Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Detik detik


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Nana kini sedang bermain di rumah Jenni, sambil memperhatikan Michael yang sedang bermain dengan Karina. Keduanya mudah akrab, bersahabat bahkan saling berjanji untuk menjaga satu sama lain.


“Wuaaah, sepertinya Mike menyukai anakmu,” ucap Nana menerima kotak pudding dari Jenni. Akhir akhir ini nafsu makannya meningkat, membuat Nana memakan berbagai macam makanan yang membuatnya kenyang selagi layak. “Bagaimana kalau mereka berpacaran jika sudah dewasa?”


“Aku bukan orang kaku, membebaskan anakku dengan siapa saja. cinta bukan hanya tentang pria dan wanita, ingin melajang sepertiku juga tidak apa apa.”


Nana tidak mendengarkan, matanya sibuk menatap kedua anak yang bermain di halaman belakang. Nana menatap dari arah jendela dapur, tentu saja sambil merampok makanan yang telah disediakan oleh Jenni.


Sore hari yang menyenangkan untuk dirinya, Jenni yang memiliki hobby masak itu selalu memiliki banyak camilan di kulkasnya.


Bukannya Jenni sayang dengan semua makanannya, tapi melihat Nana yang terus saja makan bahkan mulutnya penuh. Dan kakinya juga membengkak. “Kau baik baik saja bukan? kau makan sangat banyak.”


“Apwha makshudmhu?” tanya Nana dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Kupikir kau terlalu banyak makan, Nana. Tubuhmu membengkak.”


Nana menelan makanannya, dia menatap Jenni dengan tajam. Sembari tangannya membuka camilan lain. “Kau tidak bodoh bukan? aku berbadan dua jadi wajah makanku banyak, aku punya dua mulut di sini dan di sini.”


Jenni memutar bola matanya malas, dia sudah terbiasa dengan kata kata tajam milik Nana. Sudah sedekat itu mereka sampai Jenni yang mengajari Nana untuk memperlacar bahasa Inggrisnya.


Suara mobil membuat Nana mengalihkan pandangannya, itu adalah suara mobil jemputan Michael.


“Mike! Mereka menjemputmu, ayo pulang.”


Mike menghela napasnya dalam, dia memang bisa datang hanya akhir pekan saja. mengingat jarak antara Virginia dan Washington D.C itu jauh, terlebih Micahel juga memiliki banyak kegiatan di rumah.


“Sudah jangan cemberut, kau bisa datang minggu depan lagi.”


“Apa minggu depan baby nya akan lahir?” tanya Michael.


“Kita lihat saja nanti,” ucap Nana mengantar Michael ke halaman rumah, diikuti Karina yang menggenggam tangan Michael. “Apa kalian berpacaran?”

__ADS_1


“Tidak, kami bersahabat. Bye,” ucap Karina kemudian memberikan salaman ala pria dewasa.


Membuat mulut Nana menganga, dimana bocah bocah itu melihat salam yang seperti itu?


“Aunty, mulutmu akan kemasukan lalat.”


“Wow, ibu dan anak sama saja,” gumam Nana.


🌹🌹🌹🌹🌹


“Sayang…., aku pulang,” ucap Sebastian yang baru saja masuk, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruang televise.


PLAK!


“Aw!” teriak Sebastian saat merasakan pantatnya di pukul, dia menatap istrinya yang berjalan ke arah dapur. “Seharusnya aku yang melakukan itu.”


“Berendam akan meringankan stressmu, Mas. pergilah ke mandi, lalu kita makan malam.”


“Aku masih sangat lelah.”


Sebastian mengangguk, dia menghela napas dalam. “Aku bekerja untuk mempersiapkan kelahiran putri kita yang tinggal beberapa hari lagi sesuai perkiraan dokter. Aku tidak ingin dia kekurangan.”


Nana menatap suaminya tidak percaya.


“Aku tidak ingin anakku kekurangan nantinya.”


Kekurangan? Yang benar saja, Sebastian baru saja memasok kapal pesiar untuk pemerintah Rusia yang dipergunakan untuk tempat wisata mereka. Dan itu tidak main main jumlahnya, mereka bahkan memesan sampai 367 unit untuk menyebarkannya ke seluruh tempat yang berpotensi untuk menarik wisatawan.


“Mas, jika kau mati karena kelelahan bekerja, siapa yang akan menikmati hartamu?”


“Um…., orang yang hidup? Kalian?”


“Dan dimana dirimu saat aku menikmati harta harta itu?”


“Terkubur?”


Nana mengangguk sambil berjalan ke arah suaminya, tangan Nana menggenggam pisau dengan tatapannya yang tajam. “Mas akan berada di dalam peti, dikubur dalam tanah, tidak bernafas dan sendirian. Bahkan jika uang itu dibawa tidak akan berguna. Dan Mas tau apa yang akan aku lakukan dengan semua uang itu? Aku akan membeli mall, membeli lapangan golf, membeli suami baru mungkin.”

__ADS_1


“Apa?!”


“Lekaslah mandi dengan tenang dan kita akan makan malam.”


“O⸻oke sayang.”


Sebastian berjalan takut ke kamarnya, bukan takut Nana akan menyakitinya, tapi takut kata kata istrinya itu terkabul,


Di kamar mandi, Nana sudah menyiapkan air dalam bathub, dengan beberapa bunga aroma therapy dan juga lilin yang menyala. Membuat Sebastian tersenyum. “Betapa pengertiannya dia.”


Dia mandi dengan tenang, memakai baju yang sudah disiapkan kemudian berjalan ke ruang makan untuk makan malam.


“Sayang?” saat mata Sebastian tidak melihat istrinya.


“M⸻mas….”


Suara Nana yang menahan sakit membuat Sebastian berlari seketika ke dapur, di sana dia melihat Nana yang memegang perutnya menahan sakit. 


“Air ketubanku pecah, Mas…. aku mau melahirkan.”


“Astaga! Astaga!” sebastian panic. “Aku akan memanggil ambulan.”


“Kau punya banyak mobil! Gendong aku cepat!”


“Ohhhh baiklah baiklah.”


Sebastian menggendong Nana seketika, saat itu Nana tidak bisa menahan rasa sakitnya dan melampiaskannya pada Sebastian yang menggendongnya.


“Sayang sakit! Kenapa kau menjambakku?!”


“Mas jangan mau enaknya saja! rasakan rasa sakit ini!”


“Jambakanmu membuatku mengadah! Bagaimana aku bisa berjalan sayang?! Bagaima jika aku tersandung?!”


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2