Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Sisi Baik


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹


🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Masalah rambut tidak kunjung selesai, Joy terus saja menangis karena tampilannya menjadi jelek. Yang mana membuat Sebastian pusing sendiri mendengarnya, yang mana kini membuatnya membawa anak dan istrinya segera keluar dari rumah untuk jalan jalan di mall.


Harusnya mala mini dirinya beristirahat tenang, tapi karena anaknya terus saja menangisi rambut, Sebastian bisa apa. Hal pertama yang mereka datangi adalah salon, Joy ingin rambutnya terlihat cantik kembali dengan seorang professional.


Tapi yang namanya sudah terlanjur, mau bagaimana lagi. Seprofesional apapun tukang salon, tetap saja tidak akan merubah tampilan poni Joy yang pitak.


“Si gembul lagian ada ada saja,” gumam Sebastian yang menunggu, matanya menatap sang putri yang diselimuti pelindung. Bibirnya tetap mengerucut, membuat pipinya tumpah kemana mana. Si gendut emang.


“Mommy tunggu di sana ya sama Daddy,” ucap Nana yang dibalas anggukan oleh sang putri. Membuatnya melangkah mendekati sang suami. “Mas?”


“Hmm? Kenapa, Sayang? capek? Sini aku peluk,” ucap Sebastian merentangkan tangannya.


Yang dibalas kekehan oleh sang istri, dia duduk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Sebastian. “Anak kamu tuh, Mas.”


“Anak kita juga, kan kita yang buat.”


“Bulat amat dia, harusnya kita ikuti saran dokter buat diet.”


Sebastian menggeleng. “Nggak deh, aku gak mau liat si gembul nangis kejer sampe serak Cuma gara gara makanan, mana diamah suka demam kalau gak nemu makanan yang dia mau.”


Memang benar, Joy selalu demam jika tidak mendapatkan makanan apa yang diinginkannya. Namun, demam itu hanya berlaku untuk makanan saja.


“Lagian kata dokter ini masih porsi normal kok, gak ada organ lainnya yang terhambat gara gara tubuhnya yang gembrot.”


“Iya deh.”


“Nanti juga kalau udah gede mikir sendiri, masa tubuhnya mau segeda badak gitu.”


“Heh!” Nana memperingati, tidak terima anaknya dikata-katai.


Sebastian hanya tertawa. “Maaf, Sayang. nanti aku beliin tas baru ya? Katanya kamu lagi suka warna ijo tai kuda ya?”


Nana memutar bola matanya malas, tangannya masih setia melingkar di pinggang sang suami. “Besok kita ke rumah Daddy Arnold?” tanya Nana.


“Iya, kan si gembul mau ketemu si Aheng katanya. Bisa berabe kalau kita kibulin dia.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Berada di mall, Joy terus saja minta digendong enggan turun.


“Turun dong, Joy. Nanti tangan Daddy patah.”


“Halah lemah,” ucap bocah itu yang langsung mendapatkan pelototan dari sang Daddy. Joy yang menyadarinya itu hanya tersenyum manis dengan pipinya yang gembul. “Daddy kan kuat.”

__ADS_1


“Bisaan, mirip emaknya emang.”


Karena kini mereka sedang mengantri membeli ice cream yang diinginkan Joy. Sedangkan Nana? Dia pergi ke toko lain, dia bilang ada sesuatu yang harus dibelinya. Dan berakhirlah Sebastian bersama anak gembrotnya yang tidak mau turun.


“Dad, au pelampung,” ucap Joy yang kesal menunggu.


“Ice cream juga belum dapet.”


“Ice cleamnya lama.”


“Udah tau lama, kenapa mau yang ini?”


“Kan enak,” ucap Joy melotot. “Tapi au pelampung dulu, puna Joy meledak.”


“Kok bisa?” tanya Sebastian.


“Diboboin ama Joy, meledak melampungnya.”


“Pelampung buat renang, bukan buat diboboin. Gimana sih.”


“Kan uji ketahanan,” ucap bocah itu tidak mau kalah debat.


Sebastian hanya menggelengkan kepala, sudah biasa menghadapi istrinya, jadi tidak terlalu kaget mendapatkan sikap Joy yang seperti ini. “Jadi mau bagaimana? Ice cream dulu atau pelampung?”


“Ice cleam aja deh.”


“Tapi turun ya, Daddy pegel gendong kamu terus.”


Bukannya bahagia, Sebastian malah merasa sesak. Bayangkan saja tangan bocah kecil itu yang bantat mencekik lehernya.


Sementara itu di sisi lain, Nana sedang membeli testpack. Dia merasa akhir akhir ini dirinya sedikit aneh, ada beberapa perubahan di tubuhnya seperti saat dirinya mengandung Joy.


“Terima kasih,” ucap Nana menerima dua benda tersebut, dia menyembunyikannya di dalam tas supaya tidak memberikan harapan palsu pada sang suami.


“Loh mereka di mana ya?” Nana merogoh ponselnya dan menelpon Sebastian. “Mas dimana?”


“Lagi beli pelampung, aku share lock ya.”


“Oke.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Jadi mau yang mana?” tanya Sebastian untuk yang kesekian kalinya.


Joy tetap diam, bingung mau memilih yang mana. Warna abu abu bukanlah tipenya, tapi dia tau kalau pamannya menyukai warna itu. Sedangkan warna pink adalah warna kesukaannya, tapi paman Michael-nya tidak menyukai.


“Mau yang mana, Mbul?” tanya Nana yang kini mulai bosan dengan anaknya yang terdiam sejak tadi.


“Binun,” ucapnya menatap keduanya. “Dua duanya boleh?”

__ADS_1


“Gak boleh,” ucap Nana mendahului sang suami mengeluarkan suara. Nana mengajarkan pada anaknya tidak boleh serakah.


“Yang pink aja deh.”


Nana mengangguk. “Yang pink katanya, Mas.”


“Siap bungkus,” ucap Sebastian.


Sebenarnya dia memang bisa menyuruh orang membelikan benda benda seperti ini untuknya. Tapi itulah manfaat quality time bersama keluarga, menggambar kenangan dan menumbuhkan kasih sayang.


“Joy mau kemana?”


“Iyat ikan,” ucapnya mendekat pada kolam kaca yang ada di toko itu. Ada banyak ikan hias di sana.


Dan bukan kolam akuarium kecil, melainkan kolam besar bundar dengan air mancur di tengahnya. Nana mengawasi dengan matanya, dia masih harus memilih beberapa peralatan renang untuk Joy. Bayi besa itu selalu mengeluh jika masalah renang. Dia berkata capek sehingga sampai saat ini kemampuan berenangnya masih nol.


“Ada tambahan tidak?” tanya Sebastian.


Nana mengangguk. “Beli bola ya, Mas. biar dia kepancing mau belajar berenang lagi.”


“Iya,” ucap Sebastian.


Sementara itu di sisi lain Joy menatap ikan bulat yang menatap ke arahnya. “Apa?” ucap bocah itu dengan wajah ketusnya.


“Ek kok pelgi? Itut ke lumah yu sama Joy, nanti dikasih mam yang banyak,” ucap Joy pada ikan incarannya. Tangannya terangkat hendak mengambil ikan itu.


Sampai Joy kesal dan menceburkan diri ke dalam kolam.


BYUR!


Semua orang di sana melihat ke arah kolam. Kepanikan terpantri jelas di wajah mereka apalagi kedua orangtuanya.


“Joy!” teriak Nana yang ingat anaknya tidak bisa berenang.


Beberapa orang mengerumuni kolam, termasuk penjaga. Namun langkah mereka terhenti saat melihat seogok tubuh yang berada di permukaan air.


Mulut Nana terbuka. “K⸻kok ngambang?”


“Kayaknya kalena Joy kegendutan,” jawab bocah itu menatap langit langit toko. Tubuhnya terasa terombang ambing akibat gerakan air.


🌹🌹🌹🌹🌹


 


 


TO BE CONTINUE


 

__ADS_1


 


__ADS_2