
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Eve tersenyum melihat majikannya yang memilih milih lingerie yang bervariasi. Karena Eve sendiri tahu kenapa Nana menghindari Sebastian, majikannya marah karena Tuannya itu tidak memiliki waktu yang banyak untuknya.
“Bagaimana dengan yang ini, Nyonya? Ini akan sangat bagus dengan kulit putih anda.”
Nana menengok dan melihat lingerie berwarna abu abu yang membuatnya menggeleng.Â
“Aku lebih suka yang ini.”
Pelayan itu terdiam seperti berfikir dengan pilihan Nana. “Warna orange ini akan membuat kulit anda terlihat pucat, Nyonya.”
Nana berdecak. “Sebenarnya warna tidak penting, pada akhirnya akan dirobek juga bukan?”
“Ah… itu…,” ucapan pelayan itu tergagap gagap.
Membuat Eve segera mendekat dan berkata, “Tolong hitung semuanya, kami akan membawa apa yang Nyonya sentuh.”
“Ba… baik.”
Nana yang malas berbelanja itu menyudahinya, dan mengikuti pelayan toko itu untuk menghitung semuanya.
“Ah, Nyonya, mungkin anda tertarik dengan model yang seperti ini?”
“Tidak, sudah itu saja.”
“Apakah anda sudah melihat di bagian sana? Ada sesuatu yang mungkin anda sukai.”
“Jika aku menyukainya, sudah aku ambil tanpa meminta izinmu,” ucap Nana dengan malas.
__ADS_1
Eve kembali berkata, “Hitung saja semuanya.”
Membuat pelayan toko itu mengangguk gugup. “Hanya ini saja?”
Nana kembali menatap malas. “Hanya ini? aku hampir membeli seperempatnya,” ucap Nana, kemudian dia menatap Eve. “Aku akan keluar lebih dulu.”
“Baik, Nyonya.”
Nana dengan santainya kembali ke toko cokelat. “Apakah sudah selesai?”
“Belum, Nyonya. Maaf agak lama.”
“Tidak apa, berikan aku milkshake cokelat.”
“Baik.”
Sambil menunggu, Nana meminum milkshake di sana dengan kakinya yang dia goyang goyangkan saat duduk.
Dia merasakan minuman yang sangat enak.
“Terima kasih, Nyonya.”
Eve menyusul Nana ke dalam toko cokelat untuk memastikan majikannya baik baik saja. “Nyonya.”
“Kau mau milkshake, Eve?”
“Tidak, Nyonya. Apa anda masih kesal?”
“Kesal? Karena apa?” tanya Nana heran.
“Tidak, Nyonya.”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Sebastian pulang lebih cepat untuk menemui istrinya, dia benar benar sudah merindukannya. Apalagi selangkangannya terasa sangat sakit ketika melihat foto foto Nana yang sangat seksi.
Membuatnya tidak tahan dan terkadang lupa daratan, hal itu juga yang membuat Sebastian selalu membeli sabun.
Untuk membujuk Nana, Sebastian memilih untuk membeli karangan bunga sebelum pulang.
“Dia akan menyukainya,” gumam Sebastian menghirup aroma bunga mawar. “Apa lagi yang dia suka ya? Ah, cokelat.”
Kemudian Sebastian beralih ke toko cokelat untuk membeli beberapa kotak cokelat terbaik.
Dengan kecepatan diatas rata rata, maka Sebastian bisa sampai di sana dengan waktu yang singkat.
“Eve, dimana istriku?”
“Nyonya ada di kamarnya, Tuan.”
Sebastian bergegas, dia berdehem sebelumnya mempersiapkan raut wajah tampannya sebelum masuk membuka pintu.
“Sayaaaang,” ucapnya membuka pintu. “Aku membelikanmu cokelat dan bunga. ini untuk……,” ucapan Sebastian tertahan tatkala dia melihat Nana yang memakai pakaian seksi sedang makan cokelat.
“Ah, kebetulan aku juga sedang makan cokelat. Terima kasih,” ucap Nana mengambilnya dari tangan Sebastian dan meletakannya di meja begitu saja.
Sebastian menelan ludahnya kasar. “Sayang, aku sangat merindukanmu.”
“Benarkah? Kau tampak sibuk dengan pekerjaanmu.”
“Tapi pekerjaanku juga untuk membelikanmu perhiasan, Sayang.”
“Aku tidak butuh perhiasan,” ucap Nana.
Sebastian gugup, dia merasa suasana menjadi sangat canggung. “Lalu apa yang kau butuhkan, Sayang?”
Nana menatap suaminya, dia tidak habis pikir bagaimana suaminya itu tetap bertahan di sana. Membuat Nana sendiri yang frustasi. “Oke, Mas. Jangan jadi pengecut,” ucap Nana yang mendekat kemudian menarik tengkuk Sebastian untuk diberikan ciuman.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE