
🌹🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹🌹
🌹🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹🌹
🌹🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹🌹
Michael menggesek matanya, dia bangun dan melangkah menuju ke kaamar ayahnya. Mereka memiliki pintu yang terhubung sehingga Michael bisa dengan mudah masuk ke sana tanpa harus keluar kamar.
“Daddy?”
Tidak ada jawaban, bahkan tidak ada dikamar mandi.
Yang mana membuat Michael berjalan keluar kama menuju tempat kerja Arnold. sayangnya dia tidak ada di sana lagi.
“Daddy?!” teriakannya membuat pengasuhnya bangun dan bergegas menuju ke arahnya.
“Tuan Muda, kenapa anda bangun?”
“Dimana Daddy?”
“Tuan Besar sedang keluar, lebih baik anda tidur lagi. Mari saya antarkan.”
Michael menggeleng. “Daddy bilang dia tidak memiliki pekerjaan di malam lagi. Apa yang terjadi?”
“Saya tidak tahu, Tuan Muda. Mungkin pekerjaan mendadak.”
“Apakah Nana melahirkan?”
Keterdiaman pengasuhnya membuat Michael bertepuk tangan girang, dia berlari ke arah dapur seketika.
“Tuan Muda, apa yang anda lakukan?”
“Yeayyyy! Nana mempunyai Baby, aku akan jadi Uncle,” ucap Micahel membuka kulkas dan memawa semua makanan kesukaannya. Dimulai dari Jelly, madu, cokelat dan susu.
“Apa yang akan anda lakukan, Tuan?”
“Ini untuk Nana dan bayinya. Aku ingin ke sana ayo.”
“Tapi ini sudah larut, Tuan. Tuan Arnold tidak akan mengizinkan.”
“Ayooooo….,” ucap Michael menarik tangan pengasuhnya itu. “Sebastian menanti kedatangan Uncle dari baby nya.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
“Sayang, bertahanlah… sedikit lagi,” ucap Sebastian mati-matian menahan isak tangisnya saat melihat wanita yang dicintainya tengah berjuang melahirkan putri pertama mereka.
“Tenaganya ditambah, Nyonya… tarik napasnya dalam,” ucap dokter wanita yang kini sedang menangani persalinan Nana.
Nana menarik napasnya dalam, dia menderita karena rasa sakit itu. Genggaman tangannya pada Sebastian seolah tidak memberikan efek apa apa, dia merasa nyawanya ada di ujung tenggorokan, entah berapa lama dia akan bertahan dengan rasa sakit ini. seluruh tubuhnya merasakan efeknya, jantungnya berdetak kencang. Tidak ada yang normal dalam dirinya.
Hanya satu yang diingat Nana, dia tidak boleh sampai meneteskan air matanya. Berteriak boleh, menjerit boleh, tapi meneteskan air mata akan berdampak buruk pada suaminya. Sebisa mungkin dia bertahan, terus mendorong agar malaikat yang dinantinya menghirup udara dunia.
“Ayo, Nyonya… jangan biarkan bayi anda terlalu lama di sana. Dorong, jangan seperti ini…”
“Sayang…, andai aku bisa menggantikanmu…. Sayangku….”
Telinga Nana masih mendengar suara suaminya, dia kembali mengeluarkan tenaganya. Yang mana membuat Sebastian menciumi keningnya, kemudian berambat pada pipi istrinya.
Lama lama membuat Nana risih. “Mas… jangan menciumiku, membuatku risih.”
“Oh, maafkan aku sayang, andai aku lebih mengerti dirimu. Pegang tangan saja bagaimana?"
“Iya itu saja.”
“Nyonya, dorong,” ucap sang dokter memberi peringatan agar sepasang suami istri itu malah saling bicara dan melupakan anak mereka yang masih terjepit.
Sampai akhirnya suara tangisan melengking terdengar, membuat semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum bahagia bercampur haru. Begitu pula dengan Arnold, Eve, Hans dan Jenni yang ada di luar ruangan, mereka saling memeluk karena bahagia.
“Akhirnya…. Selamat Tuan Arnold, anda menjadi seorang Kakek,” ucap Jenni.
“Terima kasih.”
“Selamat, Tuan Besar.”
“Selamat Tuan Arnold, akhirnya ada cucu perempuan yang bisa anda belikan jepit.”
Arnold jelas tersenyum bahagia, dia menunggu saat saat untuk masuk ke dalam. Tapi sepertinya mereka sudah memindahkan Nana ke ruangan di sebelahnya setelah dibersihkan. Ya, ruangan kamar inap dan ruang persalinan memiliki pintu yang terhubung di dalam.
“Apa mereka sudah membersihkannya? Apa kita bisa masuk?” tanya Arnold tidak sabaran.
“Sabar, Tuan. Jika sudah mereka akan memanggil kita,” jawab Eve.
__ADS_1
Jenni tersenyum lebar saat mendengar tangisan kembali terdengar. “Wah…, akhirnya Karina memiliki teman bermain. Mereka pasti akan sangat akrab.”
“Aku berencana memindahkan Nana dan Sebastian ke mansion yang lebih bagus dan besar, tapi Nana menolak.”
“Jangan khawatir, Tuan Arnold, dia memiliki tetangga yang baik di perumahan kecil itu. Nana nyaman di sana.”
“Ya, apapun yang membuatnya nyaman.”
Arnold saling menautkan tangannya sendiri tidak sabar untuk masuk ke dalam, sampai akhirnya salah satu perawat keluar.
“Suster, bisakah kami masuk?”
“Silahkan, Tuan. Tapi kami membatasinya hanya satu orang pengunjung.”
Arnold menatap mereka bertiga yang mengangguk. “Kita akan bergantian.”
Kalimat itu membuat Arnold melangkah masuk ke ruangan rawat inap, dan di sana dia melihat Nana sedang menggendong bayinya dan menempelkannya di dadanya kemudian dibalut selimut. Hanya kepala bayi itu yang terlihat.
“Cucuku yang cantik…. Astaga, dia sangat mirip denganmu Nana. Benar benar wajah Asia.”
Nana tersenyum.
“Dimana Sebastian?”
“Ah… dia masuk ke kamar mandi setelah melihat banyak darah, Dad. Bisa kau memeriksanya?”
“Oke,” ucap Arnold melangkah ke kamar mandi yang masih ada di ruangan itu.
TOK.
TOK.
“Bas, kau didalam?”
Tidak ada jawaban dari dalam. “Bas?”
Yang mana membuat Arnold memutar knop pintu, ternyata tidak dikunci. Dan saat dibuka, Arnold mendapati Sebastian sedang tergeletak di bawah showet dengan kepala bersandar pada box kaca pembatas.
“Astaga, apa yang terjadi dengan anakku yang gagah? Apa kepribadian juga bisa berevolusi?”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE