
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE BIAR SEMANGAT YAAKK🌹
🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹
🌹EMAK SAYANG KALIAN, JADI SELAMAT MEMBACA🌹
Lucille menatap suaminya yang terbaring lemah di rumah sakit. "Lihat, kau begitu lemah. Kita tidak bisa kembali sekarang juga, kau harus sembuh dahulu."
Arnold mendesah pelan. "Tinggalah di sini sebentar."
"Kau tahu kalau Michael tidak bisa ditinggalkan dengan pengasuh."
"Ajak dia ke sini."
"Akan aku coba, kau tahu dia tidak suka rumah sakit," ucap Lucille dengan halus supaya Arnolnd sadar kalau yang mengurusnya adalah dirinya dan Michael. "Lihat, kau hanya punya aku dan Michael."
"Maka temani aku di sini, suruh anak itu datang dan temani daddy nya."
Lucille menghela napas, sebenarnya dia malas berlama lama di rumah sakit apalagi menunggu Arnold yang sudah tua. Lucille juga tidak ingin berbagai penyakit membuat anaknya terkontaminasi. Meskipun ini ruangan VVIP, Lucille akan tetap menjaga anaknya sampai memegang perusahaan milik Arnold.
"Baik, akan aku bujuk dia. Aku pergi dulu."
Lucille mendekat kemudian mengecup pipi suaminya.
"Aku pulang dulu."
"Hati hati di jalan."
Setelah Lucille keluar, dia buru buru pergi ke kamar mandi untuk meludah. Dia merasa jijik dengan hal itu.
"Astaga, aku membenci pria tua itu. Aku harus dapatkan hartanya sebelum Sebastian membuat istrinya hamil."
Setelah berkumur, Lucille keluar. Dalam langkahnya, dia mendapat telpon dari mantan pacarnya yang sekaligus juga ayah kandung dari Michael.
Pria itu bernama Steve.
Karena merasa sudah bekerja sama, Lucille mengangkatnya.
"Apa maumu?" Tanya Lucille.
__ADS_1
"Aku ada di dekat mobilmu, datanglah ke basement."
"Sialll," umpat Lucille segera mematikan telpon.
Dia berjalan cepat menuju ke tempat mobilnya berada. "Kenapa kau datang menemuiku? Sudah kubilang cukup bertukar kabar lewat telpon! Sialaan!"
"Hei, tenanglah," ucap Steve. "Aku sudah memberimu jalan dengan membuat pria itu sakit."
"Kau meninggalkanku saat aku mengandung! Aku tidak bisa tenang!"
Steve malah tertawa, dia kemudian memeluk erat Lucille.
Membuat wanita itu menangis. "Aku menurutimu, mulai dari mendekati Sebastian, lalu ayahnya. Aku menyesal tidak bertahan dengan Sebastian."
"Hei ayolah, kau tidak menyukainya."
"Sekarang aku menyukainya, dia anak dari pria kaya."
"Tapi tidak ada yang bisa kau lakukan, Sayang. Jadikan anak kita pewaris perusahaan Arnold, lalu hidup kita aman."
Lucille menarik napas dalam. "Bagaimana kau tahu aku ada di sini?"
"Apa?! Kenapa kau tidak berhati hati!"
🌹🌹🌹🌹
Lucille pulang dengan terburu buru, dia khawatir pengasuh itu akan melakukan hal yang macam macam.
Begitu dia membuka pintu, tatapannya beredar mencari keberadaan sang pengasuh.
"Nyonya? Anda sudah pulang?"
"Shittt!" Umpatnya merasa kaget. "Dimana Michael?"
"Tuan Muda sudah tidur, Nyonya."
Lucille berdehem. "Apa ada titipan untukku?"
"Ya, seorang pria memberikan ini pada anda."
__ADS_1
"Oke, dan kau akan bersamaku selama 24 jam. Kau akan mengasuh."
Pengasuh itu terkejut, tapi dia menyembunyikannya dengan baik. "Baik, Nyonya Besar."
"Dan kau tidak boleh mencampuri urusanku dalam hal apa pun itu, Oke?"
"Baik, Nyonya."
"Oke, sekarang bersiaplah. Aku akan membawa Michael pergi ke rumah sakit."
"Baik, Nyonya."
Pengasuh itu pikir Lucille akan pergi meninggalkannya sendiri, tapi kenyataannya dia terus mengikuti bahkan saat dirinya beres beres.
Membuat pengasuh itu bertanya, "Anda butuh sesuatu, Nyonya?"
"Awas saja jika kau macam macam denganku."
Kemudian saat Lucille masuk ke kamar dan cukup lama, baru dia berani menghubungi Hans.
Karena sebelumnya dia tidak bekerja 24 jam, kini jadi berubah.
"Hallo, Tuan? Saya minta maaf tidak bisa mengirimkan sample rambutnya, karena Nyonya Lucille mengawasi."
"Dia akan pergi lagi?"
"Ya, dia hendak membawa Tuan Muda Michael ke rumah sakit."
"Dan kau bisa melepas sample nya di sana."
"Oh baiklah, Tuan."
"Kau bodoh atau apa? Astaga."
Dan saat itu. "Dengan siapa kau bicara, Huh?" Tanya Lucille.
🌹🌹🌹🌹
To Be Continue
__ADS_1