Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Dunia lain


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Igeh emak juga di follow ya di @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian, jadi selamat membaca ya anak anak kesayangan emak.🌹


Sebastian menatap istrinya yang terlelap, dia mencium punggung telanjang yang membelakanginya itu. Sebastian tersenyum kecil melihat istrinya terlelap begitu damai. Dia terlihat sangat menikmati keindahan alam di sini. Sebastian senang, karena itu membuat Nana juga melayaninya dengan sepenuh hati dan penuh dengan kegembiraan.


Sebastian dengan penuh kasih sayang menyelimuti istrinya itu sebelum beranjak dari tempat tidur untuk melihat keluar.


Sebastian masih belum bisa lepas dari rokok, jadi dia merokok di beranda rumah sambil melihat gelapnya hutan. Hanya ada cahaya dari rumahnya, sepanjang mata memandang hanya ada langit warna biru tua dengan pepohonan yang begitu rindang.


Sambil merokok, Sebastian berdiri di ujung pagar pembatas. Menikmati angina malam yang lebih dingin dari tempat sebelumnya.


Penasaran dengan keberadaan ayahnya dan mantan kekasihnya, Sebastian menanyakan kabar itu kepada Hans.


Dan jawaban bahwa mereka masih ada di negaranya membuat Sebastian kesal, dia menghubungi ayahnya saat itu juga.


“Dad? Kenapa kau masih di sana? Kenapa tidak pulang?”


Arnold terkekeh di sana. “Kau hanya ingin menanyakan itu? Tidak ingin tahu keadaanku? Aku sedang sakit, Bas.”


“Maka lekaslah pulang ke negara asalmu.”


“Aku sekarang sedang berada di rumah sakit.”


“Dad, berhenti mengurusi diriku.”


“Ini bukan yang aku inginkan, Bas. Tenang saja, aku akan pulang begitu sembuh.”

__ADS_1


Sebastian berdecak kesal, sebelumnya Lucille yang sakit sehingga menahannya untuk tidak pulang ke negara asal. Kini Arnold sendiri yang sakit. Sebastian merasakan kalau ini adalah rencana Lucille yang menginginkan pernikahannya hancur.


“Lekaslah pulang,” ucap Sebastian menutup telponnya.


Sebenarnya dia ingin menolong Arnold dari kekejaman Lucille, kelicikan wanita itu yang pasti hanya menjadi parasite. Tapi di sisi lain, Sebastian juga membenci ayahnya yang menikah kembali dan melupakan ibunya begitu saja.


Karena tidak ingin Lucille bisa menjangkau istrinya, Sebastian menghubungi Hans.


“Hallo, Tuan? Anda butuh sesuatu?”


“Kirim seseorang.”


“Ke sana?”


“Tidak, untuk mengawasi Lucille. Buat mereka dekat sehingga aku bisa tahu apa rencananya.”


Sebastian kembali menutup telpon dan menghisap rokok, menghembuskan asapnya ke udara yang tipis.


Ketika keheningan melanda, terdengar suara, “Mas.”


Sebastian menengok dan mendapati istrinya yang sedang mengucek matanya layaknya anak kecil, dan dia hanya memakai kaos kebesaran membuat Sebastian gemas. Dia membuang rokoknya dan mendekat. 


“Sayang… kenapa kau bangun?”


Dan saat hendak dipeluk, Nana mencium aroma rokok, jadi dia mendorong suaminya.


“Bau rokok ih.”


“ehehehe, tadi abis satu kok. Sini peluk.”

__ADS_1


“Gak mau, bau rokok, Mas.”


“Kan Cuma satu.”


“Satu atau setengah sama aja ah.”


“Kamu bangun juga mau dipeluk aku kan?” tanya Sebastian dengan bibirnya yang mengerucut.


Nana berdehem, memang dia ingin dipeluk oleh suaminya karena merasa kedinginan, tapi bau rokok menyengat membuatnya enggan mendekat. Apalagi tadi dia membaca beberapa artikel yang menunjukan kalau perokok pasif itu lebih berbahaya.


“Nah kan mau dipeluk kan? Sini sayang, orang rokok Cuma satu kok. Aku gendong mau? Kita naik kasur lagi yuk.”


Nana kesal karena Sebastian terus saja merokok, dia ingin suaminya berhenti. “Udah jangan merokok lagi, Mas.”


“Iya, rasanya susah. Gimana kalau nanti gantinya hisap bibir kamu?” tanya Sebastian modus.


Awalnya Nana ragu menjawab iya, tapi Sebastian memang berhak atas dirinya dan Nana tidak ingin suaminya terus kecanduan. “Oke.”


“Asyik, sini peluk dong.”


“Gak mau kalau sekarang, Mas bau rokok.”


“Cuma satu.”


“Satu juga rokok. Mas pasti tau kalau perokok pasif lebih berbahaya, gak salah apa apa ikutan mati. Kalau Mas masih mau hisap rokok, jangan ajak ajak Nana kalau mau cepet cepet ke dunia lain.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2