakit yang dirasakannya seolah hilang, kini dia berganti pakaian memakai jas untuk menghadapi Lucille yang selama ini sudah menipunya.


Arnold akan membawa kembali Lucille dan Michael ke Amerika dan menceraikannya di sana. Dia sudah bertekad tidak akan memberikan apa pun pada Lucille, bahkan satu koin pun tidak akan diberikannya.


“Pesawatnya sudah siap?” tanya Arnold pada pengacaranya yang ada di sana.


“Sudah, Tuan. Anda bisa berangkat nanti malam.”


Arnold sengaja menyewa pesawat lain agar tidak satu ruangan bersama dengan Lucille.


“Dimana wanita itu sekarang?”


“Dalam perjalanan.”


“Langsung bawa saja ke bandara, dia harus pergi dari sini agar tidak mengganggu putraku lagi.”


“Bagaimana… dengan Tuan Michael, Tuan?”


Arnold terdiam, dia sendiri juga bingung. Namun, untuk saat ini amarah yang menguasai. Mengingat keburukan Lucille membuatnya buta pada anak manis yang selama ini selalu bermain dengannya.


“Suruh seseorang untuk menjaganya, dia akan bersama dengan ibunya nanti.”


Dan ketika sedang membicarakan itu, tiba tiba pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang anak yang menangis sambil memeluk kaki Arnold. “Daddy! Hiks! Hiks! Hiks!”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2