
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA JANGAN LUPA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BUAT BACA NOVEL RECEH INI YA.🌹
Sebastian keluar dari ruangan di salah satu bar itu, sebuah ruangan yang sengaja dia sewa untuk berbicara dengan calon koleganya. Begitu keluar, dia memperlihatkan wajah sombongnya, “Kita mendapatkannya,” ucap Sebastian memberikan dokumen itu pada Jenni.
“Waw, mengesankan.”
“Terima kasih, Jenni.”
“Ya, dan anda harus segera menemui ibuku untuk kembali melanjutkan pengobatan.”
“Ah…., hari ini aku harus pergi ke pesta adikku.”
“Maka anda harus pulang lebih awal.”
Sebastian mengangguk. “Akan aku usahakan.”
“Dan anda mendapatkan telpon dari Nyonya Nana.”
Seketika Sebastian menghentikan langkahnya yang akan keluar dari tempat tersebut, dia membalikan badannya. “Jangan bilang kau mengangkatnya.”
“Maaf, aku tidak sengaja menggesernya, Tuan.”
“Shiit,” umpat Sebastian segera menuju mobilnya, tidak lupa sebelum dia menyalakan mesinnya, dia berkata pada Jenni. “Kau boleh datang terlambat ke kentor hari ini.”
__ADS_1
“Terima kasih, Tuan.”
Sebastian segera membelah jalanan kembali, sesekali menatap jam yang sudah menunjukan pukul empat dini hari. Sebastian tidak menghubungi kembali istrinya karena takut dia sudah tidur.
Namun, dugaannya salah. Nana menunggunya dengan setia di ruangan tamu di lantai pertama.
“Sayang, kenapa kau di sini?” tanya Sebastian dengan santai. “Jangan menungguku, bukankah Eve memberitahumu kalau aku keluar untuk bekerja?”
“Bekerja di malam hari? Tidak, dini hari?” tanya Nana yang masih menyilangkan tangannya di dada, matanya menatap tajam sang suami, dan hatinya terasa sakit berdenyut.
Fikiran Nana terbang kemana mana, mengira kalau Sebastian itu bermain api di belakangnya.
Berbeda dengan Sebastian yang bicara santai, dia tidak tahu isi otak istrinya yang berfikiran hal tersebut. Dia hanya bekerja sebagaimana biasanya. “Ya, calon kolegaku sulit ditemukan, aku juga harus membujuknya ekstra untuk mendapatkan kepercayaannya.”
Saat Sebastian hendak menyentuh Nana, perempuan tersebut berdiri dan berjalan lebih dulu menuju kamar.
🌹🌹🌹🌹🌹
“Mas?”
“Sayang, kau sudah bangun?” tanya Sebastian mendekat ke arah ranjang kemudian mengusap kepala istrinya penuh dengan kasih sayang. “Tidurlah, kau baru memejamkan mata beberapa jam yang lalu.”
“Kenapa tidak membangunkanku untuk bersiap?”
“Kau terlelap sangat dalam, aku tidak ingin mengganggumu, dan anak kita,” ucap Sebastian memberikan ciuman di perut buncit Nana. “Aku akan ke kantor.”
“Bukankah kita akan ke rumah ayahmu? Pesta Mike?”
__ADS_1
“Ya, kau bisa pergi.”
“Apa maksudnya aku bisa pergi?” tanya Nana mendudukan dirinya, matanya tidak lepas dari Sebastian. “Kita akan pergi.”
“Ya.. um….,” ucapan Sebastian tergagap gagap, dia harus kembali menjalani pengobatannya malam ini. “Aku tidak bisa pergi, ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan, Sayang.”
Yang mana kalimat itu dikira Nana sebagai kebohongan semata. Nana berfikir kalau suaminya…., memiliki sosok yang lain di belakangnya, dan itu adalah sekretarisnya.
“Tidak, aku mau kau ikut. Ayo ke sana.”
“Sayang, aku bisa mengantarmu ke sana, tapi aku har⸻”
“Jangan mengantarku, kau juga akan ke sana dan di sana bersamaku.”
Sebastian menghela napasnya dalam. “Tidak bisa, malam aku sudah harus kembali ke sini. Kau tahu perjalanan ke sana membutuhkan waktu hampir empat jam.”
Nana menahan air matanya, yang mana itu membuat Sebastian sedikit panic. Melihat wanita yang sangat dia cintai meneteskan air mata adalah sesuatu yang terlarang untuk dirinya sendiri.
“Sayang…”
“Ikut, aku ingin Mas ikut.”
“Baiklah,” ucap Sebastian pada akhirnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1