Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Kadaluarsa


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Terus follow juga igeh emak di : @RedLIly123.🌹


🌹Emak sayang kalian, dan selamat membaca.🌹


Dan benar saja, Sebastian pulang dengan membawa seekor anjing yang dia temukan. Sebastian pulang agak terlambat, sehingga memaksa Nana untuk memesan makanan lewat Eve.


Tepat saat Sebastian pulang, Nana baru saja selesai makan.


“Sayang, maaf aku terlambat. Hans tadi sudah memberitahu bukan?”


Nana mengangguk dan menjawab, “Sudah.” Dengan singkat.


Yang mana diartikan oleh Sebastian kalau istrinya sedang marah, padahal tidak. Nana hanya terlalu kenyang makan.


“Sayang, lihat apa yang aku bawa.”


Nana menengok sebentar lalu mengangguk, kemudian dia focus lagi pada cucian piring di depannya.


“Ini anj🌹ng,” ucap Sebastian.


Nana kembali mengangguk. “Ya, aku tidak melihat kucing.”


Sebastian mengerucutkan bibirnya, padahal dirinya sudah mendandani hewan ini yang membuatnya lebih lama di luar. Sebastian pergi ke dokter hewan untuk membersihkannya.


“Bagaimana kalau kita pelihara?”


Nana kembali mengangguk, dia sungguh tidak sanggup bicara karena perutnya terlalu kenyang. Ada suatu makanan yang membuatnya ketagihan hingga lupa kalau dirinya makan banyak.


Karena tidak ingin istrinya marah lebih lama, Sebastian mengeluarkan anjingnya dimana di depan villa sana ada Hans.


Kemudian dia berjalan mendekati sang istri kemudian memeluknya dari belakang.

__ADS_1


“Mana dagingnya, Mas? Mas udah makan?”


“Udah tadi di jalan.”


“Jadi mau bikin daging asap?”


“Aku sebenernya mau ngajak kamu jalan jalan kaki sambil bawa anjing, terus kan nanti ada sunset, jadinya kita romantic banget.”


Nana yang sudah selesai mencuci piring itu membalikan badan, dimana dirinya harus menelan ludahnya pelan saat berhadapan dengan tubuh Sebastian yang kekar dan mengukungnya.


“Kalau Mas mau kenapa enggak?”


“Tapikan itunya masih sakit ‘kan?”


“Lumayan sih.”


“Nana sayang, suamimu ini ingin sekali mengajakmu berkeliling tempat tempat baru dan menghabiskan waktu dijalanan, tapi….”


Nana mendengarkan sesaat, sampai dia paham. Dan tanpa ragu, Nana menempelkan salah satu tangannya di pipi suaminya. “Mas, inget tujuan awal kita. Aku gak masalah gak liat tempat tempat baru kok. Asalkan pulang dapet hasil, aku gak masalah.”


“Terima kasih, Sayang. Aku akan lebih giat.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Kali ini Nana sedang menatap matahari terbenam ditemani anjing yang tertidur di sampingnya, ditemani pantai dan juga suaminya yang tengah membuat sesuatu.


“Ini Sayang,” ucap Sebastian memberikan minuman pada sang istri kemudian duduk di sampingnya.


“Apa ini, Mas?”


“Minum aja.”


Nana yang akhir akhir ini memperhatikan apa yang dia minum itu bertanya, “Ini bukan minuman perangsang ‘kan, Mas?”

__ADS_1


Seketika Sebastian yang sedang minum itu tersedak, dia menggeleng kuat. “Bukan, Sayang. Memangnya kenapa?”


“Ya enggak, kalau Mas lagi mau tinggal bilang aja. Kalau pakai minuman dari Oma gak enak.”


“Gak enak gimana?” tanya Sebastian menggoda.


Dia pikir istrinya akan menjawab dengan malu malu, tapi sepertinya wajah datar dan sikap savage Nana sudah tidak bisa diobati lagi. Dia menjawab dengan datar dan santai, “Jadinya aku pengen cepet cepet selesai, kalau enggak kan bisa nyantai.”


Sebastian berdehem mendapatkan jawaban seperti itu. Dia menyimpan gelasnya di meja, “Kalau gitu aku mandi dulu ya.”


Nana juga menanggapinya dengan santai, “Mau itu?”


“Apa?”


“Bikin baby?”


“Iya,” jawab Sebastian mencoba santai.


Nana mengangguk, dan membiarkan suaminya ke kamar mereka. Nana yang sudah selesai meminum bagiannya segera naik ke atas untuk memberskan kamar.


Dan saat sedang membereskan, Nana menemukan sebuah bungkus rokok yang masih penuh. 


Saat sedang memperhatikan bungkus rokok itu, Sebastian keluar dari kamar mandi. Dia mengerutkan keningnya melihat istrinya yang begitu memperhatikan rokok itu dengan mata tajamnya.


“Apa yang kau lihat, Sayang? Tanggal kadaluarsa rokoknya?” tanya Sebastian bercanda agar istrinya tidak marah kalau dirinya masih memiliki rokok dan sembunyi sembunyi menggunakannya.


Nana hanya diam tetap memperhatikan.


“Sayang, apa menurutmu rokok memiliki tanggal kadaluarsa?”


Dan saat itulah Nana menjawab, “Tidak, tapi iya untuk orang yang mengkonsumsinya.”


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2