Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Penghalang


__ADS_3

🌹jangan lupa kasih emak vote🌹


🌹follow igeh emak di : @redlily123🌹


🌹selamat membaca, emak sayang kalian🌹


"Boleh aku meminta nomor ponselmu?"


Mata Lia berbinar, apalagi dia melihat Steve sebagai bule yang terlihat kaya. "Apa kau kaya?"


"Apa ada bule yang miskin?"


Lia senang seketika, dia memberikan nomor ponselnya. "Kenapa kau ada di sini?"


"Aku seorang pengendara dan melihatmu yang manis ini."


"Namaku Lia."


"Aku Steve."


"Ini nomorku, silahkan telpon aku."


"Nanti akan aku hubungi, Sayang. Sampai jumpa," ucap Steve. "Dan jangan beritahu siapa pun tentang pertemuan kita."


"Kenapa?"


"Hei, aku tampan. Nanti banyak yang ingin merebutku."


"Ah, aku paham. Kau benar benar sangat tampan."


"Nanti aku akan menghubungimu," ucap Steve lalu melangkah menjauh mendekati motor besar yang terparkir di sekitar sana.


Lia melihatnya dengan penuh kekaguman, dia pikir dirinya telah mendapatkan bule kaya seperti suami Nana.


Dengan cepat, Lia kembali menuju rumah Nana. Karena dia berjalan cukup jauh dan lama, Lia berlari supaya tidak ada yang curiga.


Lia berjalan terburu buru menuju ke dalam rumah, dan orang orang di dalam sana sudah mulai makan malam.


"Kenapa tidak menungguku?" tanya Lia yang baru saja datang. Dia menarik napasnya dalam karena lelah.


"Lia?" tanya Ibunya yang heran. "Ibu pikir kau pulang duluan."


"Tidak, aku ingin makan dengan enak."

__ADS_1


Lia duduk di samping Rina, dia mengambil makanan dengan kedua tangannya. Sekampung kampungannya Nana, dia tahu sopan santun apalagi sedang di rumah orang lain.


Nana diam diam menatap Sebastian meminta pengertian padanya.


Dan Sebastian mengangguk tanda paham, dia bahkan menggenggam sesaat tangan istrinya.


"Kau tahu, Lia? Nana memiliki kamar yang sangat besar. Balkon raksasa di lantai dua untuk bersantai dan ada kapal pesiar juga."


Lia berdehem. "Aku juga akan segera memiliki itu."


Sontak saja Rina tertawa menertawakan anaknya. Kini dia lebih berpihak pada Nana yang selalu memberinya uang.


"Aku tidak bercanda," ucap Lia kemudian menatap Nana. "Aku akan punya rumah besar, mobil bagus dan juga suami yang kaya."


Nana mengangguk dan berkata, "Amin."


"Itu bukan harapan, itu baru saja terjadi."


Kening Nana berkerut. "Baru saja terjadi? Di dalam mimpimu?"


🌹🌹🌹


"Astaga, Luke! Kau menyebalkan. Jadi kau akan bertunangan beberapa minggu lagi?"


"Kau berfikir aku ini penghibur?" tanya Sebastian dengan nada menyinggung.


"Kau tau apa maksudku, Bas."


"Aku akan ke sana. Aku akan mengajak istriku."


"Oke, ajak saja dia. Bagaimana dengan David?" tanya Luke di sana.


"Aku pikir dia akan datang. Tapi tidak tahu untuk Oma dan Lily. Oma sudah menua dan Lily sedang hamil."


"Aku paham. Hentikan pembicaraannya. Kau menggangguku. Sampai jumpa."


"Kau yang menelponku lebih du--" ucapan Sebastian terputus karena Luke memutuskan panggilan.


Sebastian hanya bisa menarik napas dalam dan meletakan kembali ponselnya.


"Siapa?" tanya Nana.


"Luke, kita harus ke Swiss, Sayang."

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Pesta pertunangannya."


"Tunangan? Aku pikir dia akan menikah langsung."


"Kau akan ikut bukan?" tanya Sebastian yang membuat kening Nana berkerut.


"Apa maskud, Mas?"


"Hah?" tanya Sebastian kembali.


"Aku ikut lah, masa enggak."


Sebastian tertawa bahagia. Dia memeluk istrinya yang sedang menyisir sambil duduk di bibir ranjang.


"Gak usah disisir, nanti juga berantakan."


"Berantakan ngapain?"


"Kayak yang gak paham aja," ucap Sebastian sambil menggoyangkan kasur.


Nana membalikan badan menatap suaminya dengan tatapan yang belum dilihat Sebastian sebelumnya. "Kenapa, Sayang? Mau pindah kamar? Yaudah ayo, gak papa belum pake tanaman juga."


"Bukan gitu, Mas."


"Mau sambil basah basahan?"


"Aku lagi merah."


"Hah? Mau lisptik merah?"


Nana berdecak. "Aku lagi datang bulan ih."


🌹🌹🌹


 


 


To be continue


 

__ADS_1


 


__ADS_2