Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Bujukan Nana


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


“Kemana Eve?” tanya Nana saat dia tidak melihat keberadaannya.


Dia masih memiliki suatu hal yang harus dipersiapkan.


“Dia sedang keluar menemui Nona Lia, Nyonya.”


“Lia?” tanya Nana heran. Selama beberapa hari terakhir ini, Lia selalu datang dan mengirim beberapa lalapan yang disukai Nana.


Dia juga mendengar dari ibu tirinya kalau Lia kini menjadi lebih baik pada mereka dan mau bekerja di warung nasi.


Saat Eve datang, Nana mendekat. “Apa itu?” tanya Nana.


“Ini sayuran dari Nona Lia.”


“Wah, apa dia benar benar berubah?” tanya Nana. “Dia datang sendirian?”


“Iya, Nyonya.”


“Kenapa tidak diajak masuk dulu?”


“Dia menolak karena harus kembali bekerja.”


“Apa kau memberi tahu kalau aku akan ke Swiss? Supaya dia berhenti mengirimiku lalapan ini.”


“Iya, Nyonya.”

__ADS_1


Nana menatap tanaman itu. “Sepertinya kita harus menanam ini, Eve. Supaya Lia tidak perlu membawakannya lagi.”


“Akan saya lakukan.”


“Dan lain kali paksa dia untuk masuk jika aku sudah kembali.”


“Sesuai keinginan anda, Nyonya.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hari ini mereka akan pergi ke Swiss, Nana menautkan jari jarinya kepada sang suami saat menuju bandara. Dia masih belum bisa bersahabat dengan pesawat terbang. Rasanya membuat Nana ingin mabuk, apalagi sekarang Nana sedang datang bulan. Kondisinya benar benar tidak sedang vit.


“Sayang, jangan khawatir. Aku aka nada di sampingmu, aku tidak akan pernah meningalkanmu.”


Nana menatap Sebastian, yang mana dibalas senyuman oleh suaminya.


Sebastian pikir sang istri akan mengeluarkan pujian untuknya, tapi dia malah berkata, “Mas mau ninggalin aku kemana? Kan di pesawat gak bisa kemana mana.”


Nana mengerucutkan bibirnya, dia bersandar pada sang suami. “Usapin kepala aku.”


Sebastian tersenyum dan dengan senang hati melakukannya, sesekali dia juga mencium puncak kepala Nana.


Mereka berangkat menggunakan jet pribadi. Hanya saja karena belum punya landasan sendiri, jadi Sebastian masih ikut di landasan umum. Berbeda dengan helipad, dia memilikinya di setiap rumah yang dimiliki.


“Sayang, aku ingin membuat landasan.”


“Di mana?”


“Di samping rumah kita, agar kita bisa mudah kemana mana.”


“Itu butuh tanah yang besar bukan?”

__ADS_1


Sebastian mengangguk. “Masih banyak lahan kosong, bagaimana menurutmu? Tapi itu sedikit memakan bagian danau.”


“Tapi aku suka danaunya, Mas.”


Sebastian pun terdiam, dia tidak ingin mengambil apa yang disukai oleh istrinya.


“Memangnya berapa pesawat yang Mas miliki?”


“Hanya empat, belum termasuk helicopter.”


“Nanti di rumah kita bakalan rame? Kayak di bandara sini banyak orang?”


Saat itulah Sebastian tertawa, dia tidak menyangka istrinya menanykan hal itu. “Tentu saja tidak, itu bandara pribadi kita. Hanya kita dan orang orang yang diizinkan oleh kita yang boleh masuk.”


Nana terdiam masih berfikir. “Tapi itu membuang buang uang, ke bandara umum juga tidak apa kan?”


“Tapi lebih mudah mempunyai bandara sendiri, Sayang.”


“Lalu bagaimana dengan sisa lahannya?”


“Kita akan membelinya, aku pikir itu murah. Hanya beberapa millyar saja.”


“Hanya untukmu itu adalah wah untuk orang lain, termasuk untukku. Kita baru saja memulai rumah tangga, jangan focus untuk membuat yang lain. Mari focus saja untuk membuat anak.”


Saat itulah Sebastian menelan ludahnya kasar. “Sayang, kamu udah selesai?”


“Udah, tapi nanti ya di Swiss. Biar made in Swiss.”


🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2