Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Ketahuan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE, BINTANG LIMA, ULASAN BAGUS SAMA AJAK YANG LAIN BACA INI JUGA YA🌹


🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹


Malam ini, Nana akan kembali pulang. Sebelum kembali ke istana megahnya, Nana bicara dulu dari hati ke hati dengan ayahnya.


Hanya berdua, sedangkan Sebastian di luar sedang menikmati angin setelah makan.


"Kamu kalau ngomong harus sopan sama suami kamu, Na."


"Emang Nana kurang sopan gimana, Yah?"


"Ya ngomongnya jangan ceplas ceplos gitu lah."


"Iya, nanti beli saringan."


Ayahnya malah tertawa dan mengusap kepala putrinya. "Kamu beruntung, suami kamu sayang banget sama kamu. Dia kayaknya gak bisa hidup tanpa kamu."


Nana tersenyum manis. "Ayah jangan ngomongin suami Nana terus, nanti kuping dia berdengung."


"Dia bener bener baik kan sama kamu?"


"Bukan baik lagi, kaya dia, Yah. Tajir melintir. Makannya ayah jangan sakit, gak ada yang perlu dikhawatirin. Duit banyak, ayah mau apa aja Nana turutin."


"Ayah masih merasa bersalah sama kamu," ucap ayah Nana dengan air mata yang mulai keluar. "Kamu nikah karena ayah, sama pria yang gak kamu cintai bahkan gak kamu kenal."


"Ayah kenapa sih masih bahas masa lalu kalau yang sekarang akhirnya udah bahagia? Dia tajir loh. Gak nyesel Nana, biar Nana bodoh juga kalau punga uang, semua orang mendadak baik."

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain, Sebastian sedang memandang sawah di depannya. Dia memikirkan apa yang terjadi jika sang istri mengetahui kalau dirinya membelinya dari sang paman dengan berbagai perjanjian yang menguntungkannya.


Jika jujur, Sebastian yakin Nana hanya akan diam dan mengabaikannya. Sebastian benar benar tidak bisa tidur sehari saja tanpa Nana.


Sedang bingung memikirkan hal itu, tiba tiba Lia mendekat.


"Kang Mas lagi ngapain?"


Mendengar suaranya saja dari belakang membuat Sebastian merinding. Dia menelan ludahnya kasar sebelum berbalik dan tersenyum tipis.


"Perlu saya temani?"


"Tidak perlu."


"Masa sendirian sih, nanti ada yang nyulik gimana?" tanya Lia dengan wajahnya yang menggoda.


Membuat Sebastian merasa ketakutan, apalagi ada eye shadow berwarna hijau tua di sana. "Mana ada yang nyulik."


Dan saat itulah Nana datang dan melihat kakak tirinya yang mencoba menggoda suaminya. "Mana ada orang yang mau nyulik, badannya aja segede gaban."


"Eh, Sayang," ucap Sebastian berjalan ke arah Nana dengan cepat. "Pulang yuk."


🌹🌹🌹


Dalam sepanjang perjalanan, Nana lebih banyak diam. Dia juga memikirkan bagaimana pamannya menjualnya pada Sebastian.


Dan bagaimana pria itu juga membelinya.


Saat sedang menyetir, Sebastian perlahan lahan menatap istrinya yang melamun.

__ADS_1


"Ngelamunin apa, Sayang?"


Nana diam tidak menjawab.


"Lagi ngelamun?"


"Hah?"


"Mikirin apa hayooo," ucap Sebastian menggoda sambil menyentuh paha istrinya dan merambat masuk ke dalam rok.


"Mas?"


"Iya, Sayang? Nanti ya di rumah."


Tatapan Nana terpaku pada tangan suaminya yang mengelus ngelus pahanya. Dia tidak masalah dengan ini, hanya saja ini bukan waktu yang tepat. "Mas kalau mau mati, mati sendiri. Jangan bawa bawa aku, biarin aku jadi janda."


Saat itulah Sebastian menarik tangannya dengan segera. "Kenapa sih, Yank? Kok bad mood gitu?"


Nana terdiam dan kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Sayang?"


"Hm?"


"Mikirin apa?"


"Mikirin kamu yang beli aku ke paman aku."


"Hah?" Sebastian merasa dirinya tersetrum aliran listrik, dia menegang.

__ADS_1


🌹🌹🌹


To be Continue


__ADS_2