Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Menemani


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak🌹


🌹igeh emak juga difollow di : @redlily123🌹


🌹jangan lupa kasih emak vote ya, selamat membaca🌹


Nana mengetahui apa yang terjadi dengan Lily, dia ikut berduka. Dan Nana ingin segera ke sana untuk melihat anak anak.


Rencananya, Nana ingin pergi besok dan berada seharian di sana.


Tahu suaminya selalu sibuk, Nana ingin meminta suaminya untuk mengosongkan jadwalnya besok.


Nana mencoba menghubungi suaminya, tapi telponnya tidak diangkat.


Yang mana membuat Nana memilih menelpon pada Hans untuk menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya.


"Hallo, Nyonya? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Dimana Sebastian? Aku menghubunginya, tapi dia tidak mengangkat telponnya. Apa dia sedang rapat?"


"Tidak, Nyonya. Kami sedang berada di luar."


Nana mengerutkan keningnya, ini jam bekerja. "Sedang apa?"


"Tuan sedang berada di dalam toko."


"Untuk apa?" Tanya Nana.


"Tuan hendak ke kediaman Tuan David untuk melihat anak anak."


Itu membuat Nana terdiam. "Apa dia tahu tentang Lily yang keguguran?"


"Iya, Nyonya."


"Dan dia akan menjenguk anak anak?"


"Benar, Nyonya."


"Dia tahu?"


"Ya."


"Suruh dia pulang dan jemput aku, aku akan ikut ke sana."

__ADS_1


Sebelum Hans kembali mengeluarkan kalimatnya, Nana lebih dulu menutup telponnya. Dia tidak percaya kalau Sebastian akan ke sana seorang diri.


Membuat Nana menghela napas menahan kesal. Beruntungnya Oma memberitahunya sehingga dia mendapatkan informasi ini. Jika saja tidak, mungkin suaminya akan ke sana tanpa membertahunya.


Beberapa menit Nana menunggu, terdengar suara mobil masuk. Itu Sebastian. Langkahnya saat memasuki rumah juga terdengar tergesa gesa.


"Sayang?"


Nana yang kesal itu berbalik dengan kursi putarnya. "Kenapa?"


"Kamu marah?"


"Mas kenapa gak bilang mau ke sana?"


"Aku gak mau buat kamu khawatir, apalagi kamu lagi gak mood gitu. Maaf."


Nana menyipitkan matanya. "Terus Mas mu ke sana sendirian?"


"Niat aku begitu."


Nana terdiam ingin penjelasan lain. 


"Kamu tau kenapa Lily bisa sakit?"


Nana mengangguk.


"Bukan," ucap Nana. "Itu kecelakaan, Mas."


"Aku merasa bersalah. Aku juga khwatir anak anak mungkin akan kesal denganku, jadi aku tidak akan mengajakmu."


Nana mengerutkan keningnya. "Susah dan senang bersama. Ingat? Udah ayo ke sana, jangan berantem mulu."


🌹🌹🌹


Seharian ini mereka bermain bersama anak anak, dan keadaan sudah mulai membaik. Anak anak kembali ceria berkat Nana dan Sebastian. Mereka pulang malam hari setelah anak anak tidur.


"Aku mau mandi dulu ya, Mas," ucap Nana saat mereka sampai di kamar.


Sebastian mengangguk. "Aku males mandi."


"Cuci kaki sama tangan dulu, terus ganti baju sebelum tiduran di ranjang."


"Siap ibu boss," ucap Sebastian patuh.

__ADS_1


Setelah melakukannya, Sebastian berbaring di ranjang.


Berbeda dengan Nana yang memilih mandi. Di sana Nana berendam sendirian memikirkan dirinya yang belum juga hamil.


Ada rasa marah, tapi Nana mencoba untuk mengendalikannya. Ini bukan salah siapa pun.


Saat Nana keluar kamar mandi, dia tidak mendapati suaminya.


"Mas?" Panggil Nana.


Tidak ada jawaban sama sekali.


Yang membuat Nana memilih turun mencari sang suami. 


Hingga dia akhirnya mendapatinya sedang minum kopi sendirian di lantai bawah. Semua lampu sudah padam, karena ini memang sudah larut.


"Mas?"


"Eh, Sayang. Mau ngopi, jadi gak ngantuk."


"Mas mikirin apa?"


"Gak, mikirin kamu."


"Karena aku gak hamil hamil?"


Sebastian mengerutkan keningnya. "Apa yang kamu bicarakan?"


"Maaf ya, Mas."


Kini Sebastian paham kenapa istrinya murung. Padahal itu bukan salahnya. Terlepas dari itu, Sebastian memang ingin menghabiskan waktu berdua dulu dengan sang istri sebelum memiliki anak.


"Sayang, aku ingin kita menghabiskan dulu waktu berdua. Jangan tergesa gesa, apalagi menyalahkan diri sendiri. Aku tidak suka kau berfikiran seperti itu."


Nana tersenyum, dia mulai membuat kopi untuk dirinya.


"Untuk siapa itu?"


"Untuk aku," jawab Nana.


"Tapi kamu gak suka kopi."


"Aku lebih gak suka kalau Mas sendirian."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


To be Continue


__ADS_2