Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Rencana


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Sebastian benar benar tidak mengizinkan istrinya pulang dari rumah sakit sebelum dia benar benar bisa pulih dan bisa berjalan kembali. Sebab, Sebastian tahu kalau istrinya itu menolak memakai jasa pengasuh dan hanya ada Eve yang bisa membantu. Jadi, Sebastian memilih memaksa Nana tetap berada di rumah sakit, setidaknya dengan begitu ada perawat yang membantu Nana mengurus bayinya.


Selain itu, Eve tidak memiliki pengalaman dalam mengasuh bayi. Untuk mengusir kebosanannya, Nana selalu meminta Jenni datang untuk menemuinya dan mengajarinya tentang cara merawat bayi dengan baik dan benar.


“Maaf aku menanyakan ini, Nana,” ucap Jenni yang sedang memakaikan pakaian pada bayi Nana.


Keduanya sedang duduk di atas ranjang rumah sakit, hanya berempat dengan bayi. Eve duduk di ujung balkon sedang menghubungi keluarganya di sana.


“Tanyakan apa?” tanya Nana.


“Selama aku bekerja dengan suamimu, yang aku lihat kau tidak pernah ikut komunitas.”


“Komunitas apa?” tanya Nana.


“Komunitas para istri pengusaha, seperti acara amal, atau mungkin hobby yang kau miliki, dimana kau bisa berinteraksi dengan istri pengusaha lainnya.”


Nana tersenyum, dia mengusap pipi bayinya itu dengan penuh cinta. Bukan tanpa alasan dirinya tidak mengikuti berbagai kegiatan itu. Tentu saja banyak yang mengajak Nana bergabung ke dalam komunitas wanita wanita kaya itu, dimana saat berada di pesta perusahaan dan Nana harus ikut, dia bertemu dengan wanita pendamping dari pengusaha pengusaha itu.


Tidak jarang mereka menghubunginya untuk ikut berlibur bersama dan menjernihkan pikiran dari suami pengusaha mereka.


“Aku yakin kau memiliki alasan tidak ikut bukan. banyak yang ingin ikut pada komunitas mereka, dank au menolak setiap waktu.”


“Jenni, aku yakin kau tahu riwayat pendidikanku.”


Jenni mengangguk pelan. “Lalu?”


“Aku tidak ingin mempermalukan suamiku.”

__ADS_1


Yang mana jawaban itu membuat Jenni tertawa tidak percaya. “Oh ayolah, Nana. Aku tahu wawasanmu luas, kemarin saja kita berdebat tentang era revormasi.”


“Ya, bukan itu. Maksudku riwayat pendidikanku, aku tidak pernah memegang bangku sekolah. Apa kata orang lain jika mereka mengetahui kalau Sebastian serang pengusaha muda menikahi wanita seperti aku?”


Jenni mengerutkan keningnya, tatapannya focus pada Nana yang kini menggendong bayinya. “Kau bukan orang perasa, itu tidak akan membuatmu sakit hati.”


“Aku tidak pernah sakit hati jika mereka menjelek-jelekan aku, itu fakta. Tapi jika itu menyangkut Sebastian, itu masalahku. Lagipula aku suka berada di rumah, menghabiskan uangnya dan hanya tidur seharian.”


Jenni tertawa, dia membuka ponselnya yang berdering. “Aku harus menjemput Karina.”


“Biasanya juga tidak dijemput.”


“Ya, tapi dia ingin belajar bermain drum. Aku harus mengantarnya ke tempat less.”


“Oke, take care, Jenni.”


“Tentu.”


🌹🌹🌹🌹🌹


“Kau tidak memikirkan aku sebagai suamimu bukan, Sayang?”


“Bukan seperti itu, Mas,” ucap Nana yang menyingkab selimut kemudian berjalan pada suaminya yang membelakanginya. Nana sudah membaik, bagaimana tidak, dia sudah terlalu lama berada di sini.


Pelukan dari arah belakang tidak membuat Sebastian bergeming, dia masih marah. “Aku hanya mengkhawatirkanmu, Sayang. Takut kau lelah dan belum siap.”


“Tapi aku siap, aku rindu rumah. Aku rindu boneka pemberianmu, aku tidak betah berada di rumah sakit. Aku hendak memberitahumu tadi siang, tapi Hans bilang kau sedng rapat. Jadi apa yang harus aku lakukan? Maafkan aku.”


Sebastian memejamkan matanya begitu mendengar suara Nana yang bergetar, dia tahu dirinya tidak akan pernah bisa berpaling dari dunianya. Membuatnya membalikan badan, kemudian membiarkan Nana masuk ke dalam pelukannya.


Rasa kesalnya belum berkurang, apalagi Nana sudah berkemas seperti itu. Tapi itu juga tidak membuat kasih sayangnya hilang.


“Aku kesal, Sayang. Biarkan aku mengacuhkanmu sebentar ya.”

__ADS_1


Nana mengangguk. “Tapi jangan jauh jauh dari jangkauanku, Mas.”


“Tentu tidak, Sayang. Kau ingin pulang? Baiklah ayo pulang,” ucap Sebastian mencoba berlapang dada. Dia harus membiarkan Nana mencoba merawat anak mereka seorang diri tanpa bantuan pengasuh. “Tapi berjanjilah jika tidak berjalan lancar, atau tidak mengambil pengasuh membuatmu kelelahan, ikuti apa kata suamimu.”


“Iya, Mas.”


Sebastian melepaskan pelukannya, dia merangkup pipi Nana dan membiarkan perempuan itu menatapnya. Sebastian benar benar merindukan sosok di hadapannya ini. ada alasan lain dia tidak bisa membawa Nana pulang ke rumah, melihat ranjang yang biasa mereka gunakan sebagai medan perang membuat Sebastian tidak tahan.


“Dan berapa lama?”


“Apanya?”


“Aku bisa bertahan? Kapan aku bisa bermain di atas ranjang bersamamu lagi?”


“Astaga.”


“Aku merindukanmu, sungguh tersiksa jika harus terus bermain solo.”


“Mas, sadar. Kau sudah beranak satu.”


“Tapi aku tetap ingin bertempur, Sayang.”


Sampai suara tangisan mengalihkan. "Nahh..."


Sebastian menghela napasnya saat Nana meninggalkannya. "Bukankah Joy artinya bahagia? kenapa dia terus menangis?"


"Mas ingin bayimu terus tertawa?"


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


Baby Joy

__ADS_1



__ADS_2