
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹
🌹IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹
Lia menatap kesal pada Nana yang merespon dengan biasa saja. Keinginannya, Nana akan marah lalu bertengkar hebat dengan sang suami. Dan Lia dengan bodohnya ingin mengambil alih posisi Nana dengan menggoda Sebastian setelah mereka bertengkar.
"Kau tidak marah?" tanya Lia untuk yang kesekian kalinya.
"Bukannya aku yang harus bertanya begitu?" tanya Nana balik kemudian memilih menyusul sang suami yang ada di kamar ayahnya.
Nana awalnya diam sejenak di ambang pintu, menatap interaksi ayahnya dan suaminya yang terlihat akrab. Ayahnya pun terlihat sangat bahagia bisa bercengkrama dengan menantunya.
Dan Nana menatap cukup lama bagaimana suaminya terlihat tulus. Dia memang kesal karena kenyataan yang baru saja diketahuinya, tapi Nana tidak berhenti bersyukur kalau suaminya memperlakukannya dengan sangat baik.
"Kenapa diam di sana, Na?" tanya Ayahnya yang menyadari putrinya sedang berdiri di sana.
Sebastian pun menengok. "Kenapa di sana, Yank? Sini."
"Mau nyiapin makanan. Kita mau makan malam di sini," ucap Nana mendekat pada ayahnya dan memberikan pelukan.
Ayahnya itu terharu melihat putrinya yang jauh lebih berisi, kulit yang bersinar dan senyuman bahagia. "Kamu gemukan."
"Diajak makan terus sama suami."
Ayahnya tertawa mendengar itu, berbeda dengan Sebastian yang selalu kehilangan kata kata jika sudah berhadapan dengan sang istri.
"Kamu bahagia?"
"Gimana gak bahagia, orang Mas Sebastian itu gudangnya duit."
__ADS_1
Kini ayahnya Nana tertawa sambil menatap Sebastian. "Maaf ya, Nak. Udah gak kaget kan sama sifat anak bapak?"
"Udah biasa, Pak," jawab Sebastian.
"Nana nyiapin makan dulu ya, Yah."
"Iya, kalau ke makanan aja ribut. Nanti tambah gemuk tuh."
Nana mengangkat bahunya. "Ini belum apa apa, Yah. Gimana kalau nanti hamil. Ya kan, Mas?"
Sebastian hanya mengangguk tanpa menatap siapa pun, istrinya benar benar tidak bisa dilawan dengan kata kata. Itu sebabnya Sebastian selalu mengalahkannya di atas ranjang.
Nana keluar, meninggalkan kedua orang itu di sana.
"Maaf ya jika anak bapak ngomongnya ceplas ceplos, emang udah dari sana nya. Kalau ngomong wajahnya juga datar, jadi kayak orang gak punya perasaan. Tapi percaya sama bapak, Nana itu orang yang hangat. Dia bakalan jadi ibu yang baik untuk anak anak kamu."
Sebastian menatap lewat pintu yang terbuka, dimana istrinya sedang memasak. "Saya tahu, Pak. Nana akan jadi istri dan Ibu yang baik."
🌹🌹🌹🌹
"Na, sini biar ibu aja," ucap Rina yang memaksa.
Nana yang merasa kesal itu melepaskan pisau yang sedang dia pakai untuk mengikis wortel.
"Nana mau ke belakang dulu ambil daun bawang."
"Ini biar Ibu aja ya."
Nana pun mengangguk, dia ingin melihat seberapa besar kekuatan uang. Nana penasaran batas kesabaran Rina, apakah bisa diperluas dengan uang.
Nana pergi ke belakang untuk mengambil daun bawang. Di sana ada kebun kecil yang memang sebelumnya sudah ada.
__ADS_1
Bersebelahan dengan sawah yang membentang. Di sana Nana mendapati Lia yang sedang memainkan ponselnya.
"Permisi," ucap Nana yang terhalangi oleh Lia.
"Lewat aja napa," balas Lia kesal.
Nana pun melakukannya. Dan saat dia mengambil daun bawang, Yumna yang ada di lantai atas juga melihay keberadaan Nana.
Rumah mereka bertetangga, jadi Yumna bisa melihat Nana dengan jelas.
"Na!"
Nana menengok dan melihat Kak Yumna di sana.
"Sini, Na!"
"Lagi petik ini, Kak!" jawab Nana dengan berteriak.
Hal itu membuat Yumna yang turun dan menemui Nana. Yumna sendiri tidak sadar ada Lia di dekat semak sedang bermain ponsel.
"Kakak kenapa ke sini? Itu perutnya aduh!"
"Kakak punya berita buat kamu."
"Berita apa, Kak?"
"Dokter Deri, dia balik lagi ke rumah sakit ini. Pas kakak check ke sana, dia nanyain kamu tauuuu."
Dan kalimat itu didengar Lia, otaknya memutar rencana baru lagi.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Yang nanya kapan Nana konflik sama Sebastian? Pasti ada, tunggu aja. Menguras air mata? Pasti.
Jaga kesehatan ya kesayangan emak.