
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
“Joy dedek bayinya mau perempuan atau laki laki?” tanya sang kakek pada cucunya yang sedang menggambar, tatapannya focus pada buku, yang mana membuat pipinya bergelantungan begitu lucu. “Joy, dengar tidak Kakek bilang apa?”
“Dengal ih, Joy ada kuping,” ucap anak berusia tiga tahun itu tidak terima.
Arnold hanya menghela napasnya dalam, cucunya ini benar benar membuatnya ingin menggigit pipinya itu. “Mau perempuan atau laki laki?”
“Aki aki aja deh.”
“Loh, kenapa?”
“Bial Joy yang tantik.”
“Gak mau ada saingan.”
“Iya, anti Uncle Mike bial main cama Joy aja.”
Arnold mengerutkan keningnya. “Joy suka sama Uncle Mike?”
“Cuka, Joy au pacing pacangan cama Uncle.”
“Pacang pacangan gimana?”
“Kayak Daddy loh cama Mommy, kok Takek kudet cih.” Joy sinis dengan tatapan tidak teralihkan dari buku gambarnya.
Sampai Arnold kesal dan menciumi pipi sang cucu.
“Takek na diem napa. Kan Joy halus gambal kata bu guluna.”
“Nanti saja, Kakek rindu pada Joy. Memangnya Joy tidak. Sini berbaring dekat Kakek.”
“Nda au, au gambal aja. Bial nanti bisa Mam telus bobo.”
“Emam telus yang dipikirin,” ucap sang Kakek sinis. Dia berguling lagi dan memeluk cucunya yang sedang duduk di atas karpet dari belakang. Tubuh gembulnya membuat Arnold benar benar gemas, dia tidak tahan dan ingin membawa Joy ke rumahnya untuk dijadikan mainannya.
__ADS_1
“Takekna diem dong.”
“Sinis amat, nanti gak dapet Uncle Mike loh.”
“Ih, Takek mah jahat.” Joy seketika membalikan badan, dengan crayon di tangannya yang dia remas kuat. “Dangan gitu, jewek kata Daddy.”
“Joy, jangan suka sama Uncle-mu lah. Yang lain ‘kan banyak, emang Joy gak punye temen cowok buat jadi pacing-pacangan?”
“Ada….,” ucapnya pelan.
“Kok sedih?”
“Tapi meleka cuka ledek Jot kalena pelutna bulet gini.” Sang bocah mengusap perutnya yang terasa begitu keras, ada raut kesedihan di sana.
“Mereka suka jailin Joy?”
“Nda…. Cuma bilang Joy ndut.”
Yang mana membuat Arnold menghela napasnya, dia mencium puncak kepala cucunya sebelum melangkah keluar dari kamar itu dan menemui sang menantu yang sedang menyiapkan makan malam.
“Daddy akan makan malam di sini ‘kan?”
“Iya. Na, Daddy mau bertanya sesuatu yang serius,” ucap Arnold duduk di salah satu kursi.
“Tentang Joy, apa dia sering mendapatkan perlakuan buruk di sekolah?”
“Maksudnya?”
“Daddy tidak mau cucu satu-satunya diperlakukan tidak menyenangkan. Joy bilang dia tidak memiliki teman pria karena mereka suka menjahili Joy dan mengatakan dia gendut.”
Nana menarik napasnya dalam dan membalikan badan menatap sang mertua.
“Jadi bener ya? Mbulnya Kakek suka dikerjain?”
“Malah mereka gitu karena si Mbul suka seenak jidat ngambil makanan mereka, Kakek. Joy pernah tuh bilang mau bawain makan siang temennya dari kantin, tapi di perjalanan dia tergiur dan akhirnya memakannya sendiri.”
“What….? Lalu mereka yang menjahili?”
“Sebenarnya tidak jahil, mereka gemas dengan Joy dan selalu ingin mengusap pipinya dan memencet hidungnya. Biasanya Joy membiarkan mereka melakukannya, dengan ganti makanan yang akan dia terima.”
__ADS_1
“Oh Tuhanku.” Arnold tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Haruskan aku membelikan pabrik cokelat untuk bocah itu?”
🌹🌹🌹🌹🌹
Sebastian telah pulang, dia kaget dengan sosok ayahnya yang berada di sana sedang berusaha menangkap si gembul yang berlarian. Dan Arnold yang memakai pakaian badut itu membuat Sebastian bergidik ngeri. “Apa dia sehat?” gumam Sebastian.
Matanya mengedar mencari keberadaan sang istri. Sampai dia mendapatinya. “Sayang, aku pulang.”
“Ya, aku melihatnya.”
Sebastian tersedak ludahnya sendiri dengan jawaban begitu.
“Mandilah dulu, aku sudah siapkan makan malam. Nanti kita makan bersama, Daddy juga.”
“Sejak kapan dia di sini?”
“Tadi siang.”
“Apa dia akan menginap?”
Nana yang sedang mengupas buah-buahan itu terdiam sejenak sampai akhirnya menggeleng. “Tidak kurasa, Daddy bilang dia harus ke yayasan. Jadi kemungkinan tidak akan menginap.”
Sebastian mengangguk-anggukan kepalanya sebelum melangkah mendekati sang istri, kemudian tanpa seizinnya dia memeluk Nana dari belakang dan mencium tengkuknya berulang-ulang.
“Jangan lakukan ini, ada Joy dan ayahmu.”
“Hanya sebentar,” ucap Sebastian tetap menyeruakan kepalanya di perpotongan leher sang istri. “Aku merindukanmu.”
“Aku tidak.”
Sebastian tertawa. “Awas saja jika nanti mendesah.”
“Mas, ccepat mandi. Kasihan mereka menunggu untuk makan malam.”
“Oh lihatlah si Mbul yang sudah makan banyak, dia pasti masih merasa kenyang.”
“Mas.” Nana mulai risih saat tangan sang suami merayap dan mengusap pelan perutnya.
Sebastian menggelitik perut sang istri dan dengan lancangnya mulai merambat naik. Sampai akhirnya….. “Ih! Daddy ndak tau malu ya! Kok gepeng gepeng mimina Mommy! Joy ada udah ndak dali taun lalu. Malu ndak, Daddy? Nakal loh nakal, anti beliin Joy pudding ya? Awas talau ndak. Joy duwu kalau mau pegang mimina Mommy juga ndak dikasih emam. Jadi cekalang Daddy yang kacih Joy emam!” anak itu melotot sambil menunjuk-nunjuk sang Daddy. Tatapannya menggebu-gebu, sementara otaknya berputar memikirkan…. ‘Pudding? Apa agi ya? Tokelat? Eh, cucu deh.’
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE