Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Ancaman Mutlak


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹


Arnold memikirkan sesuatu, bagaimana Nana bercerita kalau Sebastian selalu pulang terlambat di waktu yang sama di sepanjang minggu.


"Aku merasa ada yang tidak beres," gumamnya kemudian menelpon sekretarus pribadinya.


Seorang pengacara yang siap kapan saja


Sambil menunggu telpon diangkat, jari Arnold menyentuh ujung meja dengan pelan.


"Hallo, Tuan?"


"Aku ingin kau menyelidiki alasan Sebastian pulang terlambat."


"Ya?"


"Aku rasa dia pergi ke suatu tempat," ucap Arnold mengatakan kecemasannya, dia khawatir jika menantunya yang sedang hamil itu dikecewakan. "Aku tidak ingin dia mengambil jalan yang salah."


"Saya paham, Tuan. Akan saya cari tahu."


"Gajimu akan aku tambahkan tiga kali lipat jika mengatasinya dengan cepat."


"Saya mengerti, Tuan."


Arnold mematikan telponnya, dia beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan kerjanya.


Kakinya melangkah menuju kamar tidur, namun sebuah suara mengintrupsinya untuk berhenti. Dia membuka kamar Michael.


"Kenapa kau belum tidur?" tanya Arnold melihat putranya masih bermain dengan lego.


"Tidak mengantuk."


"Kau memikirkan sesuatu?"


"No."

__ADS_1


"Katakan apa yang kau inginkan."


"Mike ingin ini," ucapnya menunjuk layar tablet.


Arnold melihatnya, bagaimana anak ini menunjuk gambar motor motor sport di sana.


"Kau ingin itu?"


"Sebastian punya kapal pesiar, aku akan punya motor sport. Jadi kami tidak akan bertengkar."


🌹🌹🌹


Nana mengusap surai lembut Sebastian, tidak dipungkiri kalau dirinya sangat merindukan pria itu. Pelukannya, ciumannya, genggaman tangannya, waktunya. 


"Kenapa menatapku?" tanya Sebastian yang merasa diperhatikan.


"Karena aku punya mata."


Sebastian hanya tertawa, dia kembali fokus pada makanannya. Dia memang lapar, tapi Nana lebih penting dari apa pun.


"Mas…."


"Jangan terlalu lelah bekerja."


"Tidak, Sayang."


"Mas demam."


"Sekarang sudah tidak," gumam Sebastian menempelkan tangan Nana di jidatnya. "Sudah hilang bukan? Makananmu adalah yang terbaik, Sayang."


"Awas saja jika kau melakukan hal macam macam, makanan itu bisa menjadi yang terburuk."


"Apa maksudnya?" guman Sebastian, dia menatap manik menenangkan istrinya dengan penuh tanya.


"Jika kau melakukan sesuatu di belakangku bersama Jenni, maka kau akan mendapatkan racun dalam makananmu, Mas."


"Uhuk! Uhuk!" jelas Sebastian tersedak mendengarnya, bagaimana bisa?


"Sayang…."

__ADS_1


"Maka dari itu jangan coba coba, kalau bisa ganti dia. Aku mudah cemburu, Mas. Aku tidak mau api cemburuku membakar dirimu juga."


"Dia keponakan Hans. Atau sepupunya ya?" gumam Sebastian lupa. "Aku jamin tidak akan terjadi apa apa."


Nana membuka mulutnya, yang mana membuat Sebastian mengerutkan keningnya. "Kenapa, Sayang?"


"Aku lapar, suapi aku."


Sebastian tersenyum, dengan telaten dia menyuapi Nana. Dia melihat wajah cantik Nana, kulit putih mulus, padahal dirinya tinggal di kampung.


"Sayang, apakah kau tidak pernah berpacaran sebelumnya?"


"Tidak ada waktu."


"Tapi banyak pria yang datang padamu, bukan?"


Nana mengangguk. "Ya, untuk menagih hutang Ayah."


"Sayang, bukan itu maksudnya. Maksudku pria yang datang karena menyukaimu."


"Banyak, tapi aku menolak. Mereka semua pria hidung belang."


Sebastian mengerutkan keningnya. Masih sambil menyuapi, dia kembali bertanya, "Lalu kenapa kau menerimaku?"


"Mas, kekayaan mereka tanggung, mereka tidak sekaya dirimu. Jadi kalaupun kau macam macam, akan aku kuras habis hartamu dan membawanya kabur."


Sebastian menelan ludahnya kasar.


"Kau tidak mau hal itu terjadi bukan, Mas?"


Sebastian menggeleng kuat. 


"Maka jangan macam macam di belakangku, apalagi dengan sekretaris barumu itu," ucap Nana memberikan tatapan nyalang.


"Tidak akan, Sayang."


🌹🌹🌹


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2